Makna Tahun Baru Hijriah bagi Seorang Muslim dan Bagaimana Menyambutnya:Bagian I


Tahun Baru Hijrah adalah 1 Muharam 1432, yang tahun ini bertepatan dengan 7 Desember 2010. Walaupun lebih dari 80 persen penduduk Indonesia yang berjunlah lebih 230 juta jiwa adalah Muslim, tapi hanya sebagian kecil yang tahu persis kapan tahun baru Islam , bahkan mereka sebagian besar tak hafal nama-nama bulan Hijriah tersebut.

Mengapa umat Islam di Indonesia banyak yang lupa atau tidak tahun tanggal, bulan dan tahun Hijriah?. Tidak lain karena Indonesia bukanlah Negara Islam, walaupun penduduknya mayoritas Muslim. Indonesia menggunakan Tahun Masehi, sehingga tanggal gajian seorang pegawai negeri sipil (PNS) misalnya adalah pada setiap tanggal 1 Masehi atau tanggal 25 bagi karyawan Swasta. Jadi yang didingat hanya tanggal dan bulan Masehi. Begitu juga, hari libur akhir pekan pada sabtu dan Minggu.

Di Negara-negara Islam seperti Arab Saudi, yang dipakai sebagai penanggalan resmi adalah Tahun Hijriah, sehingga tanggal gajian juga disesuaikan dengan tanggal tersebut. Begitu juga hari libur, bukan Sabtu dan Minggu, tapi hari Jum’at dan (mungkin) Sabtu. (Tolong teman-teman Kompasianer yang tinggal di Arab untuk mengoreksinya bila salah).

Saat penulis berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan Ibadah Haji yang kebetulan bertepatan dengan pergantian tahun baru dari 31 Desember 2003 ke 1 Januari 2004, tidak terlihat samasekali baliho-baliho atau spanduk ucapan Selamat Tahun Baru 2004, baik di Madinah maupun Mekah, sebagaimana yang lazim di Indonesia.

Padahal bagi seorang Muslim sangat penting mengetahui tanggal dan bulan Hijriah, karena berhubungan dengan pelaksanaan ibadah. Ibadah-ibadah tersebut antara lain puasa atau saum yang dilaksanakan satu bulan penuh (29 atau 30 hari) pada bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, Wukuf di Arafah saat Ibadah Haji tanggal 9 Zulhijah, Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban pada tanggal 10 Zulhijah, dan Hari Tasyrik tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah serta Tahun Baru Hijriah 1 Muharam.

Pada bulan Ramadhan umat Islam yang sudah baligh (dewasa) wajib berpuasa, dan haram hukum nya bila tidak puasa, termasuk dosa besar. Seorang Muslim boleh tidak berpuasa bila ada uzur atau halangan, misalnya sakit berat, sedang musafir, atau wanita yang sedang mengandung atau menyusui, tapi harus bayar fidiyah (pengganti), baik berpuasa di bulan lain atau dibayar dengan memberi makan orang miskin. Sebaliknya umat Islam dilarang (haram hukumnya) berpuasa pada hari-hari Raya Idul Fitri (1 Syawal) dan Idul Adha dan hari-hari Tasrik atau tanggal 10-13 Zulhijah. Jadi sangat jelas penting bagi seorang Muslim/ Muslimah mengetahui persis tahun Hijriah.

Penentuan tanggal 1 pada bulan Hijriah ditandai dengan terbitnya hilal atau tampak bulan sabit pada saat terbenamnya matahari dengan derajat ketinggian tertentu. Itulah sebabnya sering tanggal 1 Ramadhan saat dimulai bulan puasa, terdapat perbedaan antara satu Negara dengan Negara lainnya, bahkan dalam satu Negara seperti Indonesia, terkadang terdapat perbedaan tanggal 1 Ramadhan, yang berakibat berbeda juga saat lebaran. Ini bisa terjadi karena begitu demokratisnya Indonesia, karena Negara tidak dapat mencampuri urusan keyakinan.

Berbeda dengan Malaysia misalnya, penentuan hari-hari Islam ditentukan oleh Mukti (seperti MUI), dimana Pemerintah dan semua rakyat Malaysia tunduk danmematuhinya, sehingga tidak ada perbedaan hari Raya di seluruh Malaysia.

Sekedar mengingatkan bagi yang lupa, bahwa nama nama bulan Hijriah adalah Muharam, Safar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sa’ban, Ramadhan, Syawal, Zulakedah, dan Zulhijah.

Peristiwa Hijrah dan Perkembangan Islam

Sekedar mengingatkan, bahwa Tahun Hijriah atau Tahun Baru Islam, bukan dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW, tapi tahun saat beliau hijrah (pindah) atau mengungsi dari Kota Mekah ke

Berbicara tentang perkembangan Islam, tentu tidak bisa lepas dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dakwah Nabi di Makkah pada saat itu banyak mengalami rintangan berupa tantangan dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy.

Selama kurun waktu 12 tahun sejak Nabi diutus, dakwah Rasulullah tidak mendapat sambutan menggembirakan, bahkan sebaliknya banyak menghadapi terror, pelecehan, hinaan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy yang dikomandani oleh paman Nabi sendiri, yaitu Abu Lahab.

Karena itu, Rasulullah diperintahkan Allah SWT untuk pindah (hijrah). Akhirnya, beliau meninggalkan kota kelahiranya Mekah, berhijrah ke kota Madinah. Di Madinah, Nabi dan para sahabat Muhajirin mendapat sambutan hangat oleh kaum Anshar (penduduk asli Madinah).

Agama Islam pun mengalami perkembangan amat pesat. Dalam kurun waktu relatif singkat, hanya sekitar 8 tahun, suara Islam mulai bergema ke seluruh penjuru dunia dan Islam pun berkembang meluas ke seluruh pelosok permukaan bumi. Karena itu tidak mengherankan jika peristiwa hijrah merupakan titik awal bagi perkembangan Islam dan bagi pembentukan masyarakat Muslim yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW.

Menurut para pakar sejarah, masyarakat Muslim, kaum Muhajirin dan Anshar, yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah merupakan contoh masyarakat ideal yang patut ditiru, penuh kasih sayang, saling bahu-membahu dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan peribadi. Karena itu, tidak mengherankan jika Khalifah Umar bin Chatab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan tahun baru Islam, yang kemudian dikenal dengan Tahun Baru Hijriah,

Allah berfirman,“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (Al-Hujurat ayat 13)

Umat manusia kadang-kadang terjebak kepada sesuatu yang bersifat jangka pendek, dan melupakan yang bersifat jangka panjang bahkan yang abadi selama-lamanya. Manusia sering tergesa-gesa dan ingin cepat berhasil apa yang diinginkannya, sehingga tidak sedikit yang menempuh jalan pintas, termasuk korupsi misalnya. Islam menekankan bahwa hidup ini adalah perjuangan dan dalam berjuang pasti banyak tantangan dan rintangan. Hidup di dunia adalah sebagai jalan untuk menuju kehidupan Akhirat.

Hikmah dari Peristiwa Hijrah Nabi

Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari Hijrahnya Nabi dan para sahabat dari Mekah ke Madinah saat itu adalah:

Pertama: perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki mkjna yang sangat berarti bagi setiap Muslim, karena hijrah merupakan tonggak kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di Mekah menuju suasana yang prospektif di Madinah.
Kedua: Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa opimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang buruk kepada yang baik, dan hijrah daru hal-hal yang baik ke yang lebih baik lagi. Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara
dan harta benda mereka.

Ketiga: Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.

Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. dan kaum Muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti seperti ini tidak akan pernah berhenti.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ada seorang yang mendatangi Rasulullha dan berkata: “Wahai Rasulullah,saya baru saja mengunjungi kaum yang berpendapat bahwa hijrah telah telah berakhir”, Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya hijrah itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya taubat, dan taubat itu tidak ada hentinya sehingga matahari terbit darisebelah barat”.

Merupakan Bukti Maha Adilnya Allah

Berbeda dengan tahun Masehi, permulaan hari atau pergantian hari bukan di pagi hari atau jam 00.01, tetapi di saat terbenamnya matahari atau munculnya bulan. Itulah sebabanya Tahun Masehi (dari Isa Al Masih) dalam Islam disebut Tahun Syamsyiah (matahari), sedangkan Tahun Hijriah atau Tahun Islam disebut juga Tahun Qomariah (bulan). Kalau Tahun Masehi, setiap bulan terdiri dari 30 hari atau 31 hari, kecuali Februari yang 28 atau 29 hari, tetapi bulan Hijriah terdiri dari 29 dan 30 hari.

Itulah sebabnya, terdapat selisih sekitar 10-12 hari setiap tahun, ada pergeseran kegiatan keagamaan Islam pada tahun Masehi. Sebagai contoh, hari raya Idul Fitri atau 1 Syawal pada tahun 2010 jatuh pada tanggal 10 September, tapi pada tahun 2009, Idul Fitri bersamaan dengan 22 September. Sehingga tidak heran kalau ada saatnya dimana tahun baru Islam (1 Muharam) hampir bersamaan dengan Tahun Baru Masehi (1 Januari).

Dengan perbedaan antara bulan Hijriah dengan bulan Masehi itu, maka bulan Ramadhan atau bulan Puasa setiap tahun bergeser sekitar 10-12 hari setiap tahun Masehi, sehingga suatu saat bulan Ramadhan bersamaan dengan bulan Juni, dan ada saatnya tahun kemudian puasa dilaksanakan bulan Desember.

Berbeda dengan Indonesia dan Negara-negara tropis, hampir tidak ada perbedaan lamanya berpuasa untuk sepanjang tahun, yaitu bulan Januari s/d Desember berpuasa sekitar 14 jam (jam 4 pagi sampai 18.00), tapi di Negara-negara yang mengalami empat musim seperti di Eropa dan Amerike Serikat dan Kanada, juga Australia dan Selandia Baru, lamanya berpuasa sangat bervariasi.

Sebagai contoh bila bulan puasa bertepatan dengan bulan Juni atau Musim Panas di Eropa, maka penduduk yang tinggal di belahan bumi Bagian Utara akan berpuasa sampai 18-20 jam, mulai jan 02 dinihari (Imsyak) sampai jam 22.00 malam baru berbuka, karena matahari baru terbenam.

Keadaan sebaliknya yang dialami oleh penduduk di belahan Bumi Bagian Selatan seperti Australia dan Selandia Baru. Karena bulan Juni adalah Musim Dingin (Winter), maka waktu Imsyak sekitar jam 6.00 pagi dan waktu Magrib sekitar jam 16.00 sore, sehingga mereka hanya berpuasa sekitar 10 jam saja.

Keadaan sebaliknya terjadi bila bulan Desember, maka umat islam yang tinggal di belahan bumi Bagian Utara berpuasa lebih singkat, dan sebaliknya yang di belahan Selatan lebih lama (berbanding terbalik). Sedangkan pada bulan Maret dan September dimana matahari persis ada di Khatulistiwa, kaum Muslimin di belahan Utara dan Selatan berpuasa dengan jumlah jam yang sama, sekitar 12 jam.

Disitulah salah satu bukti betapa adilnya Allah, di daerah dekat Equator (Khatulsitiwa) seperti Indonesia, Malysia dan Negara-negara Arab dimana umat Islam terbesar ada di sana atau daerah Sub Tropis, fluktuasi lamanya berpuasa setiap tahun hampir tidak berbeda banyak.

Seandainya, bulan Ramadhan ditetapkan berdasarkan bulan Masehi, misalnya bulan Juni, kasihan umat Muslim di bagaian Utara yang harus puasa sampai 18-20 jam dengan temparatur sangat panas di atas 50 derajat C, setiap tahun seperti itu, dan orang di belahan Selatan puasanya sangat singkat. Kan sangat tidak adil?. Untungnya Tuhan Maha Adil, sehingga penentuna bulan puasa berdasarkan Tahun Hijriah. bukan Tahun Masehi, Allahu Akbar.

Selamat Tahun Baru Hijriah

Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini

Amin

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: