<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ode Abdurrachman Blogs</title>
	<atom:link href="http://pakode.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pakode.wordpress.com</link>
	<description>Teaching, Learning and Researching Blogs</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 05:52:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pakode.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/c287d4b201a0f59bc83fcf1c00e5cc91?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ode Abdurrachman Blogs</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pakode.wordpress.com/osd.xml" title="Ode Abdurrachman Blogs" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pakode.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jaga dia salalu !</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2012/01/19/jaga-dia-salalu/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2012/01/19/jaga-dia-salalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 05:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Liric song… By : pakode Selama ini dia, tak pernah ragu Terima beban mu tanpa malu Memikul tubuh mu tanpa tahu Apa pun maksudmu&#8230; Lalau kanapa, se biking Dia bagitu Ale tanam benih, lalu se tar tunggu Tega saja ale buang dia bagitu Di mana se pung rasa sayang itu Dulu Ale su bilang mangaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=377&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Liric song…</em></p>
<p>By : pakode<br />
Selama ini dia,  tak pernah ragu<br />
Terima beban mu tanpa malu<br />
Memikul tubuh mu tanpa tahu<br />
Apa pun maksudmu&#8230;</p>
<p>Lalau kanapa, se biking Dia bagitu<br />
Ale tanam benih, lalu se tar tunggu<br />
Tega saja ale buang dia bagitu<br />
Di mana se pung rasa sayang itu</p>
<p>Dulu Ale su bilang mangaku<br />
Mau jaga dia deng sepenuh kalbu<br />
Skarang baru katong tahu<br />
Ale Laeng di hati, laeng di mulu<br />
Reff..<br />
	Ale macam orang di tanjong itu<br />
	Di bilang seng di bilang, sama saja bagitu<br />
	Kanapa ale pung kalakuang seng bagus itu<br />
	Robah akang jua kanapa musti malu..</p>
<p>Jaga dia ini, se pung jantong hati, kanapa mesti malu,<br />
Inga sumpah janjimu, par moyang-moyang dulu<br />
Dengan harapan satu,..<br />
Se rawat slalu, se Kalesang slalu, agar  makmur, salalu..</p>
<p>Dia satu negerimu,  Dia tumpah darahmu,<br />
Dia tempat matimu&#8230;, Dia tanah leluhurmu&#8230;<br />
Dia Nusa Ina mu..<br />
&#8212;butuh aransemen baru, ditunggu ya-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=377&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2012/01/19/jaga-dia-salalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Pinggang dan Remuknya Pikiranku</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/12/30/antara-pinggang-dan-remuknya-pikiranku/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/12/30/antara-pinggang-dan-remuknya-pikiranku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 07:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[catatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pinggangku dan pikiranku yang memang terkadang sakit secara jasmani&#8230;tetapi tentang masalah perjalanan melaksanakan tugas pokok di berbagai tempat, yang boleh anda ambil hikmahnya. Catatan dari perjalanan seorang pengajar seperti saya, setelah beberapa waktu belakangn ini disibukkan untuk mengajar sana sini, di dalam negeri dan di luar negeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=374&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>catatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pinggangku dan pikiranku yang memang terkadang sakit secara jasmani&#8230;tetapi tentang masalah perjalanan melaksanakan tugas pokok di berbagai tempat, yang boleh anda ambil hikmahnya.</p>
<p>Catatan dari perjalanan seorang pengajar seperti saya, setelah beberapa waktu belakangn ini disibukkan untuk mengajar sana sini, di dalam negeri dan di luar negeri (kata orang ambon negeri itu kampung). Namlea (P. Buru), Tehoru (Maluku Tengah), Gale-gale (Maluku Tengah) dan kota Masohi (Maluku Tengah).<br />
ternyata ada hal yang lebih penting dari semuanya yaitu tentang pentingnya me-manage (baca: mengatur) waktu  agar tetap konsen dan lurus mengatasi berbagai masalah yang silih berganti datang.</p>
<p>Dari bagaimana mengatur waktu dengan keluarga, hingga mengatur waktu dengan relasi (teman sejawat) juga mahasiswa bimbingan yang wajib tidak boleh ditinggal lebih-lebih mengatur waktu dan qalbu (hati). Kesempatan demi kesempatan yang datang terkadang harus berjumpalitan (melompat sana-sini) untuk menyiasati waktu yang lowong, sebab jika telat sedikit saja, sudah ada orang yang berteriak-teriak di HP, ciut-ciut di Tweet  (itu&#8230;.alat komunikasi), dari Rumah dan dari Kampus. Terkadang dalam perjalanan lompat sana, lompat sini itu, saya sering senyum sendiri&#8230;untuk apa saya lakukan semua ini? jawabnya bukan karena DUIT&#8230;(koq bisa..!!)</p>
<p>Tentu bukan sekedar cari penghasilan tambahan, sebab Alhamdulillah, meski gaji bukan ratusan juta, tiap bulan kami dan keluarga tetap bisa makan sederhana dari hasil mengajar dan menjadi konsuler penulisan (jasa rental pengetikan) di luar jam kantor. bahkan terkadang berlebih&#8230;Alhamdulillah.</p>
<p>Tapi kenapa masih mau mengajar di atas 32 Jam per minggu siang dan malam?&#8230;InsyaAllagh hanya semangat berbagi tentunya&#8230;meski semua orang juga tahu bahwa kerja paruh waktu degan mengajar bukan penghasilan yang menjanjikan. jika alasan duit, saya masih bisa mendagangkan FOREX, Bisnis Online, jual barang lokal di internet, dan penghasilan tambahan online lainnya di internet dan tambahan lainya di rumah, jelas bukan duit yang saya cari&#8230;.</p>
<p>Untuk hidup mewah dan serba ada jika sukses nanti, adalah impian semua orang tentunya, tapi tidak untuk saya dan keluarga, lihatlah rumah keluarga besar kami di kota Masohi sederhana, kadang atapnya bocor jika hujan&#8230; tapi orang tua dikenal warga punya banyak tanah di kota Masohi. Tapi bukan itu ukuran kebanggaan keluarga tentunya&#8230;</p>
<p>Yang saya warisi adalah hidup serba cukup saja, sudah merupakan kebanggaan dan suksesi tersendiri.<br />
Apalagi bisa melihat orang lain tersenyum dan berbangga dengan usaha kita atas mereka.<br />
Sebuah sekolah menengah atas (<a href="http://www.man-seram.co.cc" title="www.manseram.wordpress.com" target="_blank">MAN SERAM</a>)yang pernah kami rintis bersama beberapa tokoh di kota Masohi (Maluku Tengah) sejak masih swasta (thn 2004) sampai kini melejit dinegerikan, dan berkembang pesat, telah bermanfaat banyak bagi masyarakat kota masohi, ini kebanggaan tersendiri, meski dengan berat hati meninggalkan sekolah itu untuk mengajar pada perguruan tinggi, spirit perjuangannya tetap terjaga. Ada yang pernah berfikir bahwa keluarga kami terlibat korupsi dan  sekolah, untuk apa?  sob..Seandainya saja Kalau keluarga kami dengan Yayasan sekolah mau korupsi, akan gampang terlihat dari rumahnya yang akan megah. Buktinya dari sekolah masih swasta sampai kini dinegerikan, tidak ada yang berubah di rumah kami. Bahkan makanpun masih (kasuami/suami) sejenis parutan ubi yang dikukus, khas sulawesi tenggara. Tiga Kendaraan yang terparkir di depan Rumah itu pun sudah ada sejak 15 tahun lalu, dengan usaha mandiri.</p>
<p>Terbayang tentang Ilmu Komputer (TIK) yang diajarkan di sekolah (SMA) dulu (di Masohi) tidak banyak yang mau mengajarkan di sekolah dengan alasan bayaran murah, setelah saya ajarkan di beberapa sekolah SMA banyak repon positif dan banyak yang mengira bahwa saya lulusan sekolah komputer, padahal lulusan sekolah ngaji (IAIN) tetapi ditengah keterbatasan dan hanya berbekal semangat mengajar kini mereka paham sendiri ternyata komputer (juga penting) selain main game dan Facebook.</p>
<p>Demi Allah, semua ini semata-mata untuk mengetuk pintu Do&#8217;a hingga menembus Arasy-nya Allah, dan alhamdulillah&#8230;terbukti do&#8217;a apa saja, selalu diqabulkan, jika belum saat ini ..mungkin Allah juga tahu, belum terlalu dibutuhkan saat ini.<br />
Do&#8217;a syafaat kepada Rasulullah dan Sahabat, para Ulama dan Ustad serta guru-guru kami, Do&#8217;a dari keluarga yang sehat, cukup rejeki, orang di sekitar tenteram, teman-teman senang, orang kantor aman, keluarga besar nyaman, inilah do&#8217;aku selama ini.<br />
Do&#8217;a lain, dikaruniani keturunan, keluarga yang selalu mau mengerti, dan do&#8217;a miliki rumah sendiri yang nyaman. Meski sederhana, orang Ambon kata &#8216;busu-busu rumah sendiri&#8217; dah berdiri agak kokoh untuk konstruksi yang InsyaAllah tahan gempa. </p>
<p>Dengan dibangunnya rumah yang kini saya tempati, Saya ingin beri pelajaran saja kepada banyak orang bahwa<br />
tidak perlu korupsi sana-sini, mengintimidasi relasi, apalagi memanfaatkan teman, satu lagi&#8230;memperdayaia mahasiswa bimbingan&#8230;.(nauzubillah)<br />
Mencapai sukses kecil tidak perlu bersembunyi di balik topeng, beralih status &#8216;pura-pura baik&#8217; (munafik) atau jadi perampok dan koruptor serta penipu (dulu) atau jadi bosnya dosen (DEKAN) atau bapaknya dosen (REKTOR) untuk dapatkan sesuatu, toh di antara mereka sangat berpotensi melegalkan jalan tak bagus untuk meraih kepentingan sesat dan sesaat. </p>
<p>Dengan jalan disiplin dan sabar masih banyak jalan halal, cuman banyak yang tidak mau dan tidak sabar.<br />
pelajari intisari surat Al-Ashr : 1-3 (QS.103) Sholat dan bersabar&#8230;.anda akan temukan maknanya. Di antaranya bagaimana mengatur waktu dengan tetap bersabar. Semuanya akan ada hasilnya. ditambah dengan Usaha halal dan DO&#8221;A..sob, dengan keduanya semuanya bakal tercpai. pengalaman saya moga menjadi pelajaran bagi anda, pokoknya Anda tinggal minta saja tak tahu dari mana saja pertolongan dan rejeki itu datang. pokoknya tinggal mengeluh pada Allah Swt (Tuhan yang saya sangat percaya) apa saja diberi. Bahkan mungkin kalau ingin jadi presiden pun insyaAllah dikabulkan&#8230;hehehe&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/374/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=374&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/12/30/antara-pinggang-dan-remuknya-pikiranku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu Ku (intisari Q.S. Al-Ashr : 108 : 1-3)</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/12/09/waktu-ku-intisari-q-s-al-ashr-108-1-3/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/12/09/waktu-ku-intisari-q-s-al-ashr-108-1-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 18:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Waktu Ku oleh : Aku Detik, menit, hari yang terus berlalu Begitu saja kesempatan itu berlalu WaktuKu terus saja berlalu Kesempatan ku pun terus saja berlalu Sungguh benar-benar merugi aku Jika terus menyia-nyiakan hidup yang singkat itu Padahal waktuku terus saja berlalu Menggeser tiap kesempatan yang tampak lalu Orang berimanlah yang paham arti waktu Mengerjakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=370&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu Ku</p>
<p>oleh : Aku</p>
<p>Detik, menit, hari yang terus berlalu<br />
Begitu saja kesempatan itu berlalu<br />
WaktuKu terus saja berlalu<br />
Kesempatan ku pun terus saja berlalu</p>
<p>Sungguh benar-benar merugi aku<br />
Jika terus  menyia-nyiakan hidup yang singkat itu<br />
Padahal  waktuku terus saja berlalu<br />
Menggeser tiap kesempatan yang tampak lalu  </p>
<p>Orang berimanlah yang paham arti waktu<br />
Mengerjakan amal sholeh dan tahu waktu<br />
nasehat menasehati ke arah kebenaran yang satu<br />
Dan tetap bersabar jika terhimpit waktu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/370/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=370&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/12/09/waktu-ku-intisari-q-s-al-ashr-108-1-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bilangan Biner di Hari Jadiku</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/10/09/bilangan-biner-di-hari-jadiku/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/10/09/bilangan-biner-di-hari-jadiku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 23:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini 10 Oktober 2011, menurut perhitungan kalender Masehi, Haul alias ultah saya jatuh pada hari ini, hari dimana ‘orang ramai, mengsakralkan tanggal keramat 101011 atau pada satu hari sebelumnya 91011, dimana banyak orang melaksanakan hajatan….tapi jika kita hidup dalam nuansa tauhid seperti yang saya anut, nasib, keberuntungan dan rezeki bukan diatur oleh tanggal Masehi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=354&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini 10 Oktober 2011, menurut perhitungan kalender Masehi, Haul alias ultah saya jatuh pada hari ini, hari dimana ‘orang ramai, mengsakralkan tanggal keramat 101011 atau pada satu hari sebelumnya 91011, dimana banyak orang melaksanakan hajatan….tapi jika kita hidup dalam nuansa tauhid seperti yang saya anut, nasib, keberuntungan dan rezeki bukan diatur oleh tanggal Masehi, atau hal-hal lain yg dikait-kaitkan dengan angka ini…namun marilah kita berbagi pengetahuan, seperti apa tanggal 10 okt 2011 ini ditinjau dari salah satu ilmu yang jarang dibahas orang awam….<br />
inilah salah satu kutipan tulisan yang pernah saya publikasi di tahun lalu ketika angka ini pada posisi 101010 itu…</p>
<p>jika dituliskan dalam angka menjadi 10/10/2010. untuk tahun biasanya dituliskan dua digit angka belakang. Jadilah 10/10/10. Angka yang cantik menurut kebanyakan orang.</p>
<p>hari ini Jika dituliskan dengan 101010, maka terlihat seperti deretan bilangan biner 6 bit. Bilangan biner atau binary digit (bit) ialah bilangan yang terdiri dari 1 dan 0. Seperti kita ketahui, dunia komputer dikenal 4 jenis bilangan : bilang biner, oktal, desimal dan hexadesimal. Bilangan Oktal terdiri dari angka 0 – 7. Desimal angka 0 – 9, Sedangkan hexadesimal terdiri dari angka 0 – 9 dam A – F.</p>
<p>Bilangan Biner 101010 = 42 desimal?<br />
Konversi bilangan biner ke desimal ada beberapa metode yang digunakan. Saya dulu jika ketemu masalah seperti ini ( disuruh mengkonversikan biner ke desimal ) sring menggunakan cara yang menurut saya paling mudah<br />
contohnya angka biner 101010 =(1×2^5) + (0×2^4) + (1×2^3) + (0×2^2) + (1×2^1) + (0×2^0) = 32 + 8 + 2 = 42<br />
^ = pangkat</p>
<p>Atau jika kita jabarkan akan seperti berikut :</p>
<p>1. karena 101010 mempunyai enam angka, maka kita buat 6 baris kosong<br />
(baris 1): …<br />
(baris 2): …<br />
(baris 3): …<br />
(baris 4): …<br />
(baris 5): …<br />
(baris 6): …</p>
<p>Kemudian, baris 1 diisi angka 1, selanjutnya penjumlahannya saja.<br />
(baris 1): 1<br />
(baris 2): 1 + 1 = 2<br />
(baris 3): 2 + 2 = 4<br />
(baris 4): 4 + 4 = 8<br />
(baris 5): 8 + 8 = 16<br />
(baris 6): 16 + 16 = 32</p>
<p>2. Kemudian susun dengan hasil penjumlahan tadi, dimulai dari yang terbesar, seperti berikut ini :<br />
32 =<br />
16 =<br />
8 =<br />
4 =<br />
2 =<br />
1 =</p>
<p>3. Masukkan bilangan biner 101010 ke 6 baris diatas</p>
<p>32 = 1<br />
16 = 0<br />
8 = 1<br />
4 = 0<br />
2 = 1<br />
1 = 0</p>
<p>4. Apabila angka 1, maka dihitung, dah angka 0 dihilangkan.<br />
32 = 1<br />
8 = 1<br />
2 = 1</p>
<p>5. Jumlahkan, 32 + 8 + 2<br />
6. Kesimpulannya Biner 101010 = 42 Desimal</p>
<p>Untuk konversi sebaliknya atau ke bilangan lain, insya Allah dijelaskan kapan-kapan</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Selain  hari ini, besok juga masih seperti deretan biner, yaitu 111010, 101011 seperti pada hari ini, di Tahun ini ada 3 lagi 011110, 101111, dan 111111 saat perhelatan Seagames Asia tenggara.</p>
<p>Demikian postingan iseng ini, semoga bermanfaat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/354/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=354&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/10/09/bilangan-biner-di-hari-jadiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ulama Serabutan</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/09/05/ulama-serabutan/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/09/05/ulama-serabutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 14:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Ulama Serabutan; Ulama Multiprofesi dalam Sistem Pendidikan Islam di Abad Pertengahan Oleh : Ode Abdurrachman,SH.I.,M.Pd.I [1] Abstrak Ulama tidak saja dituntut untuk menguasai ilmu keagamaan juga ilmu-ilmu terapan secara mendalam atau profesional sehingga mampu memberikan solusi cerdas terhadap permasalahan yang dihadapi ummat, sehingga peran ulama tidak saja menguasai kompetensi keulamaannya namun secara spesifik, harus menguasai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=344&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Ulama Serabutan; </strong><strong>Ulama </strong><strong>Multiprofesi d</strong><strong>alam Sistem Pendidikan Islam di Abad Pertengahan</strong></p>
<p align="center">
<p align="center">Oleh : Ode Abdurrachman,SH.I.,M.Pd.I <a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p align="center">Abstrak</p>
<p style="text-align:justify;">Ulama tidak saja dituntut untuk menguasai ilmu keagamaan juga ilmu-ilmu terapan secara mendalam atau profesional sehingga mampu memberikan solusi cerdas terhadap permasalahan yang dihadapi ummat, sehingga peran ulama tidak saja menguasai kompetensi keulamaannya namun secara spesifik, harus menguasai ilmu dan kemampuan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni sebagai kreativitas lain agar mampu menjawab tantangan zaman, bahkan harus mampu mempraktekan keilmuwannya di tengah masyarakat. Dari seorang tokoh spiritual keagamaan, kemudian <em>nyambi</em> (baca: sambil) menjadi cendikiawan, politisi, ekonom, dan birokrat bahkan praktisi. Atau peran lebih praktsi mejadi ilmuwan, pengacara, pedagang, atau tokoh pemerintah dan berbagai aktivitas lainnya. Aktivitas multiprofesi ini dikenal dalam istilah Jawa <em>Serabutan</em>. Aktivitas <em>Serabutan</em> ini tentunya harus didukung juga dengan sisi keilmuan yang berbanding lurus dengan aktivitas kesehariannya. Meski demikian, faktor-faktor inilah yang kemudian terkadang menjadi bumerang terhadap peran aktif ulama itu sendiri karena dianggap tidak seimbang dan bergeser dari keulamaannya sehingga terkesan memihak pada satu peran tertentu di tengah masyarakat dan menjadi bertentangan dengan tujuan ulama sebagai tokoh spiritual yang mampu mencerahkan ummat.</p>
<p>Keyword : <em>Ulama Serabutan, mutliprofesi, sistem pendidikan Islam, abad pertengahan</em></p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dosen Pendidikan Agama Islam di FKIP Universitas Pattimura, Alumni PascaSarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, e-mail: <a href="mailto:odeabdurrachman@yahoo.com">odeabdurrachman@yahoo.com</a>, blogsite : www.pakode.wordpress.com</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/344/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/344/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=344&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/09/05/ulama-serabutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cipratan ‘Learning by blogger’ dari event Telkomsel Kompasiana</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/05/28/cipratan-%e2%80%98learning-by-blogger%e2%80%99-dari-event-telkomsel-kompasiana/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/05/28/cipratan-%e2%80%98learning-by-blogger%e2%80%99-dari-event-telkomsel-kompasiana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 08:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Ambon, 28 Mei 2011.. Labbaik, Kompasiana, labbaik&#8230;!! akhirnya kupenuhi juga panggilanmu&#8230;!! Alhamdulillah, akhirnya kupenuhi juga panggilan undanganmu kompasiana, setelah beberapa waktu lalu mendaftar secara online di kompas.com untuk mengikuti even learning by blogging, yang diadakan di hotel Amans Ambon hari ini dari jam 10.00 s/d 17.00 BTWI. Lebih bersyukur lagi ternyata bisa bertemu ‘bareng’ komunitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=333&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ambon, 28 Mei 2011..</p>
<p>Labbaik, Kompasiana, labbaik&#8230;!! akhirnya kupenuhi juga panggilanmu&#8230;!! Alhamdulillah, akhirnya kupenuhi juga panggilan undanganmu kompasiana, setelah beberapa waktu lalu mendaftar secara online di kompas.com untuk mengikuti even <strong><em>learning by blogging</em></strong>, yang diadakan di hotel Amans Ambon hari ini dari jam 10.00 s/d 17.00 BTWI. Lebih bersyukur lagi ternyata bisa bertemu ‘bareng’ komunitas blog Maluku dan para ‘Newbe’ (penulis pemula Blog) blogger mania yang pengen belajar Nge-Blog yang difasilitasi oleh even <strong><em>Learning By Blogging</em></strong> yang dihelat oleh kompas yang berkerjasama Telkomsel.</p>
<p>Dari pemaparan materi awal tentang <strong><em>Citizen Journalisme</em></strong>, yang disampaikan oleh bang. Iskandar Zulkarnaen, (editor kompas.com) mengungkapkan bahwa <strong><em>Citizen Journalisme</em></strong> tidak lain adalah sebuah istilah yang baru dikenal dalam bidang jurnalis sebuah kegiatan yang melibatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan jurnalisme, termasuk kegiatan mengumpulkan, mengolah, bahkan menganalisis kemudian menyebarluaskan berita melalui sosial media atau bahkan lewat jurnal media online lainnya. Salahsatunya kompas dengan fasilitas kompasiana.com.</p>
<p>Yang sangat menarik dari pemaparan materi awal ini dikatakan bahwa, di era teknologi dengan banyaknya sosial media dan media online yang saat ini menjamur, hak menulis bisa dilakukan siapa saja, bukan hanya penulis kawakan atau jurnalis profesional atau wartawan. Namun bisa dilakukan oleh orang biasa, rakyat biasa dari kalangan manapun, dengan memperhatikan segela kejadian yang ada di skitarnya.</p>
<p>Kompas sebagai penyedia konten jurnalis online dengan menyediakan fasilitas yang mengijinkan para penulis online denga tajuk <strong><em>telkomsel kompasiana.com</em></strong>, sehingga siapa saja meski dari kelas newbe (pengguna baru), orang biasa atau sampai kelas advance termasuk wartawan dengan bebas memberitakan apa saja yang ditemui di sekitarnya atau apapun yang ingin disampaikan dengan berbagai kategori <em>room</em> yang disediakan, dari mulai Pendidikan, Sosial, Budaya dan politik bisa di<em>share</em> di kolom kompasiana.com.</p>
<p>Suatu hal yang ingin disajikan kompas, ternyata adalah untuk memecah kebuntuan para penulis yang kesulitan memulai penulisannya dikarenakan berbagai kendala. Sehingga banyak tips yang diberikan oleh para pembicara dari Kompasmedia. Di antaranya sebuah topik yang menarik dengan topik bagaimana Menulis Cepat, Menarik, dan Bermanfaat yang disampaikan oleh Pepi Nugraha, salah satu editor Kompas.com</p>
<p>Semoga menjadikan sesuatu yang bermanfaat&#8230;!!</p>
<p>Selain dihibur oleh Band school dari jebolan pentas SMA se-Ambon, ada program bagi-bagi doorprize berupa HandPhone dan Kaos Cantik juga Speaker Active, dan salah satunya Penulis ‘kecipratan’ salah satu doorprize karena berhasil menjawab salah satu pertanyaan tentang tema even ini yakni Learning by Blogging. Teirma kasih Kompas dan Kompasiana.com juga telkomsel sebagai sponsor utama acara ini. Terlebih lagi kepada Nara Sumber tim editor Kompas.com yang telah berbagi ilmu dan strategi menulis yang baik. Semoga bermanfaat bagi semuanya.</p>
<p>Email : <a href="mailto:odeabdurrachman@yahoo.com">odeabdurrachman@yahoo.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/333/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=333&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/05/28/cipratan-%e2%80%98learning-by-blogger%e2%80%99-dari-event-telkomsel-kompasiana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fenomena &#8216;Citizen Journalism&#8217;</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/05/26/fenomena-citizen-journalism/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/05/26/fenomena-citizen-journalism/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 May 2011 18:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Benar sekali apa yang dikatakan oleh Steve Outing dalam tulisannya “The 11 Layers of Citizen Journalism”, istilah citizen journalism saat ini menjadi one of the hottest buzzword dalam dunia jurnalistik. Rasanya ketinggalan jaman kalau sampai ketinggalan kata-kata ini. Citizen journalism diucapkan oleh siapapun yang mengamati perkembangan media, baik mereka yang berada di lingkaran dalam media [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=328&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Benar sekali apa yang dikatakan oleh Steve Outing dalam tulisannya “The 11 Layers of Citizen Journalism”, istilah citizen journalism saat ini menjadi one of the hottest buzzword dalam dunia jurnalistik.</p>
<p>Rasanya ketinggalan jaman kalau sampai ketinggalan kata-kata ini. Citizen journalism diucapkan oleh siapapun yang mengamati perkembangan media, baik mereka yang berada di lingkaran dalam media seperti para praktisi, kru dan pemilik media, maupun mereka yang berada di luar media, seperti para pengamat media. Kurang gaul, rasanya, kalau sampai ketinggalan isu ini.</p>
<p>Bagi yang sudah lama mencermati dinamika dunia jurnalistik dari esensinya yang paling dalam, citizen journalism sebenarnya cuma masalah beda-beda istilah.</p>
<p>Spiritnya tetap sama dengan public journalism atau civic journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, perkara bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis.</p>
<p>Dikuasai dalam arti diproduksi, dikelola, dan disebarluaskan oleh institusi media, atas nama bisnis ataupun kepentingan politis.</p>
<p>Lantas, apa bedanya fenomena public journalism dengan rame-rame soal citizen journalism sekarang ini? Ada. Perbedaannya, menurut saya, terletak pada kemajuan teknologi media sehingga semangat partisipatoris yang melibatkan publik dalam mendefinisikan isu semakin terakomodasi.</p>
<p>Selain itu, kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Semangatnya, sekali lagi, tetap sama. Yaitu, mendekatkan jurnalisme pada publiknya. Bedanya, open source di masa sekarang semakin niscaya saja, ketika teknologi media kian berkembang.<span id="more-328"></span></p>
<p><strong>Mendefinisikan Citizen Journalism</strong></p>
<p>Pada dasarnya, tidak ada yang berubah dari kegiatan jurnalisme yang didefinisikan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan berita. Citizen journalism pada dasarnya melibatkan kegiatan seperti itu.</p>
<p>Hanya saja, kalau dalam pemaknaan jurnalisme konvensional (tiba-tiba saja menjadi jurnalisme old school setelah citizen journalism muncul), yang melakukan aktivitas tersebut adalah wartawan, kini publik juga bisa ikut serta melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wartawan di lembaga media. Karena itu, Shayne Bowman dan Chris Willis lantas mendefinisikan citizen journalism sebagai ‘…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information”.</p>
<p>Ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan konsep citizen journalism. Public journalism, advocacy journalism, participatory journalism, participatory media, open source reporting, distributed journalism, citizens media, advocacy journalism, grassroot journalism, sampai we-media.</p>
<p>Civic journalism, menurut Wikipedia, bukan citizen journalism karena dilakukan oleh wartawan walau pun semangatnya tetap senada dengan public journalism, yaitu (lebih) mengabdi pada publik dengan mengangkat isu-isu publik.</p>
<p>Citizen journalism adalah bentuk spesifik dari citizen media dengan content yang berasal dari publik. Di Indonesia, istilah yang dimunculkan untuk citizen journalism adalah jurnalisme partisipatoris atau jurnalisme warga.</p>
<p>J.D. Lasica, dalam Online Journalism Review (2003), mengategorikan media citizen journalism ke dalam 5 tipe:</p>
<p>1. Audience participation (seperti komenter user yang diattach pada kisah-kisah berita, blog-blog pribadi, foto, atau video footage yang diambil dari handycam pribadi, atau berita lokal yang ditulis oleh anggota komunitas).</p>
<p>2. Situs web berita atau informasi independen (Consumer Reports, Drudge Report).</p>
<p>3. Situs berita partisipatoris murni (OhmyNews).</p>
<p>4. Situs media kolaboratif (Slashdot, Kuro5hin).</p>
<p>5. Bentuk lain dari media ‘tipis’ (mailing list, newsletter e-mail).</p>
<p>6. Situs penyiaran pribadi (situs penyiaran video, seperti KenRadio).</p>
<p>Ada dua hal setidaknya yang memunculkan corak citizen journalism seperti sekarang ini. Pertama, komitmen pada suara-suara publik. Kedua, kemajuan teknologi yang mengubah lansekap modus komunikasi.</p>
<p>Public journalism acap dikaitkan dengan konsep advocacy journalism karena beberapa media bergerak lebih jauh tidak saja dengan mengangkat isu, tetapi juga mengadvokasikan isu hingga menjadi sebuah ‘produk’ atau ‘aksi’—mengegolkan undang-undang, menambah taman-taman kota, membuka kelas-kelas untuk kelompok minoritas, membentuk government watch, mendirikan komisi pengawas kampanye calon walikota, dan lain-lain.</p>
<p>Public atau citizen journalism juga dikaitkan dengan hyperlocalism karena komitmennya yang sangat luarbiasa pada isu-isu lokal, yang ‘kecil-kecil’ (untuk ukuran media mainstream), sehingga luput dari liputan media mainstream.</p>
<p>Public journalism dengan model seperti ini mendasarkan sebagian besar inisiatif dari lembaga media. Kemajuan teknologi dan ketidakterbatasan yang ditawarkan oleh Internet membuat inisiatif semacam itu dapat dimunculkan dari konsumen atau khalayak.</p>
<p>Implikasinya cukup banyak, tidak sekadar mempertajam aspek partisipatoris dan isu yang diangkat.</p>
<p>Citizen journalism: Isu dan Implikasi</p>
<p>Saya termasuk yang meyakini bahwa kemajuan teknologi (komunikasi) mengubah lansekap atau ruang-ruang sosial kita.</p>
<p>Perkembangan citizen journalism belakangan ini menakjubkan buat saya—yang dibesarkan dalam tradisi old school journalism—karena mengundang sejumlah implikasi yang tidak kecil.</p>
<p>Beberapa di antaranya, yang teramati oleh saya, adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Open source reporting: perubahan modus pengumpulan berita. Wartawan tidak menjadi satu-satunya pengumpul informasi. Tetapi, wartawan dalam konteks tertentu juga harus ‘bersaing’ dengan khalayak, yang menyediakan firsthand reporting dari lapangan.</p>
<p>2. Perubahan modus pengelolaan berita. Tidak hanya mengandalkan open source reporting, media kini tidak lagi menjadi satu-satunya pengelola berita, tetapi juga harus bersaing dengan situs-situs pribadi yang didirikan oleh warga demi kepentingan publik sebagai pelaku citizen journalism.</p>
<p>3. Mengaburnya batas produsen dan konsumen berita. Media yang lazimnya memosisikan diri sebagai produsen berita, kini juga menjadi konsumen berita dengan mengutip berita-berita dari situs-situs warga. Demikian pula sebaliknya. Khalayak yang lazimnya diposisikan sebagai konsumen berita, dalam lingkup citizen journalism menjadi produsen berita yang content-nya diakses pula oleh media-media mainstream. Oh my God, duniaaa….</p>
<p>4. Poin 1-2-3 memperlihatkan khalayak sebagai partisipan aktif dalam memproduksi, mengkreasi, mau pun mendiseminasi berita dan informasi. Pada gilirannya faktor ini memunculkan ‘a new balance of power’—distribusi kekuasaan yang baru. Ancaman power yang baru (kalau mau disebut sebagai ancaman) bagi institusi pers bukan berasal dari pemerintah dan ideologi, atau sesama kompetitor, tetapi dari khalayak atau konsumen yang biasanya mereka layani!</p>
<p>5. Isu profesionalisme: apakah setiap pelaku citizen journalism bisa disebut wartawan? Kenyataannya, citizen journalism mengangkat slogan everybody could be a journalist! Apakah blogger bisa disebut sebagai the real journalist?</p>
<p>6. Isu etika: apakah setiap pelaku citizen journalism perlu mematuhi standar-standar jurnalisme yang berlaku di kalangan wartawan selama ini sehingga produknya bisa disebut sebagai karya jurnalistik? Kita bicara soal kaidah jurnalistik yang selama ini diajarkan pada para wartawan—mungkinkah kaidah itu masih berlaku? Lazimnya, yang acap disentuh dalam wacana kaidah jurnalistik adalah soal objektivitas pemberitaan, dan kredibilitas wartawan/media.</p>
<p>7. Isu regulasi: perlukah adanya regulasi bagi pelaku citizen journalism? Kaitannya dengan etika, profesionalisme, komersialiasi, dan mutu content.</p>
<p>8. Isu ekonomi: munculnya situs-situs pelaku citizen journalism yang ramai dikunjungi menimbulkan konsekuensi ekonomi, yaitu pemasang iklan, yang jumlahnya tidak sedikit. Pers, menurut Jay Rosen pada dasarnya adalah media franchise atau public service franchise in journalism.</p>
<p>9. Kalau citizen media kini muncul dan juga bermain dalam ranah komersial, ini hanya merupakan konsekuensi ‘the enlarging of media franchise’. Isu ekonomi juga mengundang perdebatan lain. Kalau tadinya para kontributor citizen journalism memasukkan beritanya secara sukarela, kini mulai muncul perbincangan bagaimana seharusnya membayar mereka.</p>
<p>Ada bayaran, tentu ada standar yang harus dipatuhi sesuai bayarannya. Akhirnya, ini mengundang masuknya isu profesionalisme—sesuatu yang dalam konteks tertentu akhirnya malah ‘berlawanan’ dengan semangat citizen journalism.</p>
<p>Bagaimana nasib the old school journalism di masa depan dengan munculnya citizen journalism? Apakah tradisi old school journalism akan tetap bertahan di masa depan?</p>
<p>Itulah beberapa isu yang akan selalu diangkat dan didiskusikan dalam seminar mana pun yang berbicara ihwal citizen journalism.</p>
<p>Citizen Journalism di Indonesia</p>
<p>Saya mulai mengamati fenomena public journalism di pertengahan 1990-an. Satu hal yang menggelitik saya adalah apakah konsep development journalism atau jurnalisme pembangunan yang diajarkan dalam kurikulum studi jurnalistik tahun 1980-1995an (saya adalah salah satu produknya!) merupakan wujud public journalism? Saya putuskan, TIDAK.</p>
<p>Pertama, aspek partisipatorinya tidak nyata. Isu tetap diputuskan oleh media yang bersangkutan (acap atas ‘restu’ Departemen Penerangan)—walau slogan pembangunan, di manapun, selalu menyatakan mengabdikan diri pada kepentingan publik.</p>
<p>Kedua, ideologi jurnalisme pembangunan pada dasarnya adalah ideologi komunikasi pembangunan yang sudah bangkrut di tahun 80-an (dibangkrutkan oleh para penggagasnya sendiri seperti Everett M. Rogers), karena dianggap terlalu ideologis, utopis, dan totaliter.</p>
<p>Saya tertarik mengamati geliat citizen journalism di Indonesia lewat diskusi dengan teman-teman aktivis soal open source reporting yang tampaknya senada betul dengan tulisan-tulisan Pepih Nugraha di harian Kompas, yang mengangkat hal-ihwal participatory journalism.</p>
<p>Saya mengikuti Indonesiasatu.net yang memproklamirkan diri sebagai jurnalisme warga. Undangannya untuk menjenguk situs ini meyakinkan, tampilannya tergarap dengan baik (walau updatingnya lambat), ada profil warga teladan, tapi jujur saja saya kecewa karena tidak menemukan sesuatu yang berbeda dengan harian lain.</p>
<p>Ini seperti membaca berita lokal dari koran lokal yang bisa diakses lewat online media lokal, tanpa situs ini perlu memproklamirkan diri sebagai (sosok) pengusung jurnalisme warga.</p>
<p>Hyperlocalism yang saya bayangkan bukan seperti ini. Begitu banyak berita gado-gado tanpa struktur gagasan yang jelas, tanpa memperlihatkan pada pengunjung situsnya ini sebenarnya mau dibawa ke mana.</p>
<p>Ini murni open source reporting, tapi saya bertanya-tanya, apa ini wujud citizen journalism (alih-alih citizen reporting)?</p>
<p>Pesta Blogger Indonesia semakin menguatkan seruan citizen journalism. Menjamurnya blog di mana-mana memang fenomena luarbiasa (13.000 blog didirikan setiap hari!).</p>
<p>Tapi, ketika mengunjungi beberapa blog yang katanya banyak di-hit, saya hanya mendapatkan curhat-curhat personal tanpa melihat apa pentingnya ini bagi publik? (Walau, jujur saja, saya menikmati curhat personal itu).</p>
<p>Atau, isu publik macam apa yang mestinya bisa dimaknai dari curhat personal tersebut? Saya beranggapan, blog memang membuka kemungkinan open source reporting, menjamurnya blog dan blogger adalah kondisi yang kondusif untuk memunculkan citizen journalism, tapi sekadar ngeblog saja tidak cukup untuk diberi predikat sudah ber-citizen journalism.</p>
<p><strong>Citizen journalism, dengan kata lain, is not that easy!</strong></p>
<p>Dari beberapa fenomena tadi, saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah soal isu. Saya belajar dari situ bahwa untuk masuk dalam dunia citizen journalism, tampaknya yang mesti dibawa bukan sekadar kemampuan standar pelaporan dan penyusunan berita ala 5W + 1 H.</p>
<p>Tapi juga persoalan bagaimana menjadikan isu ‘the public becomes personal, the personal becomes public’. Tanpa itu, saya pikir, publik cuma mendapatkan sederetan informasi tanpa makna.</p>
<p>Sebuah situs citizen journalism menjadi milik citizen, milik publik, kalau banyak pengunjungnya. Maka, pengelola citizen journalism harus mampu memelihara kandungan situsnya, dan mengundang partisipasi publik, untuk membuka diskusi dalam frame yang jelas (soal mutu, bolehlah diperdebatkan).</p>
<p>Tanpa semua ini, situs sebagus apapun, dan sebombastis apapun slogan jurnalismenya, hanya menjadi situs yang sunyi—diisi, ditonton, dikeploki oleh pengelolanya sendiri. Sayang, karena resources yang begitu potensial, jadi tersia-sia.</p>
<p>Bagaimanapun, saya gembira dengan fenomena baru dan tantangan serius yang dimunculkan oleh citizen journalism.</p>
<p>Saya kira efeknya akan baik buat keduanya, baik bagi publik maupun bagi media mainstream. Sebagaimana sistem pers kuat dibingkai dan dipengaruhi oleh local culture, saya juga percaya, wujud citizen journalism sendiri pada akhirnya akan bervariasi sesuai dengan local culture komunitas yang mengusungnya.</p>
<p>(sumber: rumahkiri.net)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=328&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/05/26/fenomena-citizen-journalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Masih Keliru Mendidik Bangsa Ini?</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/05/01/mengapa-masih-keliru-mendidik-bangsa-ini/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/05/01/mengapa-masih-keliru-mendidik-bangsa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 20:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Semangat Mendidik Bangsa, harus berbanding lurus dengan semangat mensejahterakan bangsa..!!, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang tidak lapar, bangsa yang tidak membiarkan kebodohan dipelihara, bangsa yang tidak merawat kemiskinan, dan menyuburkan terorisme. Tugas negara membersihkan &#8216;kutu-kutu loncat&#8217;, dan &#8216;rayap&#8217; koruptor yang membenamkan diri dalam pasir kegelisahan bangsa ini. Sesulit itukah menjadikan Kemiskinan sedikit terangkat ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=318&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semangat Mendidik Bangsa, harus berbanding lurus dengan semangat mensejahterakan bangsa..!!, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang tidak lapar, bangsa yang tidak membiarkan kebodohan dipelihara, bangsa yang tidak merawat kemiskinan, dan menyuburkan terorisme.</p>
<p>Tugas negara membersihkan &#8216;kutu-kutu loncat&#8217;, dan &#8216;rayap&#8217; koruptor yang membenamkan diri dalam pasir kegelisahan bangsa ini. Sesulit itukah menjadikan Kemiskinan sedikit terangkat ke atas permukaan garis ambang batas kesejahteraan? sedangkan para &#8216;konglomerat busuk&#8217; menari-nari di atas penderitaan rakyat jelata.</p>
<p>yang terjadi adalah kualitas diri yang selalu tergadaikan di atas meja taruhan &#8216;kekuasaan&#8217;, berharap berkah dari langit yang menjatuhkan &#8216;batangan emas&#8217; makanan cerdas.</p>
<p>Bukankah Rakyat kita (dan kita di dalamnya) sudah banyak belajar semangat Nasionalisme garuda pancasila.? dengan hymene ayo maju-maju-ayo maju-maju, tapi yang terjadi sebaliknya..!!</p>
<p>Makanan Empuk penguasa lokal yang (sengaja) &#8216;bermain api&#8217; semakin menjadi-jadi. Karakter lokal dan jati diri anak pribumi habis terkikis tirani &#8216;jadi-jadian&#8217; penguasa karbitan.</p>
<p>Bukankan ini demokrasi yang salah jalan itu? sehingga mereka mencari jalan menuju tahta lokal dengan menginjak &#8216;kepala lawan&#8217; kemudian mengaku &#8216;mendidik bangsa&#8217;  teladan yang &#8216;syubhat&#8217;?</p>
<p>Malah mengaku Bertuhankan Logika dan Pikiran bingung yang tanpa ujung. Berlakon bak rohaniawan ketika sedang (pura-pura)  ibadah. Dan mewariskanya turun temurun.</p>
<p>Sudah begini telanjangkah bangsaku yang &#8216;seksi&#8217; ini? sehingga tak ada selembar benangpun menutupi &#8216;aurat&#8217; keboborokannya? apa terlalu mini kah &#8216;gaun karakter diri&#8217; dan &#8216;watak cerdas&#8217; yang disandangnya, sehingga &#8216;kemaluannya&#8217; dibiarkan saja orang lain menikmatinya? sedang kita tidak berdaya dan pura-pura berkata, impoten. padahal tidak.</p>
<p>Warisan Mendidik dengan karakter adalah kuncinya. jika teladan kita selalu telanjang di mata siapa saja, saatnya mereka meniru dan digugu. mulailah mewariskannya pada anak kita apa yang sebaiknya. Karakter diri dan Membiarkan diri ditata regulasi bangsa ini. bahwa bangsa ini sudah  diatur dengan rapi, jangan kau kaburkan dengan semangat abu abu.</p>
<p>jelaskan niatmu, wariskan karaktermu. jika itu terjadi, jangan heran, jika disaat mati nanti, nilai kita dihargai dengan banyaknya orang yang mengumpat dan menghujat, di saat itulah nilai kita terpelihara atau dirusak.</p>
<p>tanam kecerdasan, rawat dengan kesabaran, petik hasil dengan kegemilangan&#8230;.semangat (seharusnya) bangsa ini.,..</p>
<p>selamat hari pendidikan nasional 2011</p>
<p>Ambon 2 Mei 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=318&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/05/01/mengapa-masih-keliru-mendidik-bangsa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hasil Survey 49% Pelajar Setuju Aksi Radikal(6)</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/04/30/hasil-survey-49-pelajar-setuju-aksi-radikal6/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/04/30/hasil-survey-49-pelajar-setuju-aksi-radikal6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Apr 2011 16:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah kalangan sulit menerima hasil penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tentang radikalisme. Survei itu menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju dengan aksi radikal demi agama. Seperti apa detail survei tersebut? Direktur Pelaksana LaKIP Ahmad Baedowi menyatakan ada dua tujuan digelarnya penelitian tersebut. Pertama, mengidentifikasi kecenderungan radikalisme keagamaan di sekolah. Kedua menjelaskan faktor-faktor yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=313&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://images.detik.com/content/2011/04/28/159/LaKIPdalam.jpg" alt="Ini Dia Hasil Survei LaKIP Yang Menghebohkan Itu" width="285" height="385" /><br />
<strong> </strong></div>
<div>Sejumlah kalangan sulit menerima hasil penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tentang radikalisme. Survei itu menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju dengan aksi radikal demi agama.</div>
<div>Seperti apa detail survei tersebut?</div>
<p>Direktur Pelaksana LaKIP Ahmad Baedowi menyatakan ada dua tujuan digelarnya penelitian tersebut. Pertama, mengidentifikasi kecenderungan radikalisme keagamaan di sekolah. Kedua menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi kecenderungan radikalisme tersebut.<br />
<span id="more-313"></span><br />
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2010 hingga Januari 2011 lalu terhadap siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jabodetabek. Metode yang dilakukan yakni dengan survei melalui wawancara tatap-muka dengan panduan kuesioner.</p>
<p>Dari hasil penelitian itu diketahui:</p>
<p><strong>Kecenderungan Radikalisme Ideologis</strong></p>
<p>-Tingkat pengenalan atas organisasi radikal, guru PAI 66,4 %, siswa 25,7 %<br />
-Tingkat kesetujuan atas organisasi radikal, guru PAI 23,6 %, siswa 12,1 %</p>
<p>-Tingkat pengenalan pada tokoh radikal, guru PAI 59,2 %, siswa 26,6 %.<br />
-Tingkat kesetujuan kepada tokoh radikal, guru PAI 23,8 %, siswa 13,4 %.</p>
<p><strong>Dukungan, Kesediaan &amp; Partisipasi Atas Kekerasan</strong></p>
<p>* Tingkat Kesetujuan terhadap tindakan:<br />
-Menangkap atau menghakimi pasangan bukan suami istri, guru 48,2 %, siswa 74,3 %<br />
-Perlawanan terhadap barat atas pengeboman yang dilakukan pelaku teroris, guru 7,5%, siswa 14,2 %.<br />
-Membantu umat Islam di daerah konflik bersenjata, guru 37,8 %, siswa 48,9 %.<br />
-Penyegelan dan perusakan rumah ibadah yang bermasalah, guru 40,9 %, siswa 52,3 %.<br />
-Pengrusakan rumah atau fasilitas anggota aliran keagamaan sesat, guru 38,6%, siswa 68,0 %.<br />
-Penyegelan dan perusakan tempat hiburan malam, guru 43,7%, siswa 75,3 %.</p>
<p>* Tingkat Kesediaan terhadap tindakan:</p>
<p>-Pembelaan dengan senjata terhadap umat Islam dari ancaman agama lain, guru 32,4%, siswa 43,3 %.<br />
-Pengrusakan dan penyegelan rumah ibadah bermasalah, guru 24,5%, siswa 41,1 %.<br />
-Pengrusakan rumah atau fasilitas anggota keagamaan sesat, guru 22,7%, siswa 51,3 %.<br />
-Pengrusakan tempat hiburan malam, guru 28,1%, siswa 58,0 %.<br />
-Penangkapan dan mengkahimi pasangan bukan suami istri, guru 51,9%, siswa33,1 %.</p>
<p>* Tindak kekerasan seperti tawuran sebagai solidaritas teman:<br />
- 14,4 % siswa setuju<br />
- 11,4 % siswa bersedia<br />
- 8,5 % siswa pernah terlibat</p>
<p><strong>Toleransi:</strong></p>
<p>-Secara umum, tingkat toleransi guru PAI lebih rendah dibandingkan siswa, baik dalam lingkup sosial, sekolah, maupun politik.<br />
-Hanya toleransi sosial terkait soal umum, yakni hidup bertetangga, guru PAI terlihat lebih toleran dibanding siswa.<br />
-Tapi: toleransi sosial dalam hal pendirian rumah ibadah maupun penyelenggaraan acara keagamaan komunitas agama lain di tingkat lingkungan tempat tinggal, secara umum cukup rendah.</p>
<p>Menurut Baedowi, populasi yang dijadikan responden merupakan guru PAI di SMP dan SMA di Jabodetabek. Sementara untuk siswa SMP itu diambil hanya untuk Kelas 8 dn 9, SMA kepada siswa di seluruh kelas yang memiliki mata pelajaran agama yang berjumlah 611.678 orang. Jumlah total populasi guru PAI yang diambil sampel adala 2.639 orang, terdiri dari 1.639 guru PAI SMP dan 800 guru PAI SMA.</p>
<p>&#8220;Dari jumlah populasi itu hasilnya jumla total sampel guru yang valid ada 590 guru, di antaranya 327 guru PAI SMP dan 263 guru PAI SMA. Sementara jumlah total sampel siswa valid ada 993 siswa, antara lain 401 siswa SMP dan 592 SMA. Semua kita cek ulang dengan ketat dan melalui skrining,&#8221; jelas Baedowi.</p>
<p>Batas kesalahan pengambilan sampel kurang lebih 3,6 persen untuk guru PAI dan 3,1 persen untuk siswa.<br />
<strong> (zal/iy) detknews.com<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=313&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/04/30/hasil-survey-49-pelajar-setuju-aksi-radikal6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.detik.com/content/2011/04/28/159/LaKIPdalam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ini Dia Hasil Survei LaKIP Yang Menghebohkan Itu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Film Tanda Tanya “?”: Apa Maunya?</title>
		<link>http://pakode.wordpress.com/2011/04/12/film-tanda-tanya-%e2%80%9c%e2%80%9d-apa-maunya/</link>
		<comments>http://pakode.wordpress.com/2011/04/12/film-tanda-tanya-%e2%80%9c%e2%80%9d-apa-maunya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 19:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pakode</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pakode.wordpress.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[“Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.” (Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar) &#160; &#160; &#160; PERLU digarisbawahi, saat menonton film “?” (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=306&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form method="post">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="1" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><img src="http://www.hidayatullah.com/berita/gal149172951.jpg" border="2" alt="" hspace="4" vspace="4" width="300" align="left" /></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="50" align="left" bgcolor="#ffffff"><img src="http://www.hidayatullah.com/berita/gal928674160.jpg" alt="" width="75" /></td>
<td width="50" align="left" bgcolor="#ffffff"><img src="http://www.hidayatullah.com/berita/gal149172951.jpg" alt="" width="75" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</form>
<p><em>“Soal akidah, di antara Tauhid  Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau  dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan  syirik, artinya ialah kemenangan syirik.” </em></p>
<p><em> </em>(<strong>Prof. Hamka</strong>, dalam <em>Tafsir al-Azhar</em>)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>PERLU digarisbawahi, saat menonton film “<strong>?</strong>” (Tanda  Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang  Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya  juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam  menganalisis film “<strong>?</strong>”. Sebagai Muslim, saya telah berikrar: <em>&#8220;Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.&#8221; </em></p>
<p>Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan  saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa.  Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya  mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil  konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah  kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat,  saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama,  Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu.</p>
<p>Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah  sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi  Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid,  yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia  (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu.</p>
<p>Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam,  tetapi berlaku untuk semua manusia.  Syariat Nabi Muhammad saw saat ini  adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara  beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat  Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang  dibawa Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa  Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT  membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai  dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang  menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya  dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu  manusia.</p>
<p>Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan  satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid  (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama  yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama  budaya (cultural religion).<br />
Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!</p>
<p><strong><span id="more-306"></span><br />
</strong></p>
<p>Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika  memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa  kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik,  Rika sangat toleran. Anaknya , – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya  tetap Muslim. Bahkan, ia mengantarjemput anaknya ke masjid, belajar  mengaji al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa  makan sahur.</p>
<p>Di Film “<strong>?</strong>” (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai  sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada  segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan,  BAHWA agama-agama ibarat  jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu  Tuhan.  Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku,  “… s<em>emua jalan  setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke  arah yang sama; mencari satu  hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”<br />
</em></p>
<p>Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang Muslim  pun  awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima sebagai  “orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah  mengambil langkah besar dalam hidupnya.</p>
<p>Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film “<strong>?</strong>”  garapan Hanung Bramantyo ini.  Rika tidak dipersoalkan kemurtadannya.   Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar.  Saat  duduk di bangku SMP, saya sudah menamatkan satu Kitab berjudul <em>Sullamut Tawfiq </em>karya  Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab  ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi  al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya  dipasangkan dengan Kitab <em>Safinatun Najah.<br />
</em></p>
<p>Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (<em>riddah</em>). Dijelaskan juga dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah,  yaitu murtad dengan <em>I’tiqad</em>,  murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari  segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu  terhadap kenabian Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu  terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.</p>
<p>Masalah kemurtadan ini senantiasa mendapatkan perhatian serius dari  setiap Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar  dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad  (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman  batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang  menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.</p>
<p><em>”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia  mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia  dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di  dalamnya.” </em>(QS 2:217).</p>
<p><em>“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana  fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang  dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu  apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah  memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah  sangat cepat perhitungan-Nya.” </em>(QS 24:39).</p>
<p>Jadi, <em>riddah/</em>kemurtadan adalah  masalah besar dalam pandangan Islam. Entahlah dimata kaum Pluralis!  Tindakan murtad bukan untuk dipertontonkan dan dibangga-banggakan! Dalam  perspektif Islam, patutkah seorang bangga dengan kekafirannya?</p>
<p>***</p>
<p>Masih menyorot sosok Rika dalam film “<strong>?”</strong>. Rika  pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Dalam konsepsi Islam, Rika  bisa dikatakan telah melakukan dosa syirik, karena mengakui Yesus  sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam Trinitas. Padahal, dalam  al-Quran Nabi Isa a.s. jelas-jelas menegaskan dirinya sebagai  Rasul  Allah. Nabi Isa adalah manusia, dan bukan Tuhan, atau anak Tuhan.  Ini  pandangan Islam. Tentu, ini bukan pandangan Kristen.</p>
<p>Dalam perspektif Islam, menurunkan derajat al-Khaliq ke derajat  makhluk adalah tindakan tidak beradab. Begitu juga sebaliknya, menaikkan  derajat makhluk ke derajat al-Khaliq juga tidak beradab. Itu musyrik  namanya. Seorang presiden saja tidak mau disamakan dengan rakyat biasa.  Jika lewat, dia minta diistimewakan. Kita diminta minggir. Binatang juga  dibeda-bedakan tempat atau  kandangnya. Adab &#8212; dalam konsepsi Islam &#8212;  mewajibkan seorang Muslim meletakkan segala sesuatu sesuai dengan  harkat dan martabat yang sebenarnya, sesuai ketentuan Allah. Nabi Isa  a.s. adalah utusan Allah. Tugasnya menyampaikan kepada Bani Israel,  siapa Tuhan yang sebenarnya, dan bagaimana cara menyembah-Nya. Nabi Isa  a.s. melanjutkan syariat Nabi Musa a.s.</p>
<p>Menuduh Allah mempunyai anak – menurut al-Quran – adalah sebuah kesalahan yang sangat serius. <strong><em>“Dan  mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat  mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah  dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah  mempunyai anak.” </em></strong>(QS 19: 88-91).</p>
<p>Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam  kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa,  bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas  kapan saja si empunya suka.  Iman juga tidak patut diperjualbelikan:  ditukar dengan godaan-godaan duniawi. Ada perbedaan prinsip antara  mukmin dan kafir.  “<em>Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab  dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di  dalamnya.” </em>(QS 98:6).</p>
<p>Demi mempertahankan iman, Nabi Ibrahim a.s. rela berpisah dengan ayah  dan kaumnya. Melihat tradisi penyembahan berhala pada keluarga dan  kaumnya, Ibrahim a.s. tidak berpikir sebagai seorang Pluralis yang  menyatakan, bahwa semua agama  menyembah Tuhan yang sama, dan punya  tujuan yang sama. Tapi, Nabi Ibrahim berdiri kokoh pada prinsip Tauhid,  mengajak kaumnya untuk meningalkan tradisi syirik.</p>
<p><em>“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar,  pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala ini sebagai tuhan-tuhan?  Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang  nyata.” </em>(QS 6:74).</p>
<p><em>“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikan  negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak  cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya  berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka  barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk  golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya  Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS 14:35-36)</p>
<p><em>“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.”</em> (QS 3:67).</p>
<p>Dan kini, dalam setiap shalat, kaum Muslim membacakan doa untuk Nabi  Muhammad saw dan sekaligus dirangkaikan dengan doa untuk Nabi Ibrahim  a.s. Itu tentu karena kegigihan Nabi Ibrahim dalam menegakkan ajaran  Tauhid dan bukan karena Nabi Ibrahim seorang musyrik!</p>
<p>Maka, sebagai Muslim, saya tentu boleh merasa heran, dan penuh Tanda Tanya, mengapa dalam film “<strong>?</strong>”  &#8212; yang diproduksi dan digarap seorang yang beragama Islam &#8211;  soal  ganti agama, soal keluar dari Islam,  soal pergantian mukmin menjadi  kafir, dianggap perkara kecil dan remeh?</p>
<p>***</p>
<p>Syahdan, para pemikir ateis, seperti Karl  Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Jean Paul Sartre dan  sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang memandang agama dan  Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di era zaman modern ini.  Mereka  beramai-ramai mempermainkan Tuhan. Jean-Paul Sartre (1905-1980)  menyatakan: “<em>even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.”</em> (Karem Armstrong, History of God, 1993). Thomas J. Altizer,   dalam “<em>The Gospel of Christian Atheism” </em>(1966) menyatakan: <em>“Only by accepting and even willing the death of God in our experience can we be liberated from slavery…” </em>(Karen Armstrong, History of God)</p>
<p>Friedrich Nietzsche, dalam karyanya, <em>Also Sprach Zarathustra, </em>mengungkap  gagasan bahwa “Tuhan sudah mati”. Karena Tuhan sudah mati, dan tidak  diperlukan lagi, Nietzsche berpendapat, “Kepercayaan adalah musuh yang  lebih berbahaya bagi kebenaran, dibanding kebohongam.”  Nietzsche ingin  bebas dari segala aturan moral, ingin bebas dari Tuhan. Ujungnya, pada  25 Agustus 1900, ia mati setelah menderita kelainan jiwa dan penyakit  kelamin. (Lihat, B.E. Matindas, Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern,  2010).</p>
<p>Jika direnungkan secara serius,  Pluralisme  Agama sejatinya bisa begitu dekat dengan ateisme. Ketika orang  menyatakan, “semua agama benar”, sejatinya bersemayam juga satu ide   dalam dirinya, bahwa “semua agama salah”.  Sebab, “Tuhan” (God), yang  dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan yang abstrak. Tuhan kaum  Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh diberi nama siapa  saja, diberi sifat apa saja, dan cara menyembahnya pun  boleh suka-suka.  Kapan suka disembah, kapan-kapan tidak suka, bisa diganti dengan Tuhan  lain. Cara menyembah Tuhan, menurut mereka, juga sesuka selera manusia.  Bosan dengan cara satu, bisa diganti dengan cara lain. Sebab, dalam  konsep mereka, tidak ada satu cara yang pasti benar dalam ibadah, sesuai  petunjuk seorang Nabi.</p>
<p>Tuhan dalam Islam mengharamkan babi. Pada saat yang sama, Tuhan dalam agama Kristen menghalalkan babi.</p>
<p>Tuhan,  dalam agama Bhairawa Tantra,   memerintahkan agar menyembelih wanita dan darahnya kemudian diminum  bersama-sama. Tuhan dalam agama Children of God menganjurkan seks bebas,  sebagai wujud rasa kasih sayang antar-sesama manusia.  Kini, di daratan  Amerika dan Eropa bermunculan gereja-gereja nudis. Baik pendeta maupun  jemaatnya, semuanya telanjang bulat saat melakukan kebaktian.  Jika  semua jenis “Tuhan” itu diangga sama saja, maka “Tuhan” yang mana yang  disembah kaum Pluralis?</p>
<p>Jadi, saat  seorang yang mengaku Pluralis   berkata, “Semua agama menyembah Tuhan yang sama”,  maka secara hakiki,  dia telah berdiri di luar Islam.  Sebab, dia tidak lagi menuhankan  Allah.  “Tuhan”, baginya, bisa siapa saja, berupa apa saja, dan berwujud  apa saja. Bisa disebut Yehweh, bisa Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin,  dan bisa juga Iblis!  Yang penting dikatakan “Tuhan”, yang penting God!   Padahal, seorang Muslim sudah mengikrarkan syahadat: “Tidak ada Tuhan  selain Allah”.</p>
<p>Meskipun menyebut Tuhan mereka dengan  “Allah”, tetapi  kaum Quraisy ketika itu dikatakan sebagai “musyrik”,   sebab mereka menyekutukan Allah dengan Tuhan-tuhan lain.  Allah hanyalah  salah satu dari Tuhan-tuhan mereka; bukan Tuhan satu-satunya. Sebutan  bisa sama, yakni “Allah”, tetapi konsepnya  berbeda-beda.  Sebagian   besar kaum Kristen di Indonesia menyebut juga Tuhan mereka dengan  sebutan “Allah”, tetapi konsepnya berbeda dengan “Allah” dalam Islam.</p>
<p>Lain lagi dengan aliran  <em>“Darmogandul” </em>di  Tanah Jawa, yang mengartikan Allah dengan “ala” (bahasa Jawa, artinya  jelek). Dalam salah satu  bait Pangkur-nya, Kitab Darmogandul,   menyatakan: “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik,  mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka  menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus  dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan  masin.”</p>
<p>Jadi, Tuhan yang mana yang disembah kaum  Pluralis?  Jika Tuhan apa pun sama saja, lalu apa artinya Tuhan bagi  mereka?  Ujung-ujungnya bisa jadi: Tuhan tidak penting! Sebab, dalam  pandangan kaum ini, Tuhan yang sejati (Allah), atau manusia, atau setan  dianggap sama saja. Semua bisa menjadi Tuhan dan dituhankan.  Ujung-ujungnya, Tuhan dianggap tidak penting. Bandingkan dengan sosok  Sigmund Freud, psikolog dan salah satu perintis ateisme modern, yang  berteori bahwa “Bertuhan, hanyalah wujud gejala penyakit jiwa  infantilisme (penyakit kekanak-kanakan). (B.E. Matindas, ibid).</p>
<p>Ketidakjelasan posisi teologis kaum  Pluralis Agama, digambarkan oleh Dr. Stevri Lumintang, seorang pendeta  Kristen di Malang,  dalam bukunya, <em>Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, </em>(Malang: Gandum Mas, 2004).</p>
<p>Dicatat dalam ilustrasi sampul buku ini, bahwa <em>Teologi Abu-Abu </em>adalah  posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik  agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang  semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.</p>
<p>Ditegaskan dalam buku ini: ‘’Inti Teologi  Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau  jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun  Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk  menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi  mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling  tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an)  kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’</p>
<p>***</p>
<p>Sosok lain yang secara dominan ditampilkan dalam   Film “<strong>?</strong>”  adalah seorang bernama Surya. Ia  seorang laki-laki Muslim, berprofesi  sebagai aktor figuran.  Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia  terusir dari rumah kosnya. Lihatlah, dalam film ini, Ibu Kos yang  “bakhil” itu ditampilkan dalam sosok berjilbab, dan mengajari anak Rika  agar membaca buku-buku Islam!</p>
<p>Surya  memuji-muji Rika telah melakukan  sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Mereka berkawan akrab. Surya  ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan naif.  Untuk uang, dan  mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat beragama”,  Surya  menerima tawaran Rika agar berperan sebagai Yesus. Ia rela beradegan –  seolah-olah &#8212; dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik saat  perayaan Paskah. Pada kali lain, ia berperan sebagai Santa Claus.  Sebagian jemaat Gereja sempat memprotes sosok Yesus diperankan seorang  Muslim. Terjadi perdebatan. Muncul Pastor yang menyetujui penunjukan  Surya sebagai tokoh Yesus.</p>
<p>Seperti halnya Rika, tampaknya sosok Surya  ditampilkan sebagai representasi fenomena toleransi dan “kerukunan”.    Setelah merelakan dirinya berperan sebagai Yesus, Surya kembali ke  masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat dalam al-Quran yang  menegaskan kemurnian Tauhid. “Katakan, Allah itu satu. Allah tempat  meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun  yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak!  Ini  gambaran dalam Film “<strong>?</strong>” karya Hanung ini.</p>
<p>Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi  doktrin pokok dalam agama Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun  sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), sebagaimana disebutkan dalam  Nicene Creed:</p>
<p>“Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang  Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.  Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang  dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah,  terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi  tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner,  Konsili-konsili Gereja).</p>
<p>Padahal, al-Quran sudah menjelaskan: “<em>Dan  ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya  aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada  padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya  seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6). Dalam al-Quran,  ada cerita Lukmanul Hakim yang menesehati anaknya: “Syirik adalah  kezaliman besar.”</em> (QS 31:13).</p>
<p>Beratus tahun, sejak kelahirannya, Islam  membuktikan sebagai agama yang sangat toleran. Sejak awal, Islam  mengakui dan menghargai perbedaan, tanpa harus kehilangan keyakinan.</p>
<p>Saat Nabi Muhammad s.a.w. diutus, di  wilayah Timur  Tengah, sudah eksis pemeluk Yahudi, Kristen, dan kaum  musyrik Arab. Nabi Muhammad  s.a.w. mengajak mereka untuk memeluk Islam,  mengakui Allah satu-satunya Tuhan dan dirinya adalah utusan Allah.   Nabi tidak menyatakan, “Semua agama sama-sama jalan yang sah menuju  Tuhan!”   Bahkan, ada perintah al-Quran dalam surat al-Kafirun (109): “<em>Katakan,  hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah! Dan  tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah! Dan aku bukanlah  penyembah sebagaimana kamu menyembah! Dan kamu bukanlah pula penyembah  sebagaimana aku menyembah!”<br />
</em></p>
<p>Dalam Tafsirnya, <em>Al-Azhar, </em>Prof. Hamka menjelaskan, <em>asbabun nuzul </em>surat  al-Kafirun ini berkaitan dengan tawaran damai empat tokoh kafir Quraisy  yang resah dengan dakwah Tauhid Nabi Muhammad saw. Mereka adalah  al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan  Umaiyah bin Khalaf. Mereka mengajukan usulan: “Ya Muhammad! Mari kita  berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau  pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah….”</p>
<p>Buya Hamka mencatat:  “Soal akidah, di  antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan  atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan  dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”</p>
<p>Lebih jauh Buya Hamka menjelaskan: “Surat  ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad  bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak  dapat dipertemukan. Kalau yang haq hendak dipersatukan dengan yang  batil, maka yang batil jualah yang menang.”</p>
<p>Itulah paparan Buya Hamka, ulama terkenal  dan salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia.  Kita bisa menyimpulkan,  jika ada yang menyatakan, bahwa  “semua agama adalah jalan kebenaran”,   saat itu dikepalanya telah hilang  konsep iman dan kufur, konsep tauhid  dan syirik. Baginya, tiada  penting lagi, apakah seorang bertauhid atau  musyrik; tak perlu dipersoalkan makan babi atau ayam, minum khamr  atau  jus kurma; tidak penting lagi berjilbab atau telanjang;  tiada beda  antara nikah atau zina; yang penting – katanya – adalah mengasihi sesama  manusia.  Saat itu, sejatinya, agama-agama sudah tidak ada; sudah  diganti dengan SATU AGAMA: “agama global”, “agama universal”, “agama  kemanusiaan”, atau “agama cinta”.</p>
<p>Persaudaraan global antar-sesama tanpa  memandang agama menjadi misi terpenting dari kelompok lintas-agama  semacam Theosofi dan Freemason.  Ketua Theosofische Vereeniging Hindia  Belanda, D. Van Hinloopen Labberton pada majalah Teosofi bulan Desember  1912 menulis:  &#8220;Kemajuan manusia itu dengan atau tidak dengan agama?  Saya kira bila beragama tanpa alasan, dan bila beragama tidak dengan  pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju batinnya. Tidak usah  peduli agama apa yang dianutnya. Sebab yang disebut agama itu sifatnya:  cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya. Jadi  yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir, tetapi  perkara dalam hati, batin.</p>
<p>Inikah yang dituju oleh Film “<strong>?</strong>” Jangan menuduh! Silakan dicermati dan direnungkan!<br />
***</p>
<p>Masih ada sosok lain yang diidolakan dalam film “<strong>?</strong>”.  Namanya, Menuk.  Dia seorang muslimah, berjilbab pula.  Menuk bekerja  di sebuah retoran China.  Bermacam makanan dijual di sana, termasuk   babi.  Dengan mencolok kepala babi ditampilkan. Kata si empunya  restoran, bahan babi dan bahan lain dipisahkan.</p>
<p>Menuk diterima bekerja dengan baik di  restoran ini.  Ia diberi kebebasan ibadah. Dalam salah satu segmen,  ditayangkan Menuk sedang shalat, disampingnya Nyonya pemilik restoran  juga sedang bersembahyang sesuai dengan agamanya.</p>
<p>Pesan dari pemunculan sosok Menuk ini cukup  jelas:  inilah contoh toleransi! Muslimah berjilbab rela bekerja di  sebuah restoran yang menjual babi.</p>
<p>Syukurlah, di akhir cerita, anak pemilik  restoran bersedia memeluk Islam. Ini tentu baik, dalam perspektif   Islam. Tetapi, apakah perlu harus melalui proses bekerja di sebuah  restoran yang menjual babi?</p>
<p>Tujuan baik tidak boleh menghalalkan segala  cara. Tujuan memberi nafkah keluarga adalah baik. Tetapi, cara yang  ditempuh pun harus baik. Banyak muslimah yang gigih membantu ekonomi  keluarganya dengan bekerja keras dalam berbagai bidang profesi, dan juga  toleran dengan yang lain. Tapi, apakah Menuk sosok Muslimah yang ideal  untuk ditampilkan?</p>
<p>Walhasil, Film “<strong>?</strong>” karya Hanung Bramantyo ini membawa pesan besar yang terlalu jelas: <strong>agama apa saja, sebenarnya sama saja! Agama-agama dipandang sebagai jalan setapak menuju Tuhan yang sama. </strong>Juga,  agama-agama dianggap barang remeh; laksana baju, agama boleh ditukar  dan &#8212; kalau perlu &#8212; dibuang kapan saja!  Katanya, demi kerukunan, demi  toleransi, dan demi perdamaian.</p>
<p><em>Akhirul kalam, </em>di era globalisasi  dan kebebasan informasi, saat kemusyrikan dan kemurtadan ditampilkan  dalam wujud  yang menawan dan menghibur,  ada baiknya kita merenungkan  satu ayat al-Quran: <em>&#8220;Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap  nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan setan (dari  jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya  perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.&#8221; </em>(QS 6:112)</p>
<p>Juga, Nabi Muhammad saw pernah bersabda: “<em>Bersegaralah  mengerjakan amal shalih, (sebab) akan datang banyak fitnah laksana  malam yang gelap gulita. Pada pagi hari, seseorang berada dalam keadaan  mukmin, tetapi sore harinya menjadi kafir. (Atau) sore harinya dia  mukmin, pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan  harta-benda dunia.” </em>(HR Muslim). <em>Wallahu a’lam bil-shawab.*/</em></p>
<p>Ditulis oleh : Dr. Adian Husaini, <em>Depok, 10 April 2011 </em></p>
<p><em>Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara <strong>Radio Dakta 107 FM</strong> dan <strong>www.hidayatullah.com</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pakode.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pakode.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pakode.wordpress.com&amp;blog=8733846&amp;post=306&amp;subd=pakode&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pakode.wordpress.com/2011/04/12/film-tanda-tanya-%e2%80%9c%e2%80%9d-apa-maunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/01aa7329b84d95b439c6ee999e54c116?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pakode</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.hidayatullah.com/berita/gal149172951.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.hidayatullah.com/berita/gal928674160.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.hidayatullah.com/berita/gal149172951.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
