SURVEI KEPERAWANAN


Bagaimana mengetahui lingkunan anda yang sehat, atau bahkan keluarga terdekat anda tidak terkontaminasi dengan efek negatif dari pornografi serta hal-hal yang menjurus ke arah aktivitas seksualitas yang menyimpang?, dari penelusuran awal, aktivitas yang ditemukan dalam penelitian di Jogjakarta cenderung memiliki kesamaan dengan lingkungan di sekitar kita.

Mari pelajari, amati, dan tangkal efek negatif dari perilaku menyimpang ini, jangan sampai terjadi (lagi) pada diri, keluarga, dan orang-orang terdekat kita.

——————–

SURVEI KEPERAWANAN di YOGYAKARTA

Label: Berita, Hasil Penelitian dan Survey

SURVEI KEPERAWANAN di YOGYAKARTA

Sungguh mencengangkan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di

kota pelajar Yogyakarta. Suatu penelitian yang dilakukan oleh

Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis

dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen

mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.

Penelitian ini dipaparkan dalam jumpa pers Kamis (1/8/2002).

Berikut naskah komplet hasil penelitian yang disebarkan pada wartawan:

Bismillahirrahmanirrahim

97 Persen Mahasiswi Di Yogyakarta, Sudah Kehilangan “Virginitas (Keperawanan)”

Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis
dan Humaniora

I. TUJUAN PENELITIAN

A. Konteks Penelitian

Penelitian ini dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana kerusakan

dan dekadensi moral yang sudah terjadi di tengah-tengah generasi

muda kita, khususnya pada jenjang usia (data interval) antara 17

tahun – 23 tahun atau sering diistilahkan sebagai usia rata-rata

mahasiswa kita dalam menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi.

Mengapa ini sangat perlu dilakukan? Kami memiliki beberapa alasan:

Penetrasi pornografi yang meningkat pesat melalui jaringan

penyewaan VCD porno (model semi-triple), buku dan majalah porno

lokal maupun impor dan masih banyak lagi.

Maraknya aksi seks di kost-kostan yang hampir merata di seluruh

wilayah pemukiman mahasiswa yang ada di Jogjakarta.

Meningkatnya tingkat aborsi, khususnya di region Jawa Tengah

dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini yang dilakukan oleh

kelompok usia sasaran penelitian.

Meningkatnya kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh

mahasiswi-mahasiswi, dalam berbagai tingkatan status dari

penjaja seks sosial, penjaja seks suka sama suka hingga yang

murni komersial.

Meningkatnya tingkat peredaran narkoba sebagai fasilitas

pendukung untuk dapat menikmati seks lebih maksimal.

Meningkatnya kegiatan kumpul kebo, terlembaga atau pun tidak.

Atas dasar alasan-alasan inilah kami terpanggil untuk melakukan

penelitian ini, agar dapat ditemukan berbagai treatment,

formulasi serta langkah-langkah antisipatif untuk merespon

perubahan yang sangat cepat ini.

B. Fokus Penelitian

Adapun kami memfokuskan penelitian ini kepada komunitas

mahasiswi yang tersebar di seluruh institusi perguruan tinggi di

Jogjakarta. Pemilihan kelompok sasaran perjenis kelamin ini

adalah karena pada umumnya secara psikologis mereka dapat lebih

jujur dalam memberikan data yang kami butuhkan. Selain itu

kegiatan seks penuh (intercourse sex) harus dilakukan berpartner

sehingga dari sana secara langsung dapat diketahui seberapa

banyak pelaku kegiatan seks di luar nikah itu dari kelompok

sasaran lawan jenisnya yang bisa jadi dalam deret hitung atau

bahkan deret kali.

Sedangkan untuk wilayah, kami memilih Jogjakarta karena secara

geografis sebaran lokasi perguruan tinggi tidak terlalu

menyulitkan untuk dapat dicapai dalam waktu cepat selain kendala

finansial yang memang dialami oleh banyak peneliti, khususnya

para peneliti sosial.

II.STUDI PENDAHULUAN

Untuk mendukung akurasi dan tingkat keilmiahan penelitian kami

ini, kami membuat kerangka kerja dalam penelitian kami ini yang meliputi:

Metode yang digunakan

Jenis metode yang digunakan adalah Metode Penelitian Deskriptif

Survei, meliputi :

Pendekatan menurut teknik sampling.

Pendekatan menurut timbulnya variable.

Pendekatan menurut pola-pola atau sifat non-eksperimen.

Pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan.

Sumber data

Kami membuat beberapa kuisioner tertutup dan lebih spesifik

melalui wawancara, sehingga sumber data kami dapat disebut

sebagai: responden (orang yang menjawab pertanyaan peneliti,

lisan atau pun tulisan)

Teknik analisis data

Untuk menghindari terjadinya garbage in garbage out (data yang

kita olah tidak jelas, akan menghasilkan sesuatu yagn tidak

jelas) maka kami menggunakan teknik analisis yang digunakan oleh

Denzin dan Lincoln, 1994:429 yang meliputi: koleksi data;

display data; reduksi data dan kesimpulan

penggambaran/vertifikasi.

Jadwal dan waktu pelaksanaan

Penelitian, analisis dan evaluasi akhir kami lakukan mulai dari

tanggal 16 Juli 1999 hingga tanggal 16 Juli 2002 atau sekitar 3

(tiga) tahun. Mengapa terlalu lama, karena kami menetapkan

standar yang tinggi untuk setiap data yang kami kumpulkan serta

jumlah responden yang cukup mewakili. Selain itu, untuk setiap

responden dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dapat

mengeluarkan statement jujur.

III. RUMUSAN MASALAH

A. Deskripsi Informasi

Pada paruh tahun 1999, kami membaca di salah satu surat kabar bahwa hampir 50% mahasiswa di Yogyakarta pernah melakukan kegiatan sexintercourse. Statemen ini tentunya ibarat gunung es karena ternyata kalau kita lihat terus ke belakang, ternyata angka peningkatannya bukan lagi deret hitung tapi deret kali.

Dan data-data ini signifikan.

Lebih jauh karena fungsi Yogyakarta sendiri sebagai kota pendidikan sehingga ketika muncul temuan seperti ini maka banyak sekali hal-hal yang harus kita kaji ulang. Sebagai contoh dengan kegiatan visit-tourism, di satu sisi itu adalah devisa namun pernahkah kita memperhitungkan penetrasi budaya yang ditularkan dari wisatawan manca tadi kepada penduduk lokal yang ternyata

jika kita mau mengkajinya lebih jernih bahwa kerugian kita akibat erosi moral ini ke depannya akan jauh lebih mahal ketimbang jumlah orientasi materi yang dapat kita raih. Dan semuanya adalah ongkos sosial yang sangat mahal untuk ditebus oleh anak cucu kita.

A. Deskripsi Penemuan
Terlalu banyak temuan yang sangat memilukan, yang kami temukan selama kegiatan penelitian ini berlangsung. Secara keseluruhan kami melibatkan 2.000 responden yang berasal dari 16 institusi perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Yogyakarta. Dari angka tersebut, kami berhasil mendapatkan responden yang bersedia untuk menjadi pemasok data sejumlah 1.660 orang responden atau sekitar 83% dari target awal.

Kemudian kami menetapkan angka 1.660 responden inilah sebagai keseluruhan data yang akan dianalisis. Berbagai temuan yang terkadang terlihat lucu tapi terasa sangat pedih itu, dan
setidaknya perlu kami masukkan dalam tulisan report ini sebagai bahan perenungan kita bersama diantaranya :

Hampir semua responden pernah melakukan kegiatan seks, baik itu yang sifatnya self service maupun berpartner. Kegiatan aborsi berbahaya dan berisiko tinggi yang dilakukan
hampir oleh seluruh mereka yang mendapat kehamilah di luar nikah. Salah satu contoh dengan menelan obat flu dan ragi dalam jumlah besar.

Tidak ditemukan tindakan pemaksaan dalam kegiatan seks tadi, atau semuanya dilakukan atas dasar suka sama suka. Rata-rata sudah pernah melakukan tindakan seks hingga tingkat
petting, oral seks dan anal seks. 25% dari total responden (415) bahkan sudah melakukannya dengan lebih dari satu partner.

C. Analisis Data
Total Responden: 1660 orang

Data nominal (discrete)

Teknis : Cluster Random

Analisis :

Hanya ditemukan 3 orang saja responden yang mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks, termasuk juga kegiatan seks self service (masturbasi). Jadi hanya terdapat angka 0,18% responden yang sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks
tadi. Ke-3 responden tadi juga mengaku sama sekali belum pernah mengakses tontonan maupun bacaan erotis.

Hanya ditemukan 46 orang yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner di bawah level petting sex. Jadi sekitar 2,77% saja. Total dengan responden sebelumnya, jumlah responden yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner : 2,77% + 0,18% = 2,95% saja. Jadi 97,05% mahasiswi di Yogyakarta pernah melakukan kegiatan sexintercourse pranikah atau 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan kegadisannya dalam proses studinya.

100% dari 97,05% data responden itu mengakui kehilangan keperawanannya (virginitas) dalam periodisasi waktu kuliahnya.  73% menggunakan metode coitus interupt sedangkan selebihnya menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas. 63% responden melakukan kegiatan seks di kos-kosan partner seks prianya. 14% responden mengaku melakukan kegiatan seks di kos-kosan atau kontrakan yang disewanya. 21% mengaku melakukan kegiatan seks di hotel kelas melati. 2% responden melakukan kegiatan seks di tempat-tempat wisata yang terbuka.

Dari 1660 responden, 23 orang diantaranya mengaku telah melakukan kegiatan kumpul kebo atau tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan selama lebih dari 2 tahun (1,386%). 5 orang (0,3%) diantaranya mengaku mendapatkan izin dari orangtua si responden.
2 orang diantaranya (0,12%) bahkan tinggal seatap dengan orangtua dari salah satu pihak, dan kegiatan seksnya diketahui oleh orangtua tanpa treatment pernikahan.
1.417 responden (85,36%) mengakui tidak punya aktivitas lain selain kuliah.
98 responden (5,90%) mengaku pernah melakukan aborsi. 23 responden (1,38%) dari 98 responden itu mengaku pernah melakukan aborsi lebih dari satu kali.
12 responden (0,72%) dari 98 responden itu mengaku pernah melakukan aborsi lebih dari dua kali.

D. Hipotesis

99,82% mahasiswi di Yogyakarta sudah mengenal seks dan pernah melakukan kegiatan yang mengarah ke sana.
97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan virginitas melalui kegiatan intercourse-seks.

D.Hipotesis:

Dengan kemajuan teknologi informasi yang luar biasa dan tatanan dunia global, seks telah menjadi kebutuhan pokok pada usia yang sangat dini. Keterangan : Usia dini di sini bukanlah kematangan organ seks, tapi kematangan psikis untuk menghadapi risiko dan konsekuensi akibat kegiatan seks tadi. Sistem pendidikan kita telah gagal mencerdaskan moral anak bangsa.

IV. KESIMPULAN, SARAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan:

97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan. Virginitas/ keperawanan bukanlah sesuatu yang sangat penting lagi pada saat ini.

Paradigma budaya kita sudah bergeser jauh.

Rambu-rambu agama sudah ditinggalkan.

Bangsa kita sedang mengalami proses erosi moral yang luar biasa menakutkan. Dengan kualitas generasi muda ang bobrok seperti ini, dapat dibayangkan betapa mengerikannya masa depan kita 20 tahun ke depan.

Saran dan Rekomendasi:

Harus sesegera mungkin dibuat Perda tentang pengelolaan pemukiman komersial.

Standar paradigmatik usia menikah harus mulai diturunkan untuk mengantisipasi kegiatan seks di luar nikah.

Peraturan yang melarang seorang pelajar menikah harus direvisi. Peraturan, persyaratan dan biaya pernikahan yang ditetapkan oleh pemerintah harus diturunkan.

Departemen Agama harus mengkaji untuk menginstitusikan lembaga nikah siri.

6 Responses to SURVEI KEPERAWANAN

  1. abdul hamid says:

    aduh yang bener pak,setahu gue mahasiswi jogja itu suci dan bersih dan taat beragama.kalau memang hasil survey bapak bener….terus bagaimana kedepannya bisa bisa nanti mahasiswi jogja bisa kayak amerika dong……

  2. onag says:

    cewek saya ingin kuliah di situ..padahal ingin sekali mengikuti saya di malang,yg lebih aman..

  3. Ada sumber dokumen penelitian aslinya ?

  4. mengerikan ya hasil survei-nya

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: