Ulama Serabutan; Ulama Multiprofesi dalam Sistem Pendidikan Islam di Abad Pertengahan
Oleh : Ode Abdurrachman,SH.I.,M.Pd.I [1]
Abstrak
Ulama tidak saja dituntut untuk menguasai ilmu keagamaan juga ilmu-ilmu terapan secara mendalam atau profesional sehingga mampu memberikan solusi cerdas terhadap permasalahan yang dihadapi ummat, sehingga peran ulama tidak saja menguasai kompetensi keulamaannya namun secara spesifik, harus menguasai ilmu dan kemampuan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni sebagai kreativitas lain agar mampu menjawab tantangan zaman, bahkan harus mampu mempraktekan keilmuwannya di tengah masyarakat. Dari seorang tokoh spiritual keagamaan, kemudian nyambi (baca: sambil) menjadi cendikiawan, politisi, ekonom, dan birokrat bahkan praktisi. Atau peran lebih praktsi mejadi ilmuwan, pengacara, pedagang, atau tokoh pemerintah dan berbagai aktivitas lainnya. Aktivitas multiprofesi ini dikenal dalam istilah Jawa Serabutan. Aktivitas Serabutan ini tentunya harus didukung juga dengan sisi keilmuan yang berbanding lurus dengan aktivitas kesehariannya. Meski demikian, faktor-faktor inilah yang kemudian terkadang menjadi bumerang terhadap peran aktif ulama itu sendiri karena dianggap tidak seimbang dan bergeser dari keulamaannya sehingga terkesan memihak pada satu peran tertentu di tengah masyarakat dan menjadi bertentangan dengan tujuan ulama sebagai tokoh spiritual yang mampu mencerahkan ummat.
Keyword : Ulama Serabutan, mutliprofesi, sistem pendidikan Islam, abad pertengahan
[1] Dosen Pendidikan Agama Islam di FKIP Universitas Pattimura, Alumni PascaSarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, e-mail: odeabdurrachman@yahoo.com, blogsite : www.pakode.wordpress.com
























