Researching

Ragam Penelitian yang pernah dilakukan selama ini masih berkisar tentang tema Pendidikan Islam dan Corak Kebudayaan Masyarakat Maluku, namun tulisan-tulisan tersebut belum sempat terpublikasi dikarenakan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, sebagaimana tulisan yang pernh muncul dalam ranah dunia maya lainnya.

Beberapa  Tulisan ini, kemudian dihadirkan kembali dalam konteks kekinian sebagai hasil review yang akan mengalami penyempurnaan dari masa-ke masa. di antaranya adalah :

——————————————————————————————

Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

(Menelusuri Sejarah dan Perkembangannya Masa Abbasiyyah)

Oleh : Ode Abdurrachman

A.   Pendahuluan

Sejarah panjang perkembangan pendidikan Islam, telah muncul seiring perkembangan Islam itu sendiri, dimana kehadirannya telah menanamkan nilai-nilai ajaran Islam, sekaligus memperbaiki perilaku masyarakat Arab pada saat itu.

Di awal perkembangan Islam, pola pendidikan yang ada berlangsung secara umum dan dapat dikatakan masih bersifat informal, dimana lebih berkaitan dengan upaya-upaya al-Daulah al-Islamiyah dalam penyebaran dakwah yang berisikan penanaman nilai-nilai ajaran keislaman, khususnya ibadah dimana biasanya banyak dilakukan di rumah-rumah yang dikenal dengan Da>r al-Arqa>m.
Seiring perkembangan Islam dan terbentuknya masyarakat Islam, masjid-masjidpun mengembangkan peranannya menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam yang dalam pelaksanaannya dikembangkan dalam bentuk halaqah (learning circle).

Ketika lembaga masjid sudah tidak memungkinkan lagi dapat menampung dan memfasilitasi para pelajar dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, maka muncullah masjid-khan, yakni masjid yang sudah dilengkapi dengan ‘iwa>n atau pemondokkan.

Pada masa-masa itu, selanjutnya kemudian berkembang institusi yang lebih dikenal dengan madrasah yang lebih dianggap lembaga pendidikan Islam yang representative, bahkan menjadi trend hampir diseluruh kawasan Islam, sebagai cikal bakal lahirnya institusi pendidikan Islam modern. Madrasah yang dimaksudkan adalah lembaga keilmuan tinggi (the institutions of higher learning) dimana merupakan tonggak lahirnya jami’iah (perguruna tinggi/universitas)

Dalam sejarah Islam dikenal banyak sekali tempat yang menjadi pusat pendidikan, dengan jenis tingkatan dan sifatnya yang khas. Sayyed Hossein Nasr, mengklasifikasikan pusat-pusat pendidikan ini sebagai berikut; Masjid, Kuttab, Madrasah, Observatorium, Bi>ma>ritha>n, dan Kha>nqa>h.

Dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan perkembangan pendidikan Islam di masa Abbasiyyah bertolak dari sejarah pendidikan Islam dan perkembangannya, dan perkembangan lembaga pendidikan Islam, serta tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.

B. Institusi Pendidikan Islam

Munculnya berbagai bentuk pendidikan Islam yang tersebar dan menjamur saat ini, tidak terlepas peran lembaga-lembaga pendidikan Islam pada masa kejayaan Islam (masa Rasulullah Saw, Al-Khulafa’, al-Rashidin, Bani Ummayah, Bani Abbasiyah), telah dikenal institusi pendidikan Islam, namun pelaksanaannya masih pada tempat yang sederhana. Lebih jauh lagi George Makdisi mengklasifikasikan institusi-institusi tersebut menjadi dua periode, yakni periode pra-madrasah dan periode pasca-madrasah.

1. Kuttab

Pada mulanya kuttab (maktab) berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak, namun ketika ajaran Islam mulai berkembang, pelajaran ditekankan pada penghafalan al-Qur’an. Menurut catatan sejarah, kuttab sebenarnya telah ada di negari Arab sejak masa pra-Islam, walau belum begitu dikenal dan baru berkembang pesat setelah periode bani Ummayah, namun seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam, jumlah pemeluk Islampun semakin bertambah. Hal ini menuntut dikembangkannya kuttab yang ada untuk mengimbangi laju pendidikan yang begitu pesat. Pada perkembangan selanjutnya, selain kuttab-kuttab yang ada di masjid, terdapat pula kuttab-kuttab umum yang berbentuk madrasah, yakni telah mempergunakan gedung sendiri dan mampu menampung ribuan murid.

Kuttab jenis ini mulai berkembang karena adanya pengajaran khusus bagi anak-anak keluarga kerajaan, para pembesar, dan pegawai Istana. Dan diantaranya yang mengembagkan pengajaran secara khusus ini adalah Hajjaj bin Yusuf al-Saqafi (w.714) yang pada mulanya menjadi muaddib bagi anak-anak Sulayman bin Na’im, Wazir Abd al-malik bin Marwan.

2. Mana>zil al-‘Ulama>’ (Rumah Kediaman para Ulama>)

Bentuk pendidikan ini termasuk kategori tertua bahkan diklaim sudah lebih dulu ada sebelum munculnya halaqah di masjid Da>r al-Arqa>m, baik pada periode Makkah maupun Madinah. sebelum didirikannya untuk kegiatan belajar mengajar, berduyun-duyunlah pelajar-pelajar kaum muslimin ke rumah beliau dengan tujuan menimba ilmu sehingga fungsi rumah sebagai tempat istirahat yang penuh dengan kedamaian dan nyaman sedikit demi sedikit telah tereduksi.

Sejarah mencatat juga bahwa, kediaman kediaman para ulama dan ahli ilmu pengetahuan yang pernah digunakan sebagai forum kajian ilmiah, diantaranya adalah rumah Ibn Sina, al-Ghazali, Ali Ibn Muhammad al-Fasihi, Ya’qub Ibn Kilis, Abu Sulayman al-Sijistani, dan masih banyak lagi.
3. Masjid dan Jami’

Ketika Rasulullah Saw, hijrah ke Madinah dengan semakin banyaknya pengikut Islam dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang perlu dikaji, fungsi awal rumah sebagai wahana pendidikan dialihkan ke masjid-masjid seperti masjid Nabawi dan Quba, dijadikan pusat bagi segala aktifitas pendidikan, kemasyarakatan kenegaraan dan keagamaan. Hal ini karena masjid dianggap sebagai institusi pendidikan yang merupakan instrumen yang pertama dan efektif untuk membantu transisi masyarakat Arab pada waktu, dari masyarakat primitif menjadi masyarakat yang lebih maju.

Pada perkembangan selanjutnya, hampir di setiap masjid menjadi tempat halaqah bahkan bisa jadi satu masjid menyelenggarakan beberapa halaqah. Dengan demikian fungsi masjid mulai berkembang bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan juga sebagai lembaga pendidikan dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan secara resmi. Kegiatan ini dilakukan semenjak khalifah Umar bin Khatab ra. dengan diangkatnya tenaga-tenaga pengajar bagi halaqah-halaqah di masjdi Kuffah, Basrah, dan Damaskus.

Masa kejayaan masjid sebagai pusat lembaga pendidikan Islam menurut ahli-ahli sejarah berkisar antara awal abad kedua sampai akhir abad ketiga Hijriyah. Dimana pada periode tersebut bertepatan dengan munculnya para ahli Hukum dan Teologi Islam terkemuka, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbali dan Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i. disamping itu pada periode tersebut juga banyak dikenal ahli bahasa terkemuka seperti al-Khalil bin Ahmad, Al-Faralidi, Sibawayh, al-Jahiz dan lain-lain.

Gerorge Makdisi mengklasifikasikan masjid pada masa klasik menjadi dua tipe, yaitu masjid “harian” dimana ummat Islam menjalankan shalat lima waktu sehari-hari, dan tipe yang kedua adalah masjid Jami’, yakni khusus untuk pelaksanaan shalat jum’at, dan pada hari-hari yang lain masjid ini dijadikan sebagai institusi pendididikan. Masjid inilah yang disebut sebagai masjid-khan, dimana tersedia tempat menginap bagi para murid di sekita masjid.

4. Qusu>r (Pendidikan Rendah di Istana)

Pada tahap ini Pendidikan dikenalkan pada anak-anak di lingkungan Istana, dimana metode pendidikan dasar ini dirancang oleh orang tua murid (para Khalifah dan Pejabat) agar selaras dengan tujuannya dan sesuai dengan minat dan kemampuan anaknya, metode pembelajarannya pada garis besarnya sama dengan metode yang diterapkan pada anak-anak lain di kuttab-kuttab, hanya saja terkadang ditambah atau dikurangi menurut para pembesar yang bersangkutan dan sesuai dengan keinginan untuk menyiapkan anak mereka secara khusus untuk tanggungjawab yang akan dihadapinya dalam kehidupan yang akan datang. Para pengajarnya (muaddib) diberi tempat tinggal di Istana, selanjutnya mereka beralih dari siswa kuttab ke tingkat mahasiswanya di halaqah masjid atau madrasah.

Sistim pendidikan ini berlangsung dari daulah Amawiyah sampai Abbasiyah. Harun al-Rasyid tercatat sebagai khalifah yang memiliki metode pendidikan dan pembelajaran yang lebih baik (dari segi metode pembelajaran) bila dibandingkan dengan metode yang diberikan oleh wali murid yang lain.

5. Hawa>ni>t al-Wara>qi>n

Pada masa ini juga seiring berkembangnya ilmu pengetahuan maka telah bermunculan took-toko buku sebagai agen komersil dan sekaligus berfungsi sebagai center of learning. Ini berawal pada permulaan Daulah ‘Abbasiyah, yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai ibukota dan Negara-negara berbeda di negeri Islam.

Toko-toko tersebut telah menarik minat dan atenwsi para cendikiawan dan pujangga dari berbagai disiplin ilmu, selain itu para pemilik took-toko (warraqun) ada yang telah dapat menulsi kitab-kitab monumental dengan karya-karyanya, diantaranya Ibn al-Nadim (995 M) yang menulis Kita>b Fihrisa>t (Indent of Nadim), Ali bin Isa yang menulis bermacam-macam kitab, dan Yaqut al-Hammi yang menulis Mu’jam al-Udaba, dan Mu’jam al-Buldam.

6. Al-Sa>lu>na>t al-‘Adabiyyah (Majelis Sastra)

Lembaga ini sangat popular di masa bani Ummayah dan Abbasiyah dan merupakan pengembangan dari majelis-majelis al-Khulafa’ al-Rashidin. Khalifah yang merupakan pemimpin Negara tertinggi, selain mengurus masalah-masalah pemerintahan, juga memberikan fatwa-fatwa agama melalui forum masjid ataupun diluar masjid. Jika kemudian forum masjid ataupun diluar masjid kesulitan menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi, beliau mengundang para sahabatnya untuk salingbertukar pikiran.

Forum ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, karena sering diadakan semacam perlombaan syairr dan perdebatan para fuqaha dan diskusi diantara para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga muncullah tokoh-tokoh yang aktif hadir dalam forum tersebut :

  1. Dari Kalangan Penya’ir; Abu Nuwas, Abu al-Itahiyah Da’bal, Muslim Ibn al-Walid dan al-Abbas al-Ahnaf.
  2. Dari kalangan musisi, Ibrahim al-Mawali dan anaknya bernama Ishaq.
  3. Dari kalangan ahli Gramitaka; Abu ‘Ubaidah, al-Ismail al-Kisa’I, Ibn-Siman, al-Wa’iz dan al-Waraqid.
  4. Maktabat (Perpustakaan)

Latar belakang pendirian perpustakaan ini diantaranya dikarenakan keterbatasan masyarakat yang tidak mampu menjangkau atau untuk memiliki kitab-kitab yang harganya mahal. Perpustakaan ini bersifat umum dan yang palin gterkenal dimasa nya diantaranya perpustakaan Iskandariyah dan Bait al-Hikmah (House of wisdom) pada masa daulah ‘Abbasiyah.

Pada perkembangan selanjutnya perputakaan tela menjadi salah satu pusat pendidikan dan kebudayaan Islam. Tetapi fumumnya fungsi dari perpustakaan ini bukan hanya sebagai tempat belajar nengajar sebagai suatu disiplin ilmu secara regular dan teratur, namun dipakai juga oleh ilmuan sebagai pusat researces akademik.

8. Al-Badiyah (Daerah Pedalaman)

Pada tahapan ini, banyak dari para pelajar yang sangat peduli akan orisinalitas kebahasaan mereka, dan memutuskan unutk pergi belajar bahasa ke ba’diyah (suku pedalaman/badui) bahkan banyak yang sampai menetap disana beberapa waktu demi pendalaman bahasa mereka.

9. Bi>ma>rista>n dan Mustashfaya>t

Bi>ma>rista>n dan Mustashfaya>t atau dikenal dengan lembaga rumah sakit, dimana pertama kali dibangun oleh Abu Za’bal pada tahun 1825 M di Mesir. Dalam institusi ini, selain sering digunakan sebagai tempat penyembuhan orang sakit, juga di gunkana sebagai pusat pengajaran ilmu kesehatan. Institusi ini dikemabangkan lagi pada masa pemerintahan Al-Walid Ibn Abd Malik pada tahun 88 M dimana institusi ini telah memainkan peranannya sangat besar dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam.

Proses yang dijalnkan didalamnya mengandalakan seorang ketua dari kalangan dokter yang memberikan kuliah pada mahasiswa kedokteran sekaligus memberikan ijin praktek bagi mereka yang telah menyelesaikan studinya serta telah menulis risalah (semacam tesis atau disertasi dalam dunia akademik sekarang ini). Dan pada tahap selanjutnya kemudian diberikanijazah oleh “professor” mereka. Pendidikan ini telah terorganisisr sedemikian rupa pada masa Abbasiyah.

Selanjutnya telah banyak dibangun rumah sakit besar dalam dunia Islam, baik oleh penguasa atau pihak swasta seperti rumah sakit mansuri di kairo atau rumah sakit Nuri yang dibangun pada abad 6 H/12 M yang merupakan rumah sakit terbesar yang pernah dibangundalam dunia Islam saat ini.

Selain itu pada pertengahan abad ke 8 M telah dibangun pula dua rumah sakit, pada masa kekuasaan al-Mutawwakkil Satu diantaranya dibangun oleh Harun Al-Rashid dan satunya oleh keluarga Barmakiyyah. Sebuah rumah sakit juga telah dibangun oleh Gubernur Fath Ibn Khan, dan yang lainnya seperti yang pernah dibangun oleh Ahmad Ibn Thulun sekitar tahun 868-905 M.

C. Madrasah dan Peranannya Dalam Pengembangan Keilmuan

  1. Madrasah

Munculnya madrasah sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi, pasca lembaga pendidikan non formal pada masa-masa sebelumnya dikarenakan makin meluasnya daerah Islam serta berkembangnya ilmu pengetahuan yang mengakibatkan harus dipertimbangkannya lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak lagi dianggap mampu dan memadai untuk keberlangsungan pendidikan Islam, terutama kepada mereka yang hendak melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi.

Kata Madrasah berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat belajar siswa, sedangkan menurut terminologis adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama Islam secara formal dengan menggunkaan sarana belajar dan kurikulum dalam bentuk klasikal. Dari pengertian tersebut nampak bahwa institusi madrasah berbeda dengan institusi-institusi pendidikan Islam sebelumnya terutama dari aspek pengajaran.
Institusi Madrasah diduga merupakan prestasi abad ke-lima Hijriah. Al-Maqrizi mengatakan bahwa madrasah-madrasah yang muncul dalam Islam belum dikenal pada masa sahabat, maupun tabi’in melainkan sesuatu yang baru setelah 400 tahun sesudah Hijriah. Hal ini diperkuat oleh sejarawan seperti Georgi Makdisi dan Ahmad Shalabi, yang mengungkapkan bahwa madrasah untuk pertama kali didirikan oleh Wazir Nizam al-Mulk pada tahun 459 H. ditepi sungai Dajlah (Tigris) Baghdad yang kemudian dikenal dengan madrasah Nizamiyah. Dan akhirnya dikembangkan sapai di Balkh, Nishapur, Harrah, Asfahan, Bashrah, dan sekitarnya.

Peneliti sejarawan, Richard Bulliet juga mengungkapkan bahwa eksistensi madrasa-madrasah yang lebih tua ada di kawasan Nishapur, Iran pada sekitar tahun 400 H, juga terdapat madrasah di wilayah Persia yang berkembang sebelum madrasah Nizamiyah sedangkan madrasah yang tertua adalah madrasah Miyan Dahiya yang didirikan oleh Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad di Nishapur. Ini dibenarkan oleh sejarawan pendidikan Islam Naji Ma’ruf, bahwa di Khurasan telah berkembang Madrasah pada 165 tahun sebelum munculnya madrasah Nizamiyah.

Namun demikian harus diakui bahwa pengaruh madrasah Nizamiyah, ternyata melebihi pengaruh madrasah-madrasah sebelumnya. Bahkan Ahmad Shalabi, menganggap pendirian madrasah Nizamiyah sebagai pembatas untuk membedakan dengan pendidikan Islam di era sebelumnya. Hal ini dikarenakan pendidikan pada era madrasah Nizamiyah telah mempunyai ketentuan-ketentuan yang lebih jelas berkaitan dengan komponen-komponen pendidikan, dan juga keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan Madrasah, termasuk dalam menentukan tujuan-tujuan, menentukan kurikulum, menentukan Guru, sampai pada pemberian dana. Dimana keterlibatan pemerintah tersebut sangat erat kaitannya dengan tujuan pemerintah sehingga pendidikan merupakan bagian institusi pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pendirian universitas-universitas di Barat merupakan hasil inspirasi dari pengaruh madrasah Nizamiyah. Demikian halnya George Makdisi, dalam beberapa tulisannya megatakan bahwa tradisi akademik saat ini secara historis banyak mengambil keuntungan dari tradisi madrasah.

Munculnya madrash Nizamiyah pada dasarnya merupakan reaksi terhadap berkembangnya faham Shi’ah pada waktu itu, sejak abad keempat. Faham ini nampak telah berkembang begitu pesat di banyak daerah Islam, yang dipromotori oleh dinasti Fatimiyah di Mesir. Mengingat bahwa untuk melawan Shi’ah tidak cukup dengan kekuatan senjata, melainkan juga melalui penanaman idiologi yang dapat melawan idiologi Shi’ah maka pendirian madrasah dipandang sangat mendesak sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tersebut.

Karena itu pendirian madrasah Nizamiyah mempunyai beberapa tujuan khusus diantaranya; pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Shi’ah. Kedua, menyiapkan guru-guru Sunni yang cukup untuk mengajarkan madhab Sunni dan menyebarkannya ke tempat-tempat lain, dan yang ketiga, membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantor, khusunya di bidang peradilan dan manajemen.

Dari penjelasan diatas nampak bahwa pendirian madrasah Nizamiyah didasari oleh beberapa motivasi, baik motivasi keagaamaan, motifasi ekonomi dan motivasi politik.

Dari sudut keilmuan, keterlibatan pemerintah dalam madrasah Nizamiyah sedikit banyak menggerakkan Madrasah hanya pada Ilmu yang mendukung atau madhab (Shafi’i). Madrasah hanya mengkonsentrasikan usahanya pada pengajaran al-Ulum al-Shari’ah dan al-Ulm al-Diniyah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dimana berarti mengabaikan ilmu-ilmu terapan yang praktis (al-Ilm al-Tarbiyah al-Amaliyah) seperti ilmu Kedokteran dan Falak, yang merupakan nilai negatif dari madrasah Nizamiyah.

Karena itu al-Mustanshir berupaya untuk meminimalisir kelemahan yang ada dengan mendirikan madasah baru yang menyediakan fasilitas serupa kepada tiga madhab ahl-Sunnah yang lain, dengan harapan akan terjadi persaingan baru dan kesinambungan diantara madhab-madhab Sunni, walaupun akhirnya nampak kurang berarti dikarenakan tidak adanya dialog yang intensif yang dapat menumbuhkan keluasaan wawasan dan saling pengertian antar madhab. Ide tersebut memang lebih ditujukan untuk memperoleh simpati yang lebih luas dari kalangan Sunni atau ulama fiqih ortodoks.

Islam telah mengenal pendidikan Islam secara sederhana sejak awal turunya wahyu kepada Rasulullah Saw, dalam misi dakwahnya dilakukan di ruma-rumah (Dar al-Arqam), dimana Beliau mengumpulkan para pengikutnya untuk diajarkan ayat-ayat al-Qur’an dalam rangka membentuk idiologi yang sesuai dengan ajaran Islam. Beliau juga telah mengadakan halaqah-halaqah dengan memberikan pelajaran yang berkaitan dengan aqidah (The New Faith).

Lebih lanjut kegiatan semacam ini juga dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, bahkan kemudian pada masa berikutnya oleh para pembesar Istana, rumah dijadikan sebagai pusat tukar menukar informasi, komunikasi dan diskusi tentang berbagai persoalan keagamaan keilmuan, kebudayaan dan kenegaraan.

  1. Peran Madrasah Dalam Pengembangan Keilmuan

Sejarah mencatat bahwa persoalan politik muncul lebih awal mendahului perkembangan pemikiran, karena itu persoalan politik menjadi menarik dan dianggap sebagai titik awal berkembangnya pemikiran dalam Islam.
Hal ini kiranya yang sempat mempengaruhi perkembangan pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan Islam pada masa-masa berikutnya, dimana dominasi politik sangat menentukan pada bentuk pendidikan dan corak keilmuan (sunni) yang dikembangkan dengan alasan-alasan politik.
Untuk mengkaji lebih lanjut mengenai tradisi keilmuan di madrasah, minimal ada tiga kesimpulan sementara yang perlu disoroti berkenan dengan hal tersebut. Pertama; keberadaan madrasah yang merupakan transformasi dari masjid, dan harus diakui bahwa pendidikan madrasah merupakan kelanjutan dari pendidikan masjid, karena madrasah masih menampakkan elemen-elemen masjid. Meskipun dengan menunjukan perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan, disamping itu madrasah dalam penyelenggaraan pendidikan telah mengarah pada sistim manajemen yang lebih professional.

Kedua, adanya pengaruh aliran-aliran keagamaan yang berkembang pada saat itu terhadap madrasah, hal ini dapat dicermati ketika kecenderungan Sunni telah membatasi kawasan keilmuan madrasah, sebagaimana dijelaskan diatas bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan Sunni yang nota benenya segala sesuatu yang diajarkan berkisar pada al-Ulm al-Naqliyah, hubungannya dengan tafsir, qira’at hadith dan Ushl al-Fiqh. Atau dengan kata lain bahwa dalam hal ini madrasah merupakan al-‘Ulm al-Aqliyah, walaupun sebenarnya madrasah mengandung potensi rasionalitas yang semuanya dapat dilihat ketika diajarkannya kalam al-As’ariyah, pada madrasah Nizamiyah walau masih dengan menggunakan akal yang sangat terbatas dan dalam kadar yang kurang kuat untuk mendukung perkembangan ilmu.

Ketiga; adanya kepentingan-kepentigan politik yang dimasukkan dalam institusi madrasah, dalam hal ini pemerintah sangat berkepentingan untuk melibatkan diri dalam rangka mengikuti pola dan contoh pendidikan yang akan dikembangkan. Ajaran Sunni dalam hal ini yang pemerintah upayakan untuk menghadapi ajaran Shi’ah dianggap akan membahayakan eksistensi kepemerintahannya.
D. Latarbelakang Perkembangan Pendidikan Islam

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi sehingga penyelenggaraan pendidikan Islam dari masa-kemasa terus berkembang, sehingga mendorong berkembangnya institusi-institusi pendidikan Islam yang lebih baik, diantaranya :

  1. Kegiatan pendidikan yang awalnya dilaksanakan di lingkungan masjid telah mengganggu fungsi utama lembaga itu sebagai tempat ibadah, dan dikarenakan juga pertentangan-pertentangan antara tujuan pendidikan dan tujuan agama di dalam masjid hampir tidak memperoleh titik temu. Tujuan pendidikan menghendaki adanya aktifitas, sehingga menimbulkan hiruk-pikuk. Sementara beribadah di masjid menghendaki ketenangan dan kekhusyu’an ibadah.
  2. Berkembangnya kebutuhan ilmiah sebagai akibat dari perekembangan ilmu pengetahuan dan lebih banyak ilmu lain, sehingga tidak selamanya bisa diajarkan di masjid.
  3. Munculnya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan Islam dimana pelajaran yang diberikan di maktab-maktab, sekolah-sekolah, istana dan masjid, memiliki bererapa keterbatasan kurikulum, tidak memiliki guru-guru yang mampu di bidangnya, fasilitas fisik tidak mendukung bagi lingkungan pendidikan yang memadai.

E.  Tokoh-tokoh yang Berperan Dibalik Kemajuan Pendidikan Islam di Masa Daulah Abbasiyah
1. Dalam Bidang Keagamaan

Munculnya paham-paham keagamaan seperti Jabariyah, Qadariyah, Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah ikut menyuburkan semangat pencarian kebenaran dikalangan masyarakat muslim, sehingga mucullah tokoh-tokoh ilmu Kalam yang terkemuka seperti; al-Ghazali, (w.1111 M), Muhammad Abul Karim Syahrastani (w.1153M), dan Fakhruddin ar-Razi (w.1210 M).
Sedangkan dari kalangan hokum (fiqh) pada periode ini muncul aliran atau madhab yang menawarkan metode dan pendapat yang beragam, diantaranya; Imam Abu Hanifah (699-766 M), Imam Malik bin Anas (715-795 M), Imam Muhammad Idris as-Syafi’I (767-820 M), dan Imam Ahmad bi Hanbal (780-851 M). Selain itu juga dikenal Abu Yusuf (w.798 M) murid Imam Abu Hanifah, dan Dawud bin Khallaf (w.833 M) yang dikisahkan diperintah oleh Khalifah Harun al-Rasyid untuk menulis buku yang berhubungan dengan tasyri’, fiqih dan pemerintah yang diberi judul al-Kharaj.
2. Dalam Bidang Kedokteran

Dengan banyaknya kitab kedokteran yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab, maka bermuncullah dokter-dokter muslim yang terus-menerus mendalami dan mengembangkannya. Tokoh-tokoh yang paling berperan dalam bidang ini antara lain;

  1. Muhammad bin Zakaria ar-Razi (w.925 M), yang berjasa dalam mengobati peyakit campak (small-pox) dan Cacar (measles) dan beliau juga menulis buku tentang berbagai penyakit dan cara pengobatannya dalam kaitab yang berjudul al-Hawi.
  2. Ali Abbas (w.944 M) yang menyusun sebuah ensiklopedi kedokteran yang disebutnya Kitab al-Maliki dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Ingris dengan judul The Whole Medical Art.
  3. Ibn Sina (w.1037 M), beliau menyusun buku kedokteran yang berjudul Al-Qanun fi at-Tibb (Canon of Medicine).

3. Dalam Bidang Sejarah

Bagian sejarah yang paling penting adalah riwayat Nabi Muhammad Saw, dimana sejarawan pada masa Abbasiyah mempelajari dan menulis tentang sejarah hidup Nabi Muhammad Saw (sirah), dan yang paling terkenal adalah yang pernah ditulis oleh Muhammad bin IShaq (w.767 M). tokoh-tokoh lain yang terkenal diantaranya :

  1. Al-Waqidi (w.874 M), ia menulis tarikh al-Kabir, Kitab yang menuliskan peperangan dan penaklukan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.
  2. Al-Baladuri (w.892 M), At-Tabari (923 M), Al-Mas’udi (w.928 M).

4. Dalam Bidang Filsafat.

Filosof-filosof muslim yang terkenal pada masa dinasti Abbasiyah diantaranya;

  1. Al-Kindi (801-869 M), selain ahli filsafat, beliau juga ahli dalam bidang kimia, astrologi, optik, dan teoritikus musik. Beliau menulis buku dalam berbagai bidang.
  2. Al-Farabi (670-950 M) di juluki aristoteles II yang menulsi dalam bidang psikologi, politik dan etafisika.
  3. Ibn Sina (980-1039 M) dikenal dalam bidang psikologi, filologi, dan sya’ir
  4. Al-Ghazali (1059-1111 M) atau Ibn Rush.

5. Matematika dan Astronomi

  1. Al-Hajj bin Yusuf atas Perintah Khalifah al-Ma’mun menerjemahkan Megale Syntaxis, Karya Claudius Ptolemeaus tentang astronomi dan juga kitab Elements karya Euclides tentang matematika yang telah diterjemahkan pada masa khalifah Harun al-Rasyid.
  2. Muhammad bin Ibrahim al-Fazari, menerjemahkan kitab astronom India berjudul Zij as-Sindhind (label astronomi) yang kemdian dipersembahkan kepada al-Manshur, kemudian Beliau menciptakan astrolabe, yakni alat untuk mengukur ketinggian bintang.
  3. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, yang menyadur kitab matematik dan geografi, karya Claudius yang berjudul Hypogesis.

6. Kimia dan Fisika

Seorang daari Kuffah yang bernama, Jabir Ibn Hayyan menulis al-Kimia (Chemistry) dan Ia menemukan sejumlah persenyawaan unsur-unsur kimia.

DAFTAR PUSTAKA

Abd al-Majid Abd al-Futuh, al-Tarikh al-Siyashi wa al-Fikri, Al-Manshur Matabi al-Wafa,1988.
Abd. Al-Ghani ‘Ubud, Fi al-Tarbiyah al-Islamiyah, Mesir, Dar al-Fikr al-‘Arabi,1977.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu,1999.
Anshari., Hafiz, et.al., Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Khilafah, Vol.2, Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoove, 2002.

Ali., K. A Study of Islamic History, Terj. Gufron A. Mas’adi, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada,2003.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta, PT.Ichtiar Baru Van Hove,1999.

George Makdisi, Madrasa and University in The Middle Ages, Studi Islamica, 1970.
——–, The Rise o Collleges; Institutions of Learning in Islam and The West, Endinburgh, Endinburgh University Press, 1981.

Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam; Kajian Atas Lembaga Pendidikan, Bandung Mizan,1999.

Hisham Nashabe, Muslim Educational Institutions, Beirut, Librarie du Liban,1989.
Hossein Nasr., Sayyed, Science and Civilization in Islam, New York, New American Library, 1968.

Ma’luf., Louis, al-Matba’ah al-Katulikiyah, Beirut, 1927.

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Hidayakarya Agung, 1992.

Maksum., H., Madrasah; Sejarah dan Perkembagannya, Jakarta, Logos Wacana Ilmu,1999.

Nakosten., Mehdi, History of Islamic Origins of Western Education,Colorado, University of Colorado Press, 1989.

Nasution., Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid.I, Jakarta, UI Press, 1985.

Said Musa Ahmad, Tatawwur al-Fikr al-Tarbawi, Kairo, ‘Alam al-Kutub,1982,h.209
Shalabi., Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Cet.II, Kairo, Maktabah al-Arijilin, al-Misriyah,1960.

——–, Sejarah Kebudayaan Islam, Vol.3, Jakarta, Al-Husna Zikri,1997.

Sukarni Karya, et.al, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu,1996.

Tibi., Bussam, Islam and The Cultural Accommodation of Social Change, Terj. Clare Krojzl, Sanfransisco Westview,tt.

———————————————————————————————–

MEMBANGUN KERANGKA EPISTIMOLOGI ISLAM

Oleh : Ode Abdurrachman
A. Pengantar
Ketika banyak orang menulis atau berbicara tentang dunia muslim, mereka cenderung lebih membatasiya dengan negara-negara Arab daripada masyarakat muslim lainnya. Sedikit sekali orang yang menyadari bahwa peradaban Islam tidak berdiam ditempat yang vakum. Sebaiknya ia adalah peradaban ekspansif yang merangkul berbagai ras dan bangsa kedalamnya melalui penaklukan dan propaganda dan berhasil memadaukan mereka kedalam satu tradisi Islam.
Selama beberapa dekade berlalu perdebatan tentang konsep epistimologi (baca: rancang bangun) Islam khususnya tentang sains tetap tidak menemukan kata sepakat dikalangan cendikiawan muslim. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Islam yang kian merosot karena tidak ada satu formula baku yang menempatkan Islam sebagai sumber inspirasi khusunya sains melalui pesan-pesan moralnya yang tertuang dalam teks berupa nash atau dari sisi kontekstualnya.
Parameter yang dipakai untuk mengukur sains Islam dikalangan ilmuan muslim selalu bertolak dari kepanikan atas dominasi sains yang berkembang di dunia Barat dengan wolrdwiev-nya, sehingga solusi yang ditampilkan adalah bagaimana caranya untuk mengungguli atau minimal menyeimbangkan laju sains Barat dengan Islam.
Setidaknya telah menghilangkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan pemikir-pemikir klasik dalam dunia Islam, bahwa untuk merumuskan suatu wacana atau gagasan baru, berangkat dari tahapan-tahapan yang dikenal dengan ontologis, epistimologis dan aksiologis sehingga tidak sekedar mengkaji dari ilmu yang sudah matang atau telah dibakukan dahulu di Barat kemudian diberi label Islam. Untuk itu perlu kiranya ditawarkan sebauh kerangka epistimologi yang Islami versi penulis yang kiranya dapat memberikan sumbangan berarti demi kemajuan Sains Islam yang kompetible dan selalu tepat zaman.
B. Pembahasan
Tradisi ilmiah (sains) dalam masyarakat muslim mempunyai nilai yang dikenal dengan “Islamis”, adalah dipengaruhi dari kitab suci al-Qur’an melalui ayat-ayatnya senantiasa menyeru kepada orang-orang yang beriman untuk mengobservasi alam semesta dan merefleksikannya.
Perintah untuk mencermati gejala alam, membekali pikiran manusia Muslim untuk mengenali dan kemudian menerima semua ide-ide ilmiah yang sudah ada ketika kedatangan Islam. Jadi walaupun banyak tradisi ilmiah Islam yang terbukti mengadopsi dari peradaban lain. Tapi perlu dicatat bahwa kondisi pemikiran umat Islam dalam keadaan siap, kondisi beradaptasi semacam ini bukanlah dari pihak manapun, tapi dari faktor internal ajaran Islam.
Dengan demikian tradisi sains musli yang telah terbangun pada awalnya membuktikan bahwa penemuan-penemuan ilmiah, eksperimen dan teori yang pernah dilakukan ilmuwan muslim bukanlah sempit. Sungguh tradisi mereka sangat komprehensif untuk mendukung lahirnya revolusi ilmu pengetahuan. Meskipun tidak dipungkiri bahwa ada faktor yang kerap merintangi perkembangan sains di dunia muslim diantaranya, karena masyarakat berorientasi pada doktrin fatalisme atau merasa diintervensi oleh Tuhan dan merupakan bagian dari matrik kasualitas yang pada akhirnya menghasilkan individu yang tidak berhasrat untuk menyelidiki hal-hal yang tidak diketahui dengan piranti sains. Disisi lain para apologetis menganggap al-Ghazali sebagai orang yang berperan dalam menggagalkan refolusi sains dalam dunia Muslim ketika berargumen tentang teologi Ash’ari dan Tasawuf, memberikan pukulan telak terhadap pertumbuhan tradisi sains orang mulsim.
Sedangkan dari sisi internal hambatan yang paling rasional adalah kemandegan sains di dunia muslim adalah kegagalan pemimpin memanfaatkan dan mengkoordinasikan disiplin ilmu sains. Jadi menurut saya, kegagalan revolusi dalam dunia muslim secara internal lebih disebabkan oleh metode atau oraganisasi daripada aspek teologi. Hal ini bukanlah tabiat Islam yang menyebabkan kegagalan muslim dalam revolusi sains, tapi karena masalah organisasi yang bersamaan dengan faktor eksternal.
C. Kerangka Epistimologi Islam
Untuk merumuskan sebuah kerangka epistimologi Islam perlu sebuah abstraksi dengan perangkat sederhana sebagaimana ilustrasi berikut ini :Bibir Pantai
Permukaan Laut

Dasar Laut
Gbr. Rumusan Epistimologi Islam
Ilm (baca: ilmu) : Konsep mengenai ilmu pengetahuan ini merupakan konsep yang paling banyak ditulis dan diperbincangkan oleh seluruh pengarang muslim klasik dari al-Kindi (801-873), al-Farabi (w.950), al-Biruni (937-1048) sampai al-Ghazali (w.1111) dan Ibn Khaldun (1332-1406) telah merumuskan klasifikasi-klasifikasi pokok mengenai ilmu pengetahuan tersebut menjadi dua kategori, yaitu; ilm yang diwahyukan (wahyu), yang menyediakan kerangka etika dan moral; dan ilm yang tak diwahyukan (non-wahyu), yaitu yang pencariannya yang menjadi kewajiban bagi kaum muslim di bawah petunjuk Ibadah.
Peran dari ilmu (sains Islam) sendiri sebagai kebutuhan primer seorang sientis yang digambarkan sebagai permukaan laut, akan cenderung bergelombang dan terombang ambing, selalu labil dalam menempatkan ilmu sebagai aksiologis, jika tidak ditopang dengan Ibadah yang tekun dalam kerangka Ibadah.
Ibadah: Dengan melakukan kewajiban Kontemplasi (Ibadah), kesadaran mengenai Tauhid dan Khilafah akan timbul, dan berperan sebagai faktor yang mengintegrasikan kegiatan ilmiah dengan sistim nilai Islam. Sebab jika orang mencari ilmu pengetahuan untuk melakukan eksploitasi dan dominasi terhadap alam, pasti dia akan menjadi pengamat pasif.
Dalam kerangka inipun tidak akan mendapat tempat yang layak disisi Allah Swt, jika sebuah Kontemplasi dalam hal ibadah, bersifat vertikal saja dan tidak dalam bentuk muammalah dan hubungannya dengan masyarakat luas.
Khilafah: Bahwa manusia tidaklah independen dari Tuhan, tapi bertanggungjawab kepada Tuhan baik dalam kegiatan ilmiah maupun teknologisnya, konsep ini mengandung implikasi bahwa manusia tidak mempunyai hak eksklusif, tetapi bertanggungjawab untuk memelihara dan menjaga keselarasan tempat kediamannya di Bumi.
Tauhid (baca:Keesaan Tuhan): Konsep ini merupakan sebuah nilai yang all-embracing jika kemudian ditegaskan menjadi kesatuan ummat manusia, kesatuan antar manusia dan alam, dan kesatuan antara ilmu pengetahuan dan nilai.
Pada abstraksi dalam level ini, kedudukan tauhid sebagai bagian paling dasar dari bentuk pengejawantahan terhadap nilai-nilai Islam akan semakin meneguhkan sains Islam yang bermartabat dan layak ditengah peradaban lain.

D. Penutup
Pengkajian kembali tehadap bangunan epsitimologi Islam dalam kerangka sains bukan hanya mempersoalkan perlu atau tidaknya bangunan epistimologi tersebut, karena disisi lain merupakan suatu kewajiban bagi seluruh masyarakat muslim untuk dapat mengaplikasiakan konteks dari teks suci kita yang kerap dianggap telah membeku dalam sejarah, melalui metode ataupu kerangka teoritik yang beragam yang ditawarkan para scientis Islam.
Sebab Seseorang hanya memiliki hubungan interpretatif dengan teks, bahkan lebih tidak mungkin jika teks tersebut dianggap sebagai hal yang abadi. Kemudian teks tersebut tak mampu untuk merespons tantangan zaman. Itulah sebabnya meski umat Islam memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Islam. Dengan demikian, mereka tak menanggap bahwa Islam merupakan sebuah pandangan dunia serta sumber sains dan etika, yang mampu memberikan pemecahan bagi permasalahan di setiap zaman. Bukankah Islam telah diyakini sebagai agama yang selalu sesuai dengan zaman?
Wallahu ‘alam.

Saya Nantikan Komentar Anda,..!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: