Pendapat Ulama Tentang Maulid Nabi Saw.


Pendapat Ulama
Sabda Nabi Muhammad SAW, “kullu bid’ah”, adalah lafal khusus yang menunjukkan keumuman dan merujuk pada kebayakan perkara bid’ah. Para pakar bahasa mengatakan; “Bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada contohnya. Ada lima jenis bid’ah yang berbeda”.

Sulthan al-Ulama al-‘Izz bin ‘Abd al-Salam mengatakan pada akhir kitabnya, al-Qawa’id, ”bid’ah itu terbagi menjadi; yang harus (wajib), yang dilarang (haram), yang dianjurkan (sunnah), yang tidak dianjurkan (makruh), dan yang boleh (mubah).” Dan cara mendeteksinya adalah dengan mencocokkannya pada syariat Islam.

Syeikh al-Islam Ibn Hajr al-‘Asqalani, penyusun Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari mengatakan, ”Sesuatu yang tidak ada contohnya di zaman Rasulullah SAW disebut bid’ah, tetapi bid’ah ada yang baik dan ada yang buruk”.

Imam al-Bayhaqi, dalam karyanya, Manaqib al-Syafi’i mengatakan, ”Bid’ah itu ada dua jenis. Yang bertentangan dengan sunnah dan ijma kaum muslimin. Ini bid’ah yang menyesatkan. Dan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah), yang tidak berlawanan dengan salah satunya.”

Imam Jalal al-Din al-Suyuthi, dalam kitabnya al-Hawi li al-Fatawi menuliskan satu bab khusus dengan judul ”Niat Baik dalam Memperingati Maulid”. Beliau mengatakan, bahwa memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengumpulkan orang untuk membaca al-Qur’an, menceritakan kelahiran Nabi, kemudian memberi sedekah makanan, itu bid’ah yang baik. Pelakunya akan beroleh pahala, karena perbuatan itu mengagungkan Rasullulah SAW.

Imam al-Syihab al-Qasthalani dalam kitabnya, al-Mawahib al-Laduniyah mengatakan “Semoga Allah SWT merahmati orang-orang yang yang dapat mengubah malam-malam di bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi hari-hari gembira yang dapat mengurangi penderitaan orang-orang yang hatinya dipenuhi penyakit”.

Sebenarnya masih banyak ulama lain, yang wara’ dan dalam ilmu agamanya, yang menuliskan pandangan-pandangannya tentang maulid. Misalnya, Imam al-Sakhawi, Imam Wajih al-Din, Imam al-‘Iraqi dan sebagainya. Intinya, mereka sepakat memperbolehkan perayaan maulid. Karenanya, dari semua dalil itu, jelaslah bahwa peringatan maulid dapat diterima dan diperbolehkan. Dan, tak pantas rasanya menuduh ulama yang setuju terhadap maulid nabi, taat dan cinta pada Rasulullah SAW, sebagai ahli bid’ah dan pelaku kesesatan, bahkan kelak di neraka.

Akhirnya, penulis ingin mengutip sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim al-Qusyairi al-Naisaburi dalam Shahih Muslim. Rasulullah SAW bersabda; ”Siapa yang mentradisikan kebiasaan yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala dari perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun”.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW dan mencintai para ulama sebagai penerus perjuangan beliau; dan berhak mendapat syafaatnya kelak di kehidupan sana. Amin!.

One Response to Pendapat Ulama Tentang Maulid Nabi Saw.

  1. rumahnajwa says:

    Amin.. atas do’a nya yang terakhir

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: