Merdeka Bung?


Merdeka atau Tidak?

Tepat di hari ini, pekikan dan slogan merdeka akan membahana di seluruh penjuru tanah air Indonesia, haul Indonesia Merdeka ke 63 tentunya tidak akan sesemarak peringatan di tahun2 sebelumnya karena bertepatan dengan pelaksanaan Puasa Ramadhan 1431 H/2010M.

sesungguhnya tidak menjadi masalah yang berarti jika menengok sedikit ke belakang bahwa saat proklamasi pertama 17 agustus 1945 pun tercapai, di saat ramadhan menjelang, nampaknya kita harus merasakan benar betapa semangat hiroik yang terjadi saat itu.

namun bisa dipastikan slogan merdeka yang dimaksud tidak sepenuhnya dirasakan banyak pihak, baik kalangan atas maupu bawah, kalangan elit maupun kaum papah, golongan buruh maupun saudagar, golongan cerdik pandai maupun orang awam.

slogan (merdeka) yang awalnya adalah semangat pemersatu, semangat kebihnekaan yang tertulis pada ikon, ceker burung garuda, semuanya berangsur-angsur tergerus jaman, meskipun tampak kokoh dan perkasa, namun toh akhirnya menjadi lembek tak berdaya menghadapi terpaan modernisasi dan kegilaan jaman yang seakan tidak pernah kompromi lagi.

betapa tidak, semangat yang dulu menjadi sangat ideal, dan nampak lantang disuarakan, menjadi ikon kebebasan sebuah bangsa besar seperti Indonseia, yang harus kelur dari kungkungan tirani kolonialisme dan imprialisme. kini tidak berdaya melawan musuh-musuhnya di dalam diri. Sutu hal yang miris dan sulit dipercaya. ditengah-tengah kemajuan dan pencapaian bangsa yang begitu gemilang saat ini. Indonesia, negara kita harus berjalan tertatih-tatih, untuk berusaha memulung semangat kemerdekaan yang tercerai berai, lantaran diterlantarkan oleh generasi akhir kini yang tidak merasa memiliki semangat itu lagi.

hal negatif yang nampak menyebabkan ini bagi mereka adalah, makna merdeka berarti bebas. bebas melakukan apa saja, bebas bertidak dan berbuat seenaknya, bebas menentukan nasib dan perjuangan sendiri. bebas memilih suka atau tida suka mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. dan ini terjadi di mana-mana.

sebagian dari mereka mengartikan merdeka adalah bebas dari nilai dan aturan moralitas yang selalu mengikat mereka, sehingga terkesan apapun yang akan dilakukan tidak terikat dengan etika dan norma yang sedang berlaku. sehingga tidak heran, maslah moralitas dalam bangsa yang memegang teguh prinsip keimanan dan keagamaan nyaris hilang pada jati diri bangsa. ambil contoh, masalah etika pergaulan yang nampak cenderung bebas, individualisme yang mengemuka ditengah gencarnya kampanye humanisme dan kebersamaan, kebebasan berbuat dan bertindak di luar norma dan aturan keimanan dan keagamaan, monopoli dan hedonisme yang menggurita diseluruh lapisan masyarakat. belum lagi preseden buruk yang timbul karenanya, korupsi, konconisme, ketidaktaatan terhadap aturan, kebebasan bertidak, kekerasan, pemaksaan kehendak dan masih banyak lagi.

nampaknya bangsa ini harus mulai belajar kembali apa arti kemerdekaan, sehingga tidak nampak seperti anak kecil yang harus kembali duduk dan belajar tentang makna sebuah kemerdekaan, yang sesungguhnya, kemerdekaan dengan memiliki ketaatan nilai dan moralitas tinggi. bukan kebebasan berkehendak semaunya.

kita harus sadar bahwa cita-cita founding fathers bangsa ini adalah mendirikan sebuah negara yang melindungsi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah indonesia, yang didalamnya mengakui persamaan hak dan kewajiban menjalankan kemerdekaan dengan gegap gempita, sehingga menghantarkan rakyat indonesia bukan saja k depan pintu gerbang, namun sampai masuk ke dalam nya dan menikmati kemerdakaan itu yang menjadi hak seluruh bangsa dan seluruh masyarakat Indonesia.

namun harus menjadi catatan tersendiri, jika slogan kemerdekaan dan demokrasi yang menjadi cita-cita bangsa saja, harus diajarkan oleh orang yang tidakpaham demokrasi dan kemerdekaan, kita tidak butuh seorang guru dari luar untuk mengajarkan semua itu, sebab darah, daging dan tulang kita sudah terlahir dan memiliki semangat kemerdekaan dengan tata nilai yang nyaris sempurna, nah…saat ini sudah dikemanakan?

saatnya kita perbaharui semangat ini dan melihat pada diri sendiri, apa semangat ini yang kita bawa sampai pada puncak cita-cita bangsa? pantaskan jati diri yang melenceng dari bangsa ini berjalan terseok-seok menggapai kemakmuran dan kesejahteraan, sementara penduduknya hanya berpangku tangan dan selalu menunggu, bahkan ditarik hidungnya untuk bisa mengikuti sang majikan, kita sudah merdeka bung…dan sudah agak lanjut usia, jika kita manusia dengan usia 63 tahun…bangkit, dan tentukan nasib bangsa ini.

One Response to Merdeka Bung?

  1. Memaknai kemerdekaan disaat kondisi rakyat masih belum sejahtera rasanya kok kurang pas.. Merdeka atau belum sih negara ini?🙂

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: