Dosen ala “Simon Cowell”


Siapa yang belum pernah nonton? Acara ini menarik karena memberi kesempatan yang sama untuk jadi penyanyi kelas dunia bagi jutaan penyanyi (yang merasa dirinya berbakat). Pada proses audisi, mereka akan diberi waktu untuk menunjukkan bakat menyanyinya di depan 3 orang juri. Ketiga orang juri tersebut yang menentukan apakah peserta audisi lolos di babak selanjutnya atau tidak. Di American Idol, ada 3 juri legendaris yang mempunyai ciri khas masing-masing, yaitu Randy Jackson, Paula Abdul dan Simon Cowell. Setelah selesai perform, para juri akan memberikan komentar terhadap penampilan masing-masing kontestan. Namun jutaan penggemar acara ini lebih suka menantikan komentar dari Simon Cowell yang kadang kontroversial. Kenapa dinantikan? Karena dari komentarnya akan nampak siapa-siapa yang memang punya potensi menjadi bintang.

Tapi tidak sedikit kontestan yang sakit hati dan benci setengah mati dengan Simon Cowell karena komentar pedasnya (yang sering dianggap penghinaan oleh kontestan yang dikomentari). Bisa dibayangkan betapa “sebel”nya para kontestan, setelah berlatih dengan keras untuk dapat tampil, kemudian dengan logat British-nya yang kental muncul komentar-komentar seperti : “Who’s your singing teacher? Get a lawyer and sue her.” “I presume there was no mirror in your dressing room tonight.” “You have just invented a new form of torture!” “Did you really believe you could become the American Idol? Well, then, you’re deaf.” “What do you think we are looking for – a two-year-old who can’t sing?” “Can I ask you a question? Do you and your girlfriend sing together at home? Have the police ever called?” “I’m tempted to ask if you sang that the night before your wife left you.” “That sounded like Stevie Wonder… with a really bad cold.” “It would be a challenge to find someone to sing worse than you.” “If you were a horse they’d shoot you.”

Komentar-komentar negatif yang sangat ekstrim itu pasti menyakitkan hati bagi yang dikomentari (yang mungkin jadi salah satu faktor kenapa acara American Idol begitu populer). Namun, komentar positif dari Simon Cowell dapat menunjukkan kualitas seorang bintang. Dalam acara British Got Talent tahun 2010, seorang kontestan bernama Liam McNally yang berusia 14 tahun, setelah perform lagu “Danny Boy” dengan indahnya di babak audisi, mendapatkan komentar dari Simon Cowell: “I wouldn’t call you a good singer…” katanya dengan enteng. “I wouldn’t.” sambungnya. Penonton tersentak. Raut muka Liam McNally yang masih SMP itu langsung tegang mendengar komentar tersebut. Namun kemudian Simon melanjutkan, “I will call you a FANTASTIC singer!”. Dan Liam McNally memang akhirnya melaju hingga babak final. Susan Boyle di tahun sebelumnya, dengan penampilannya yang nampak udik pada babak audisi, mendapatkan komentar dari Simon “‘I knew the minute you walked out that we were going to hear something extraordinary, and I was right.”

Walaupun kalimat tersebut dimaksudkan untuk bercanda, namun penilaian Simon benar. Susan Boyle melaju ke babak final Britain Got Talent, dan popularitasnya meroket ketika video klip audisinya di Youtube ditonton lebih dari 58 juta kali. Simon Cowell adalah orang jenius di bidang musik. Dari pengalamannya bertahun-tahun di bidang musik dan hiburan, dia bisa dengan mudah melihat apakah seseorang berbakat di bidang musik atau tidak, dengan mudah bisa membedakan mana suara yang berkualitas, tahu jenis-jenis suara seperti apa yang nanti akan digemari, dapat memprediksi apakah seseorang perlu meneruskan karir di bidang tarik suara atau berhenti sama sekali, mengerti bagaimana suara tertentu perlu dipoles untuk menjadi suara emas dan sebagainya.

Di dunia akademik, tak jarang ditemui dosen ala “Simon Cowell”. Mahasiswa memberikan predikat dosen seperti ini dengan sebutan “Dosen killer” karena cara mengajarnya yang ketus dan tidak bersahabat. Materi yang diajarkan berat dan sangat “to the point” tanpa diberi variasi apapun sehingga mahasiswa lebih banyak yang bingung daripada yang mengerti. Kala memberi nilai terhadap hasil ujian juga super pelit dan menerapkan standard nilai yang tinggi. Nilai ujian di bawah 40 (grade D dan E) bertebaran tanpa ampun. Jika ada mahasiswa yang kurang jelas lalu bertanya tentang materi yang diajarkan, alih-alih menjelaskan, dia malah akan berbelit-belit – menjawab dengan pertanyaan, menyuruh mahasiswa membuka buku ini, mencari di sumber ini-itu sampai menuduh bahwa mahasiswa tersebut tidak mendengarkan saat dia menerangkan.

Walaupun tidak se-ekstrim Simon Cowell, komentarnya terhadap mahasiswa lebih banyak menghina ketimbang memuji. “Mahasiswa sekarang tidak bisa menganalisa dengan baik, sudah kuliah tapi budaya belajarnya sama kayak anak SMP/SMA.” “Cara belajar mahasiswa sekarang cenderung mau instan seperti yang diajarkan oleh banyak bimbingan belajar” “Mahasiswa sekarang manja, maunya cuman yang gampang-gampang, kalau dikasih yang sulit, dosen disalahkan.” “Mahasiswa sekarang belajar hanya agar nilainya bagus dan lulus ujian, tidak peduli dengan filosofi ilmu.” dan sebagainya. Sakit hati? Pasti. Dosen-dosen ala “Simon Cowell” tidak akan menjadi dosen yang populer, apalagi disukai mahasiswa, tidak peduli sepintar atau setinggi apapun gelar yang dimilikinya. Dimusuhi yang iya. Dihujat dengan keras (dan siap-siap dipecat, dimutasi atau dikurangi jam mengajarnya kalau yang bersangkutan tidak punya power, jenjang akademik yang bagus atau berkontribusi terhadap universitas).

Dosen-dosen ala “Simon Cowell” ini tahu persis bahwa dirinya akan dimusuhi dengan cara mengajar yang kritis dan nilai pelit seperti itu. Dia tentu bukan orang bodoh dan pasti dengan sadar mengambil resiko tersebut. Dia jelas mempunyai arah dan tujuan ketika mengambil resiko untuk memilih menjadi dosen semacam itu. Idealnya, tentu dosen-dosen ala “Simon Cowell” ini ingin membentuk mahasiswa yang diajarkan menjadi mahasiswa yang tangguh, cerdas, dapat belajar mandiri, dan memiliki skill yang bagus sehingga dapat digunakan di dunia kerja. Tidak disangsikan, tujuannya mulia. Lain Simon Cowell, lain Paula Abdul. Sebagai sesama juri di American Idol, penilaian Paula Abdul, cenderung lembek dan tidak (mau) menyakitkan hati kontenstan. “You’re not ready yet, dear…” komentarnya dengan lembut ketika seorang kontestan wanita bernyanyi dengan buruk sementara Simon tanpa sungkan menambahkan, “…and you will never be ready!” Dosen ala “Paula Abdul” lebih populer dan digemari.

Memberi nilai dengan murah dan mengajar dengan berbagai variasi agar tidak membosankan di mata mahasiswa. “Asal mahasiswa senang” menjadi motonya dalam mengajar. Dan memang mahasiswa menjadi senang. Lulus dengan nilai A di kelas dosen ala “Paula Abdul” adalah biasa, sementara lulus dengan nilai “A” di kelas dosen ala “Simon Cowell” akan sangat prestisius bagi si mahasiswa. Lalu sebaiknya dosen harus jadi siapa? Jadi “Simon Cowell”, “Paula Abdul” atau “Simon Abdul”? Setiap mahasiswa adalah unik dan harus diperlakukan secara khusus. Mahasiswa yang cemerlang, harus ditarik sedemikian rupa agar potensinya berkembang. Berikan proyek-proyek yang membuat dia berpikir, belajar, bekerja dan mendapatkan ketrampilan yang sesuai dengan potensinya. Kalau harus dikecam karena teledor, lakukan. Kalo harus dipuji, pujilah. Kalo harus sudah waktunya dilepas, lepaskan. Saat harus jadi Simon Cowell, demi kebaikannya, ya kenapa tidak. Sementara untuk mahasiswa yang “kesasar”, salah jurusan, lemah secara akademik, tidak memiliki gairah terhadap apa yang dipelajari, harus diperlakukan dengan berbeda. Menjadi dosen ala “Simon Cowell” untuk mahasiswa semacam ini malah akan membuat mahasiswa tersebut sakit hati, kecewa atau malah memilih berhenti jadi mahasiswa.

Di sini dosen perlu jeli menemukan potensi dari si mahasiswa. Seringkali perlu waktu dan kesabaran untuk menyadari potensi tersembunyi tersebut dan tentu terus menyemangatinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Tentu ini jadi tantangan menarik bagi mereka yang berprofesi sebagai dosen (atau berkeinginan menjadi dosen). Tapi harus siap dengan penghargaan “pahlawan tanda jasa” dan tetap berbangga ketika si mahasiswa sukses di kemudian hari namun sudah tidak pernah ingat dengan guru-guru atau dosen-dosennya lagi.

————————–

Written by Windra Swastika Monday, 07 February 2011 09:20

Windra Swastika Dosen Teknik Informatika, Universitas Ma Chung, Malang dan sedang menempuh studi doktoral di Universitas Chiba, Jepang (memperoleh beasiswa DIKTI Batch 3/2010) windra.swastika[at]graduate[dot]chiba-u[dot]jp

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: