Berhala Hedonisme


SAAT ini Luna Maya dan Ariel, yang keduanya menempati strata sosial selebriti papan atas, tersandung masalah yang barangkali tidak akan terlupakan dalam sejarah perjalanan hidup mereka. Gambar pornoaksi mereka kini jadi objek diskusi, mulai tukang sapu di pasar, politisi, jagat dunia hiburan, hingga kalangan akademisi di perguruan tinggi.

Reaksi atau hukuman atas (dugaan) adegan pornoaksi itu sudah ditunjukkan oleh pemodal atau pihak ketiga yang bermitra dengan keduanya. Vonis publik bernada mencibir atas kelakuan mereka. Berita-berita di media elektronik maupun cetak terkesan telah memberikan kesimpulan bahwa mereka berdua adalah penjahat kesusilaan.

Jika benar konklusi media tersebut, keduanya merupakan cermin umum jagat selebriti. Mereka hanya bagian dari sampel manusia-manusia yang terhanyut atau terseret dalam pusaran jagat selebriti, yang berhasil membius dan menghegemoni mereka.

Kita tidak bisa mutlak menyalahkan keduanya. Sebab, dunia yang mereka masuki atau akrabi memang merangsang setiap orang untuk bertarung dalam atmosfer liberal dan menghalalkan segala cara (permisif). Mereka menjadi elemen masyarakat atau komunitas berpenyakit yang dibingkai doktrin Niccolo Machiavelli tentang het doel heiling de middelen (segala cara boleh dilakukan asal tujuan bisa tercapai).

***

Sebelum video seks dengan pemeran mirip Ariel-Luna muncul, kasus seperti itu sering terjadi, meski ranahnya berbeda. Misalnya, tidak sedikit artis yang masuk penjara yang juga berurusan dengan problem gaya hidup. Antara lain, hamil tanpa kejelasan siapa yang menghamili atau anak yang dilahirkan saat menjalani hukuman di penjara bukan buah perkawinan sah.

Komoditas atau industrialisasi dunia hiburan yang serbainstan, pragmatis, dan tak normal telah membentuk wajah masyarakat. Setidaknya, setiap elemen yang terlibat di dalamnya diibaratkan mesin yang kehilangan kecerdasan nurani, kepekaan moral, dan keberdayaan spiritualitas.

Mereka tergiring menjadi kekuatan masyarakat sekuler dan hedonis. Tingkat penghargaan mereka terhadap norma agung dan kebertuhanan sangat rendah. Sementara itu, berbagai bentuk perilaku yang bercorak animalisasi atau pembinatangan diri sangat ditoleransi, ditahbiskan, bahkan dikultuskan. Dalam masyarakat demikian, corak penghormatan terhadap kepatutan atau kepantasan publik sangat diabaikan. Sedangkan modus-modus pelanggaran martabat dengan “memanusiakan diri” diberi ruang pembenaran (penghalalan).

Bentuk pembinatangan manusia atau pereduksian harkat kemanusiaan dapat berupa penghilangan dan pendistorsian citra fitri kemanusiaan, menjerumuskan sesama sebagai objek komoditas dan komersialisasi. Hasrat hewani bercorak hedonisme tersebut pernah dikritik Abdurrahim (1993). Menurut dia, ada tiga Tuhan modern. Pertama takhta, kedua wanita, dan ketiga harta. Tiga Tuhan tersebut telah menjelma menjadi obsesi dan ambisi yang meracuni serta menjajah nurani manusia. Manusia mudah takluk, menyerah, dan jadi robot karena dikuasai Tuhan-Tuhan yang diberhalakan itu.

Ketika eksotisme perempuan, misalnya, memasuki atau bertali-temali dengan kepentingan kapitalisme, seperti industrialisasi seks, komoditas tubuh, bisnis berahi, serta pembenaran dimensi keindahan pornografi dan pornoaksi sebagai seni, tak pelak lagi perempuan dan harta berhasil menjadi dua kekuatan yang menyatu sebagai Tuhan atau agama masyarakat sekuler.

Hedonisme itu semakin parah saat berkawan dengan Tuhan tandingan yang paling populer pada zaman modern ini, yakni duit. Pasalnya, duit termasuk Tuhan yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika, terkenal istilah the almighty dollar (dolar yang mahakuasa). Memang telah menjadi nyata, hampir semua dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit. Bahkan, dalam banyak hal, harga diri manusia bisa dibeli dengan duit. Coba lihat sekitar kita sekarang, hampir semuanya memiliki harga. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi mendapatkan duit. Padahal, malu adalah salah satu bagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsa sendiri demi mendapatkan duit (Abdurrahim, 1993).

***

Kecenderungan negatif di negeri ini adalah menguatnya revolusi gaya hidup yang berkonvergensi pada duit dan perempuan. Karena itu, jagat eksklusif dunia hiburan berwajah semakin vulgar dan liberal. Seolah negeri ini kini dicengkeram kultur eksotisme yang membuat pemeluk agama hanya mendiami wilayah formal.

Desakralisasi agama telah menjadi model yang dikedepankan sebagai berhala kontemporer karena dikalahkan oleh pola hedonisme. Agama, sepertinya, hanya menjadi aksesori sekumpulan oportunis ekonomi dan pemburu popularitas dalam komunitas pebisnis hiburan. Negeri ini didesain sebagai “keranjang sampah”. Negeri ini hanya jadi lahan komoditas budaya yang menghalalkan penelanjangan nilai-nilai religiusitas. Gerak penelanjangan agama semakin terbuka dan jauh dari responsi yang cerdas dan sistematis serta membumi.

Oleh pebisnis hiburan, komunitas pemeluk agama negeri ini kini diajak dan dicekoki agar berlomba jadi pegiat desakralisasi agama, penabur kemaksiatan, dan pembenar angkara. Mereka “mendidik” masyarakat Indonesia, yang berjuluk masyarakat muslim terbesar di muka bumi (the biggest moslem community in the world), supaya menjadi masyarakat yang berani berseberangan dengan agamanya, mendistorsi kesuciannya, dan mengimpotensikannya.

Diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW, “Kesalahan semua umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang berterang-terangan (secara terbuka) berbuat maksiat. Sungguh tidak tahu malu apabila ada orang melakukan maksiat malam, yang tidak ketahuan orang (karena ditutupi Allah), kemudian waktu pagi berkata, ‘Aku telah berbuat demikian dan demikian,’ sehingga dia membuka tutup Allah dari dirinya. Padahal, semalaman suntuk Tuhan telah menutupinya.”

Hadis tersebut menunjukkan, ada jenis perbuatan tercela yang berupa demonstrasi kemaksiatan, pamer aurat, bisnis “onani moral”, kapitalisme seksual, atau komoditas erotisme yang dikemas dengan penyemaian dunia hiburan, seni berelasi liberal berlainan jenis, serta apa saja yang dinilai layak jual dan bisa dikonsumsi publik. Di antara mereka, tak sedikit yang berlindung di balik jubah formalitas agama sebagai penganut dan penjaga moral agama. Namun, di balik itu, ternyata mereka menjadi produsen hedonisme yang menghancurkan jati diri agama. (*)

*) Prof Dr Bashori Muchsin MSi, guru besar dan pembantu rektor II Universitas Islam Malang

Sumber : JawaPos.com

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: