Aliran sesat tak pernah berhenti berkembang. Saking banyaknya diperkirakan kini ada sekitar 250 aliran sesat di Indonesia. Di Maluku sendiri, khususnya di kota Ambon sejak aliran-aliran sempalan berkembang tidak banyak yang menggubrisnya diantaranya dikarenakan strategi dakwah aliran menyimpang ini dibilang cukup rapi, bahkan sudah merasuk dalam dunia kampus. atau bahkan masyarakat Ambon yang serba cuek bebek, karena kurang intensya kajian2 ilmiah yang mencerahkan khususnya bagaimana memberi pengertian tentang berbagai aliran dan paham keagamaan yang kini tumbuh subur berkembang di bumi SIWALIMA ini.
Sejak santernya kasus aliran Jama’ah LIMANSARA yang distempel ‘sesat’ oleh MUI Kab. Maluku Tengah di kota Masohi beberapa tahun lalu, tidak banyak aliran yang muncul di permukaan yang menjadi bahan diskusi. terakhir hanya aliran Salamullah (LIa Aminudin), Al-Qiyadah Al-Islamiyah (Ahmad Musadeq), NII-Az-Zaitun, Ahmadiyah (JAI), LDDI, dan sederetan aliran sesat lain yang difatwakan MUI pusat, itupun tidakj banyak pengaruhnya terhadap aktivitas keberagamaan masyarakat Muslim Ambon.
Namun akhir-akhir ini kehidupan kebergamaan kita seakan terusik lagi manakala muncul aliran sempalan gaya baru yang sebenarnya sudah lama bercokol di Indonesia, namun dengan gaya baru kini masuk dan merasuki generasi muda muslim, kalangan mahasiswa dan para pelajar di Ambon. Misi dakwah aliran yang terkenal dengan sebutan KOMAR (Komunitas Millah Ibrahim) ini, bahkan di awal tahun ini sudah saking santernya pemahaman ‘aneh’ KOMAR ini di lingkungan kampus IAIN Ambon.
simak saja, singkat cerita, kampus hijau IAIN Ambon yang banyak mencetak sarjana muslim pun tidak luput dari misi dakwah aliran-aliran ini. Bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini, sejak tulisan ini saya posting (19 Januari 2011), menurut pengakuan salah satu pengikut aliran sesat yang belakangan diketahui mahasiswa IAIN yang sedang duduk di semester tiga dengan inisial (apik), sudah puluhan mahasiswa yang mengikuti gerak dakwah dan ajaran mereka. Dan nama dari aliran dan ajaran baru ini terkenal dengan nama KOMAR (Komunitas Millah Ibrahim).
Langkah beberapa mahasiswa IAIN Ambon lainnya yang hendak menggelar debat terbuka yang direncanakan pada tanggal 17 Januari 2011 dengan komunitas ini pun ‘batal’ dilaksanakanan dikarenakan menurut beberapa Dosen IAIN Ambon yang dimintai pendapatnya, mengatakan bahwa tidak perlu membuka ruang dialog dengan mereka, toh nantinya mereka akan mendapat angin segar dari dialog tersebut, bahkan malah aliran tersebut akan merasa diakui eksistensinya di kalangan Mahasiswa IAIN Ambon. Bahkan ada yang berkelakar bahwa tidak perlu berdiskusi, tapi langsung saja dieksekusi…suatu langkah yang tidak tepat juga menurut saya.
Sayapun tergerak hati untuk melacak akar aliran ini dengan bertanya pada ‘ustadz google’ tentang keberadaan aliran Millah Ibrahim ini, dan sungguh di luar dugaan, bahwa aliran ini bukan baru di Indonesia, namun baru dirasakan kemunculannya di lingkungan kampus IAIN Ambon.
Berbagai literatur dan referensi menjelaskan bahwa kuat dugaan aliran Millah Ibrahim atau KOMAR ini, adalah sempalan dari NII Az Zaitun, (KW 9) sebagaimana penjelasan berbagai literatur yang sementara saya temukan di Internet. Namun kepastiannya masih harus dibuktikan kebenarannya.
Berikut beberapa data dan Fakta akan aliran ‘pemikiran aneh’ ini.
Di Aceh sebagaimana ajaran ini ditemukan pun menurut Kawan-kwan Modus Aceh mengungkapkan bahwa simpul dari ajaran Milata Abraham sulit terlacak asal- usulnya, hal ini karena umumnya pengikut aliran ini memilih bungkam atau tutup mulut ketika ditanyakan informasi tentang aliran Milata Abraham ini. Setidaknya begitulah kasan yang terungkap ketika media Modus mencoba mengorek informasi dari Muakhir yang mengaku ketua Milata Abraham Kabupaten Bireuen, ”Saya tidak tahu pusat Milata Abraham, saya belajar aliran tersebut di Jakarta, mungkin saja asalnya dari sana,” jelasnya tak pasti.
Untuk mengetahui apa itu Milata Abraham, mari kita lihat arti dari kata tersebut:
Milata Abraham biasa orang nasrani menyebutnya atau umat Islam yang berpedoman dengan Al-Qur’an menyebutnya Milah Abraham, memang sangat kabur, hampir tidak ada informasi tentang keberadaan kelompok ini.
Ajaran Milata Abraham ini memang sangat menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya, menurut pengakuan dari para pengikutnya mereka berkeyakinan penuh bahwa ajarannya Muhammad menyambung kepada Yesus, ajarannya Yesus menyambung kepada Musa, karena mereka adalah anak-anak Abraham.
Menurut pengikut Milata Abraham mereka tidak mau mencari perbedaan di antara ketiga komunitas besar dunia hari ini (yahudi, nasrani, dan Islam), tetapi mereka hendak mempersatukan mereka di bawah isme Allah, Tu(h)an Allah Abraham, Raja dan penguasa semesta alam, sehingga teranglah dunia pada saatnya nanti.
Oleh sebab itu mereka menganjurkan pengikutnya untuk selalu berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita abdi (taati) kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai TUAN selain Allah.
Abraham sendiri atau Ibrahim di kalangan Yahudi Abraham adalah sosok yang terpuji dan dimuliakan, karena baginya dia adalah bapak atau nenek moyang bangsa Israel, bapak para nabi dan orang yang termasyur di bangsanya yaitu Israel. Dalam kalangan Nashrani disebut juga bapak para nabi dan nenek moyang Yesus. Dalam kalangan Islam juga merupakan sosok yang dipuji dan dijadikan suri tauladan yang baik karena dia termasuk orang yang hanif.
Lantas bagaimana dengan aliran yang menamakan dirinya al-Zaitun? Dari penelusuran MODUS ACEH antara kedua aliran ini memang tidak ada ikatan atau hubungan apa-apa, tapi menjadi sedikit menarik dan menimbulkan tanda-tanya besar adalah kenapa orang-orang pengikut Milata Abraham yang ditangkap massa di Kabupaten Bireuen dalam beberapa malam ini umumnya adalah mantan pengikut al-Zaitun, dan umumnya adalah mantan murid Tgk. Harun seorang yang telah dinyatakan sesat oleh ulama di Kabupaten Bireuen.
Konon kabarnya, para pengikut al-Zaytun menunaikan haji ke Indramayu, sehingga ajaran atau aliran ini dianggap sesat dan berbahaya bahkan sejumlah negara tetangga telah mengambil sikap yang tegas terhadap pesantren Al-Zaytun Haurgeulis Indramayu Jawa Barat. Alim-ulama negara jiran Malaysia misalnya mereka menyatakan pondok pesantren yang konon termegah se-Asia Tenggara itu berbahaya.
Bahkan pemerintah Malaysia sudah menarik semua santrinya dari MAZ. “Istilah mereka adalah sudah meng-i’tiraf Al-Zaytun karena dianggap berbahaya. Kalau ada alumni MAZ di Malaysia alumni itu tidak diakui ijazahnya” kata K.H. Ma’ruf Amin Ketua Tim Peneliti mahad Al-Zaytun Majelis Ulama Undonesia.
Hal itu bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia dalam menangani kasus MAZ pemerintah dalam hal ini aparat berwenang terkesan cuek alias acuh tak acuh. Lihat saja sejumlah laporan dari masyarakat tidak ditanggapi. Bukti-bukti dan saksi-saksi termasuk dari mantan pentolan dan korban Al-Zaytun juga tidak digubris. Sikap MUI setali tiga uang alias sami mawon. Tengok saja Pimpinan Harian MUI terkesan lelet dan ogah-ogahan saat merespon hasil penelitian Tim Peneliti MAZ MUI Tim bentukan MUI sendiri. Berbulan-bulan hasil Tim tersebut mandeg di MUI alias tidak disosialisasikan ke masyarakat. Ada apa?
Padahal Tim peneliti yang terdiri dari tiga belas orang ini kerjanya terbilang tidak mudah. Lihat saja untuk menelusuri dan melacak berbagai informasi tentang MAZ Tim melakukan kerja keras selama empat bulan. Kajian pustaka dan dokumentasi dilakukan dengan mengambil semua sumber yang dapat memberikan informasi komprehensif tentang sejarah latar belakang berdirinya MAZ sistem pendidikan MAZ dan organisasi NII KW IX.
Penelitian lapangan dilakukan dengan terjun langsung ke pondok pesantren Al-Zaytun sambil melakukan observasi yang terkait dengan penelitian. Hasil ini masih harus ditambah dengan melakukan pelacakan penelusuran serta mendatangi sumber informasi seperti para korban orang tua korban mantan aktivis simpatisan NII KW IX. Tak hanya itu Tim juga melakukan wawancara mendalam dengan sejumlah sumber baik yang pro maupun yang kontra terhadap MAZ. Sejumlah sumber yang diwawancara Tim antara lain Forum Ulama Umat Islam Indonesia Tim Investigasi Aliran Sesat Forum Masyarakat Korban NII KW IX Solidaritas Umat Islam untuk Korban NII-Al-Zaytun Abu Toto mantan Kabakin Z.A. Maulani Tim Litbang Departemen Agama Badan Intelejen Mabes Polri para santri mudarris pegawai Al-Zaytun serta sumber-sumber lainnya yang mengetahui MAZ dan NII KW IX.
Melihat fenomena begitu merebaknya ajaran sesat di Indonesia yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal seperti halnya ajaran Ahmadiah beberapa waktu lalu, maka perlu kiranya ketegasan sikap pemerintah dalam menghempang laju aliran-aliran aneh ini supaya masyarakat tidak bertambah resah. Kita lihat saja action pemerintah.***
Kesimpulan dan Rekomendasi Tim MUI Kesimpulan tersebut antara lain
1. Ditemukan indikasi kuat adanya relasi antara ma’had Al-Zaytun dengan organisasi NII KW IX. Hubungan tersebut bersifat historis finansial dan kepemimpinan. Hubungan historis kelahiran MAZ memiliki hubungan historis dengan organisasi NII KW IX.
2. Hubungan finansial adanya aliran dana dari anggota dan aparat teritorial NII KW IX yang menjadi sumber dana signifikan bagi kelahiran dan perkembangan MAZ.
3. Hubungan kepemimpinan kepemimpinan di MAZ terkait dengan kepemimpinan di organisasi NII KW IX terutama pada figur AS Panji Gumilang dan sebagai pengurus yayasan.
4. Terdapat penyimpangan paham dan ajaran Islam yang dipraktikkan organisasi NII KW IX. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi antara lain dalam hal mobilisasi dana yang mengatasnamanakan ajaran Islam yang diselewengkan penafsiran ayat-ayat Alquran yang menyimpang dan mengafirkan kelompok di luar organisasi mereka.
5. Ditemukan adanya indikasi penyimpangan paham keagamaan dalam masalah zakat fitrah dan kurban yang diterapkan pimpinan MAZ sebagaimana dimuat dalam majalah Al-Zaytun.
6. Persoalan Al-Zaytun terletak pada aspek kepemimpinan yang kontroversial yang terkait dengan organisasi NII KW IX.
7. Ada indikasi keterkaitan sebagian koordinator wilayah yang bertugas sebagai tempat rekrutmen santri MAZ dengan organisasi NII KW IX. Berdasarkan kesimpulan di atas Tim MUI merekomendasikan beberapa hal kepada Pimpinan Harian MUI
8. Memanggil pimpinan MAZ utk dimintai klarifikasi atas temuan-temuan yang didapat dari envestigasi Tim Peneliti MAZ MUI.
9. Dikarenakan persoalan mendasar MAZ terletak pada kepemimpinannya diharapkan Pimpinan Harian MUI dapat mengambil inisiatif dan langkah-langkah konkret utk membenahi masalah kepemimpinan di MAZ.
10. Pimpinan Harian MUI agar mengambil keputusan yang sangat bijak dan arif menyelamatkan pondok pesantren Al-Zaytun dengan berdasarkan pada prinsip kemaslahatan umat
Disadur dari berbagai sumber ….