Maaf yang Berlebihan



(Sumber gambar : community.gunadarma.ac.id)

Hari kemenangan yang ditunggu akan segera tiba, semua umat Islam menyambut dengan suka cita dan bahagia karena telah berhasil melewati masa ujian pada bulan Ramadhan seperti halnya siswa yang lulus Ujian Nasional tapi tanpa ada tradisi corat-coret baju seragam yang biasa dilakukan sebagai “Tanda Kelulusan” tentunya.

Tapi ada tradisi “Khusus” yang lumrah dilakukan dalam menyambut hari kemenangan itu diantaranya membeli baju baru, menerima THR, membuat ketupat, atau sekedar saling meminta maaf dan tradisi yang terakhir itulah yang seharusnya wajib dilakukan karena orangtua dulu pernah mengatakan tradisi saling meminta maaf bisa menyempurnakan ibadah yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan kalau tradisi yang lain itu sebagai pelengkap saja hanya kebanyakan dari kita selalu memaksakan untuk memenuhi tradisi tersebut.

Karena berjalan waktu maka bentuk tradisi saling meminta maaf selalu dilakukan dengan berbagai cara tapi yang lazim dilakukan adalah saling mengunjungi rumah saudara, kerabat, teman atau tetangga. Tapi ada juga dengan cara mengirim SMS, kartu lebaran, mengirim parcel dan lain sebagainya tergantung dari kalangan ekonomi yang melaksanakannya.

Sebetulnya boleh saja umat Islam diseluruh dunia untuk melakukan cara dalam bentuk apapun tapi terkadang selalu berlebihan atau melampaui batas dalam pelaksanaannya sehingga yang niat asalnya untuk meraih pahala malah menjadi suatu yang sia-sia karena telah mengabaikan “kewajiban” yang lebih diutamakan.

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai mereka yang melampaui batas”. (QS. Al Maidah : 87)

Sebagai contoh seperti tradisi saling meminta maaf dengan mengirim parcel yang biasa dilakukan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas yang ditujukan untuk relasi atau rekan kerja yang berasal dari kalangan yang sama kalau menurut saya pribadi tidak perlu dilakukan karena alangkah baiknya apabila parcel tersebut diberikan kepada mereka yang betul-betul membutuhkan sedangkan relasi atau rekan kerja yang dituju mampu membeli sendiri barang-barang yang terdapat dalam parcel malah bisa melebihi dan biasanya tradisi mengirim parcel bagi mereka yang mampu selalu dijadikan ajang pamer kekayaan atau menunjukkan kasta seseorang yang akhirnya timbullah sifat riya’ atau ingin dipuji dan itu merupakan sifat manusia yang tidak disukai oleh Allah SWT karena telah menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang lain (pujian, sanjungan dan lainnya) sedangkan setiap umat Islam diwajibkan untuk beribadah hanya kepada Allah SWT seperti ayat sebagai berikut ini :

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am : 162)

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu” (QS. Az Zumar : 65)

dalam sebuah Hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :

“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” (HR Muslim, no. 2985)

Kalau saran saya tentang memberikan parcel kepada orang yang lebih membutuhkan dilakukan secara ikhlas tanpa ada maksud selain mengharap ridho dari Allah SWT maka secara tidak langsung dapat menambah pahala ibadah karena itu sangat dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Jangan sampai yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin tapi seharusnya yang kaya ingat yang miskin sehingga semua umat Islam dapat merayakan hari kemenangan dengan senyum bahagia.

Dan juga jangan sampai dalam memberikan parcel atau apapun namanya tidak memperhatikan etika yang ada seperti mengundang fakir miskin untuk antri mengambilnya karena itu dapat membuat sebuah batasan antara si miskin dan si kaya sehingga menjatuhkan derajat dan martabat mereka yang seharusnya kita hormati yang bisa saja tingkat keimanan dan ketakwaannya berada diatas kita.

Itulah makna hari kemenangan yang sebenarnya dimana semua orang mampu merasakan dan jangan sampai kemenangan yang akan kita raih berubah menjadi suatu kekalahan karena kesalahan yang kita lakukan. Semoga Allah SWT memberikan rahmat serta hidayah untuk kita semua dalam meraih kemenangan yang sesungguhnya.

sumber : http://lomba.kompasiana.com

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: