Ngampus di UM Malang (Bag. 1)


Alhamdulillah, akhirnya resmi diterima juga sebagai mahasiswa program doktoral di PPS Univ. Negeri Malang atau lebih dikenal dangan singkatan UM Malang. Sebuah universitas yang konon menjadi dapurnya kurikulum di tanah air ini akhirnya mampu mengakomodasi keinginan penulis dan puluhan teman-teman lain pada tahun ini yang berniat melanjutkan studi di salah satu kampus kebanggaan kota Malang dengan slogal the learning university.

Setidaknya dari 653 Mahasiswa BPPDN yang mendaftar Tahun ini di UNM, yang diterima sebanyak 242 sebagai calon Dosen dan 80 mahasiswa lainnya masuk dalam kategori Dosen dengan status yang diusulkan ke jalur Program BPPDN Tahun Akademik 2013/2014.
Konsentrasi program yang menjadi penulis adalah program teknologi Pembelajaran yang akhir-akhir ini mulai hangat dibincangkan kembali seiring perubahan paradigma pendidikan dan berubahnya kurikulum lama kepada kurikulum 2013.

Selain karena menjadi kebutuhan urgen bagi pengembangan keilmuan di tempat tugas awal yakni Universitas Pattimura Ambon tempat penulis mengabdikan diri, di samping itu juga motivasi dan keinginan kuat untuk mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi yang selama ini sudah dirintis melalui berbagai mata kuliah yang diampu pada tingkat Fakultas dan perguruan tinggi di tempat asal, dan beberapa kampus swasta yang sempat penulis sambangi sebagai dosen tamu, jadi tidak benar juga jika kami yang beragkat melanjutkan studi hanya karena semata-mata ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan, jabatan apalagi kepangkatan.

Yang menjadi tantangan tersendiri adalah ketika penulis harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru di UNM Malang karena meski penulis terbiasa dengan kondisi kehidupan yang cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar, tetapi sempat kelabakan juga ketika membayangkan bagaimana nantinya tiba di lingkungan UNM Malang sementera penulis tidak mengenal siapapun di lingkungan yang baru itu, setidaknya untuk mudah dimintai tolong mencarikan penginapan, atau lokasi bermukim nantinya, apalagi penulis sendiri tidak begitu mengenal kondisi kota Malang dan seluk beluknya.

Meski sempat mempelajari peta online versi google map tentang letak kampus dan seluk beluknya, namun tetap saja masih bingung bagaimana memulai studi di kampus UNM itu jika tidak ada kawan, sahabat atau relasi yang bisa diminta referensinya. Sementara dari pertemanan jejaring sosial FB pun nampak beberapa kawan yang diminta referensi tidak lengkap bahkan cenderung tidak banyak membantu. Sempat ada beberapa kawan yang menunjukan letak penginapan sementara, untuk kebutuhan registrasi awal, dan lain sebagainya tetapi tergolong jauh dan dengan harga yang relatif mahal.

Penulis sendiri sebenarnya dinyatakan lolos bersama seorang teman kantor hanya saja, sejak awal niatan penulis bahwa tidak akan membebani kawan atau siapapun untuk urusan studi lanjut ini, termasuk pengurusan registrasi, pendaftaran, hingga tempat tinggal nantinya. Karena pikiran penulis bahwa, referensi teman mungkin akan semakin membingungkan sebab kota ini terasa baru bagi penulis, di samping itu penulis masih beranggapan bahwa dengan hidup di era yang serba modern dengan sambungan jejaring sosial, yang mendunia (global) siapapun bisa dimintai tolong, siapapun bisa diajak kerjasama, dan paling penting informasi apapun bisa didapat dengan mudah melalui internet. Meski tidak sepenuhnya benar pendapat itu, dengan adanya internet penulis nyatanya cukup terbantu.

Pengalaman penulis yang pernah belajar sistem booking airline, pesawat, kereta api dan jalur transportasi lainnya, sangat membantu menjadwal seluruh keberangkatan dari rumah hingga tempat studi di Malang, dengan biaya yang sudah diketahui lebih awal, dan tentu biayaya bisa ditekan dan cukup murah tentunya. Hanya saja jika menggunakan cara ini kemungkinan besar penulis tidak akan berbaur dengan teman yang lain, dan menjauhkan silaturahim dan sudah dipastikan akan memperpendek jangkauan dan jaringan pertemanan di tingkat kampus, belum lagi jika menggunakan sistem booking hotel setiap harinya maka biaya akan membengkak, padahal di seikitar kampus biasanya ada wisma (guest house) atau penginapan murah yang bisa ditinggali sementara dengan beberapa rupiah saja.

Ada cerita unik rupanya ketika penulis berusaha mencari tempat bermukim saat pertama kali datang untuk mulai belajar di kota Apel (Malang) ini; yakni dimulai ketika penulis berusaha mengontak beberapa teman di dunia maya, dan hasilnya ada yang berusaha dengan ikhlas membantu memberikan referensi tempat tinggal sementara yang menjadi rujukan, tetapi setelah didatangi ternyata sudah terisi dengan beberapa tamu. Atas saran seorang SATPAM mereferensikan sebuah guest house yang berjarak 3 km dari Kampus, dan terpaksa di situlah sementara penulis mengatur waktu untuk tinggal sementara selama 2 hari sambil menunggu ditemukannya tempat tinggal yang agak layak bagi seorang mahasiswa pascasarjana.

Seorang teman sebenarnya sudah mereferensikan sebuah tempat tinggal yang ditinggalinya dekat dengan kampus, kebetulan teman ini satu kuota tes dengan penulis di jurusan yang sama. Tetapi sekali lagi, ternyata nomor kontak yang diberikan dulu tidak lagi tersimpan dalam buku telepon. Padahal harapan satu-satunya adalah bisa menghubunginya.

Subhanallah, ternyata Allah Swt. mendengar doa’ku, di antara kesibukan saya mencari nomor kontak teman ini pada petugas untuk membuka filenya. Sosok teman ini tiba-tiba muncul di hadapan saja, maa ashaba min mushibatin illa bi iznillah kata penilis dalam hati, sungguh pertolongan yang luar biasa, dan ketika ditanyakan apakah ada tempat tinggal yang tersisa untuk penulis, diapun menjawab masih ada 1 kamar yang sudah dicari berhari-hari oleh teman2. Rupanya penulis seperti sudah disiapkan secara khusus untuk menempati kamar yang kosong itu, bersama beberapa mahasiswa lainnya, sebab agak sulit jika baru mencari kontrakan yang dekat dari kampus di saat sudah mulai registrasi dan pendaftaran. Dan teman inipun berseloroh bahwa, “rejeki bung, anda sejam saja baru datang sudah temukan tempat tinggal, padahal mereka ini sudah keliling 3 hari untuk dapatkan rumah ini”.

Penulis hanya berbaik sangka saja bahwa mungkin do’a restu orang tua dan keluarga besar, tetangga ketika melepas keberangkatan untuk melanjutkan studi, dengan harapan akan dimudahkan di kemudian hari, semoga awal yang baik ini akan diakhiri dengan kenangan yang baik, tetapi bagi penulis, tidak akan ada kualitas yang baik jika tidak melewati sebuah ujian, ke depan masih banyak halangan dan rintangan yang menghadang, yang masih harus dijalani. Jadi..move on..

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: