Rumus Kaya dan Penghasilan Dosen


Apakah kita termasuk orang kaya, rata-rata atau miskin, sekarang bisa dihitung menggunakan rumus (diambil dari acara talkshow Moneytalks host : Safir Senduk) :

Hasil = (usia : 10) X pendapatan bersih setahun

Misalnya usia 30 tahun dan pendapatan bersih selama 1 tahun 100 juta maka 30/10 dikali 100 juta hasilnya 300 juta.

Bila hasilnya > 300 juta termasuk kaya

Hasilnya = 300 juta rata-rata

Hasilnya < 300 juta termasuk miskin

Atau misalnya pendapatan satu tahun tidak mencapai 100 juta tapi kita memiliki rumah, mobil atau harta lain yang apabila dihitung jumlahnya melebihi 300 juta, maka kita masih termasuk orang kaya. Cuma sayangnya kalau harta kita adalah hibah dari orang tua misalnya, itu tidak bisa dihitung sebagai kekayaan, karena di Indonesia, sebanyak lebih dari 80% orang Indonesia yang disebut kaya adalah bukan karena bantuan dari orang tua, tapi didapatkan dari hasil keringat sendiri.

Nah, sekarang saya bisa menghitung, ternyata saya masih jauh dari orang yang disebut kaya . Iyalah bagaimana bisa disebut kaya, semua orang tahu, di dunia saya yang PNS dibidang pendidikan, seorang yang bergelar Prof. saja dengan masa kerja 15 tahun  Gaji bersihnya 3 juta/Bulan dan saya belum Profesor, artinya gaji saya per Bulan kurang dari 3 juta.

Anehnya atau untungnya ya? Saya tidak merasa miskin, mungkin karena saya selalu melihat masih banyak orang yang kekurangan, tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap, saya selalu bersyukur, meski ibu kadang suka marah, “kalau selalu melihat kebawah kamu tuh tidak akan pernah maju, paling juga jalan di tempat” begitu ibu bilang. Yah, ibu ada benarnya, tapi saya pernah kerja di Industri yang jam kerjanya ketat dan honornya lebih besar dari PNS, Cuma yang saya rasakan dari gajian ke gajian itu sehari serasa sebulan atau malah setahun, jadi meski honnornya besar saya ngga tahan dengan ketatnya jam kerja. Masuk manusia jenis pemalas kali ya

PNS standar gajinya sama karena penggolongannya pun sama (diluar pejabat dan anggota DPR), jadi bila ia kaya pasti ia punya penghasilan tambahan.

Dosen  bisa kaya dan jauh melebihi mereka yang bekerja di industry, karena beberapa sebab

  • Punya projek, partner dengan teman-teman atau bekas mahasiswanya yang punya jabatan di industry.
  • Menemukan suatu hasil penelitian yang berguna untuk masyarakat luas kemudian di komersilkan
  • Punya perusahaan sendiri bisa sebagai konsultan, konstruksi, pengadaan atau jasa training dan lain-lain
  • Baru pulang dari Luar Negri setelah menempuh pendidikan lanjutan, masih tersisa tabungan sisa beasiswa atau dosen tersebut menyambi kuliah sambil bekerja
  • Universitas memenangkan hibah, dosen ikut sebagai team yang menggoalkan hibah tersebut
  • Dosen mengajar di berbagai universitas atau di satu universitas tapi berbagai kelas, mulai dari kelas regular, ekstensi, eksekutif D1, D2, D3 sampai D4, S1, magister atau program Doktor dan di berbagai jurusan
  • Dosen sebagai penulis yang artikelnya sering dimuat media nasional atau local atau punya buku dan bukunya Best Seller
  • Dosen sebagai anggota DPR, atau punya jabatas structural di pemerintahan, misalnya sebagi menteri atau asisten ahli pejabat

Bedanya Dosen PTS dan PTN

  • Dosen PTN menjadi dosen karena memang keinginan sejak awal biasanya selagi masih mahasiswa sudah direncanakan cita-citanya memang ingin menjadi Dosen di PTN tersebut, dan tidak semua bisa diterima sebagai dosen karena persaingan yang ketat. Biasanya mahasiswa terbaik lalu direkruit sebagai Dosen.
  • Dosen di PTS, sekitar setengahnya, menjadi Dosen karena tidak diterima di Perusahaan lain, daripada tidak bekerja maka ia terima kerjaan sebagai Dosen atau ada yang telah punya usaha sendiri, telah mapan sebenarnya, menjadi Dosen hanya karena ingin mengejar status sebagai Dosen, penghasilan tidak ia perhatikan karena hasil usahanya biasanya 10 kali lebih besar dari gaji dosen yang ia terima

Pengalaman teman-teman mereka punya penghasilan diluar gaji, banyak yang mengajar di Universitas lain, ada yang buka catering atau punya toko, atau diluar jam mengajar kerja di konsultan atau punya perusahaan sendiri, seperti jasa training, konstruksi  dan lain-lain atau bisa juga karena orang tua mereka kaya sejak dulu. Saya kagum dengan mereka yang bisa meraih penghasilan tambahan diluar jam mengajar selama mereka tidak melalaikan kewajiban mengajar dan tanggung jawab terhadap mahasiswa.

Kecenderungan semakin kini semakin banyak expert yang bergelar master atau PhD yang menjual ilmunya dengan sangat mahal lewat jasa training ke perusahaan ternama, sampai sini sih tidak apa-apa, syah-syah saja, yang namanya ilmu, mahal bukan? Yang disayangkan adalah bila kewajiban utamanya mengajar mahasiswa, ia wakilkan ke asisten. Sekali-sekali sih tidak apa-apa mungkin ya, tapi kalau keterusan, kasihan mahasiswanya.

Jadi dosen yang mengandalkan gajinya hanya semata dari honor bulanan tidak mendapat penghasilan sampingan, sampai ia bergelar Profesor dan pensiunpun tidak mungkin memenuhi criteria kaya seperti rumus diatas. Salah sendiri  kenapa mau-maunya jadi Dosen dan tidak kreatif ?

Sebenarnya bisa kaya hanya dengan mengajar bila ia migrasi ke Negara lain, misalnya Malaysia, Singapura atau Negara maju yang lain. Dosen ITB banyak yang hijrah kesana, sangat disayangkan sebenarnya, karena pada umumnya jang hijrah adalah dosen-dosen terbaik yang dimiliki negeri ini. Atau banyak yang telah lulus PhD di Negara lain dan tidak mau pulang untuk mengabdikan dirinya di sini, kenapa? Karena bila pulang pun tidak ada yang bisa dikerjakan disini, mengingat fasilitas peralatan yang dipunyai universitas minim dan jabatan yang tidak mau diregenerasikan oleh dosen-dosen senior mereka. Seandainya pulangpun mereka hanya akan menjadi pembantu kakak2 angkatan yang telah lebih dulu jadi dosen. Juga tidak akan ada fasilitas perumahan, kendaraan yang disediakan oleh instansinya, dibandingkan dengan fasilitas yang diberikan di Malaysia misalnya.

Sekalinya berkunjung ke Malaysia, saya bisa ketawa sangat asem saat tanya ke supi taxi yang ternyata honornya melebihi honor saya sebagai dosen :( . Honor teman saya disana sebagi asisten dosen Malaysia  lima kali lebih besar dari honor dosen di Indonesia. Ia bilang dua kali ia mengajar di sana sebagai asisten honornya sama dengan 10 kali ia mengajar di sini sebagai dosen. Honor Profesor di sana 8 kali lebih besar honor Prof disini belum termasuk fasilitas yang disediakan. Siapa yang tidak tertarik untuk mengajar disana? Bagaimana tidak maju Malaysia bila dibanding Indonesia, bila perlakuannya memang peduli terhadap pendidikan. Dan tidak bisa sembarangan bisa mengajar disana, recruitmentnya ketat dan terikat kontrak, dievaluasi pertahun, bila tidak layak maka kontraknya tidak dilanjutkan. Ujian mahasiswa standar internasional, bila mahasiswa gagal, dosen harus bertanggung jawab.

Bandingkan dengan disini, siapapun bisa jadi dosen terutama di PTS, berhasil atau tidak mahasiswa bukan tanggung jawab dosen, layak atau tidak ia jadi dosen tidak pernah ada yang mengevaluasi. Selama ia hadir pada jam pelajaran, tidak masalah dan tidak ada yang bisa dituntut, meski pengajaran hanya berlangsung sekian menit sisanya dilanjutkan dengan take home test. Dan tiba saat mengurus kenaikan jabatan, skripsi mahasiswalah diganti namanya di cover berikut kata pengantar. Hitung dari sekian ratus dosen di PT, berapa persen yang menulis dan punya buku sendiri, kebanyakan hanya menyampaikan dari satu buku orang lain. Test mereka dengan menulis tulisan ilmiah atau artikel hasil analisa atau penelitian mereka sendiri, bahkan dalam bahasa Indonesiapun dijamin gelagapan apalagi bila harus in English.

Saya pun tentunya termasuk, bukan karena saya lebih bagus dibanding dosen lain, saya bisa menulis ini, karena memang kenyataannya seperti itu dan system juga kondisinya memang seperti itu. Bahkan di Institut terbaik di negeri inipun begitu banyak kelemahan terjadi, mengingat kata Prof.Sunara “Bila didiamkan terus seperti ini Indonesia tinggal menunggu waktunya saja dan akan jauh ketinggalan dari Malaysia” Atau teringat kata Prof.Johanes dari Manejemen UI, Indonesia bila didiamkan dan tidak ada perbaikan maka akan menjadi Negara buruh saja, manusia nya dianggap sebagai binatang, dan sudah terasa terlihat dari Industri otomotif saja, Indonesia belum bisa menciptakan kendaraan nasional, kita hanya memiliki kijang dari Toyota kijang, panther dari isuzu panther, kita hanya bisa jadi kuda dari Mitsubishi kuda, apa ada yang asli buatan Indonesia? Tidak ada, disini hanya perakitan saja.  Dan lihat saja, penyiksaan, pelecehan TKI di mana-mana, manusia Indonesia sudah dianggap lebih hina dari binatang, apakah ada yang bertindak? Kita hanya dihimbau sebagi bangsa yang pemaaf. Begitu Prof. Johanes katakan dengan berapi-api di salah satu seminar di Bidakara.

I am doing nothing, Cuma bisa menelan kesedihan saja

Bagaimana generasi anak-cucu saya nanti? Akankah ada perubahan?

dikutip dari : http://webcache.googleusercontent.com

4 Responses to Rumus Kaya dan Penghasilan Dosen

  1. yani says:

    bener bgt mas ode, sy juga dosen di beberapa PTS dan bahkan sy menjabat salah satu struktural..tapi penghasilan bukan berarti tidak bersyukur sy cuma ikut prihatin dengan temen2 saya yg lain padahal dia lulusan s2 PTN bergengsi tp kalo sdh bicara penghasilan diprofesi kita ini…kasian deh ga sepadan dengan pengorbanan dia menimba ilmunya dulu…kejam deh Indonesia kalo sudah bicara penghasilan di bidang ini. Untung sy perempuan ..masih bs mengandalkan gaji suami jd ya cukup2 aja kalo buat biaya hidup sendiri sih..

    • pakode says:

      iya, bu yani…sebenarnya kita-kita ini termasuk orang2 pilihan yang diutus Tuhan untuk mencerahkan dan mencerdaskan orang-orang yang tidak tercerahkan dan orang-orang yang tidak cerdas, tapi jika belum maksimal tercapai…itulah usaha kita..
      tentang gaji….dan rumus kaya…bagi saya…itu ukuran rumus kaya matematika…buktinya banyak orang yg berduit ‘banyak’ alias kaya, gak bisa apa2 ketika kematian datang menjemput…jadi…kaya adalah potensi kita untuk berbagi, seberapa besar itu…tdk terhingga..di matematika juga ada kok istilah itu..

  2. Ashril says:

    Saya suka tulisan ini…
    Tapi saya optimis saja…
    Dengan tetap memberikan masukkan kepada mahasiswa yang akan menjadi pemimpin masa depan, sekiranya Indonesia bisa mengikuti jejak negara lain yang maju karena pendidikannya, dan pendidikannya maju karena “gaji” pengajarnya besar…
    Bahkan contohnya saja di Jepang, pada saat pelantikan pemimpin negara, duduk paling depan adalah Guru, pejabat yang lain ada belakangnya…
    Sementara di Indonesia…😀
    Yah…
    inilah potret kehidupan bangsa…
    Semoga ke depan bisa lebih baik…

  3. irham says:

    Pahami konsep Schumpeter…

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: