Rekomendasi Kongres Masyarakat Banda se-Indonesia; Banda Dijadikan KEK’


Upaya mengembalikan kejayaan Banda melalui konsep pemekaran dengan mengacu kepada pilihan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kian matang.

Keinginan kuat menjadikan Pulau Banda menjadi KEK diputuskan dalam Kongres Masyarakat Banda se-Indonesia yang digelar 25-26 Juli 2010 di Istana Mini, Banda, Kabupaten Maluku Tengah.

Putusan itu merupakan salah satu rekomendasi kongres masyarakat Banda pertama tingkat nasional yang dihadiri 300 peserta dari seluruh Indonesia. Kongres dibuka oleh Wakil Gubernur Maluku Said Assagaff dan ditutup oleh Bupati Malteng Abdullah Tuasikal.

Ketua Umum Panitia Nasional Kongres Masyarakat Banda, Prof DR HM Burhan Bungin M.Si mengatakan, kongres juga memutuskan pembentukan Ikatan Keluarga Masyarakat Banda (IKMB) di seluruh indonesia. “Saya ditunjuk selaku ketua formatur IKMB. Untuk pertama kali IKMB berpusat di Surabaya. IKMB hanya berada di perantauan,” kata Bungin, kemarin.

Selain itu diputuskan berdirinya Lembaga Kebudayaan Banda. “Untuk melaksanakan keputusan kongres dibentuk kelompok kerja,” ujarnya. Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kongres itu, antara lain;

  • Prof DR Sam Abede Pareno, MM, selaku Badan Pelaksana Harian Yayasan Pendidikan Cendikia Utama Universitas Dr Soetomo, yang juga sebagai anggota panitia kongres Masyarakat Banda se Indonesia.
  • Prof DR Samuel Hatane, Guru Besar FE Universitas Petra Surabaya,
  • DR Slamet Riyadi, dosen Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya,
  • DR Nurhadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.
  • DR Masudi, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo,
  • Prof. DR. Burhan Bungin, Msi, dosen Untag Surabaya,
  • Prof DR Hamadi B Hussein MA, Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya,
  • Laksamana Muda Endy S M.Mpd, dan
  • Des Alwi selaku tokoh masyarakat Banda.

Menurut Bungin, narasumber yang hadir merupakan itu pakar di bidang pendidikan, perubahan sosial, ekonomi, otonomi daerah, sumberdaya kelautan, pengembangan sumberdaya manusia, pariwisata, budaya dan kesenian lokal. Sebelumnya pada Sabtu pekan kemarin di Ambon, Bungin mengatakan, kongres itu digelar bertepatan dengan momen Sail Banda. “Ini kongres pertama tingkat nasional yang dilaksanakan bersamaan dengan Sail Banda. Kita menghimpun masyarakat Banda di tanah rantau untuk kembali ke kampung halaman mengikuti kegiatan ini bersama masyarakat Banda di Maluku. “Kita ingin bersama-sama majukan Banda khususnya dan Provinsi Maluku,” kata Bangin. Orang Banda menurutnya memiliki potensi sumber daya manusia yang mumpuni tapi belum terekspos. “Mereka kita himpun di kegiatan besar ini dan menjadi momen SDM Banda bisa diakomodir,” harapnya.

Tiga agenda besar dibahas dalam kongres itu yakni, mengangkat kembali seni dan budaya Banda baik di tingkat domestik maupun internasional, memperjuangkan Pulau Banda menjadi kawasan ekonomi khusus. “Dan ketiga, membentuk organisasi dan identitas orang Banda, karena selama ini organisasi Banda belum ada di tingkat nasional,” jelasnya.

Bungin mengharapkan, kongres ini dapat melahirkan agenda-agenda penting diantaranya, persiapkan kelompok kerja untuk menindaklanjuti hasil-hasil kongres. Membentuk IKMB di skala nasional. Di tingkat lokal akan dibentuk lembaga adat dan budaya Banda. “Dan harapan kami, masyarakat Indonesia lebih mengenal Banda dibandingkan dunia internasional yang telah mengenal Pulau Banda,” harapnya lagi.

Kongres ini imbuhnya, rencananya akan menghadirkan Putri Indonesia Intelegensi tahun 2010, Nadia Zahara. “Kehadirannya untuk memotivasi masyarakat Banda untuk memperhatikan pendidikan. Kita tidak ingin generasi muda Banda jangan cuma lebih fokus melaut dan mengabaikan pendidikan.

Kita ingin kedepan pendidikan di Banda lebih baik,” ujarnya. Menurutnya, meski nama Pulau Banda telah begitu populer di dunia internasional. Kekayaan pesona alamnya yang dimiliki mampu menyedot perhatian turis mancanegara untuk berkunjung ke daerah itu.

Menariknya, meski namanya telah tersohor di dunia internasional, Pulau Banda tidak begitu dikenal wisatawan domestik. Akibatnya, jumlah turis lokal yang berkunjung ke Banda lebih sedikit dibandingkan turis mancanegara. Dia berharap untuk kemajuan pembangunan Pulau Banda di berbagai sektor, Pemerintah Provinsi Maluku dan Kabupaten Malteng memperhatikan sarana transportasi. Tanpa itu, pembangunan Banda disektor wisata bahari sulit untuk dikembangkan. “Pemda juga harus memberi perhatian besar terhadap pengembangan seni budaya Banda, karena ini aset budaya yang tidak dimanfaatkan, sayang terbuang ditelan zaman.

Harapan utama kami juga, transportasi diperhatikan agar wisata mudah dijangkau. 1 pekan harus ada 3-4 kali kapal laut melayani rute Banda pergi pulang,” pintanya.

(tulisan telah diedit seperlunya agi agar layak dibaca…)

Sumber : Ambon Ekspress 27 Juli 2010

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: