Jaga dia salalu !

Januari 19, 2012

Liric song…

By : pakode
Selama ini dia, tak pernah ragu
Terima beban mu tanpa malu
Memikul tubuh mu tanpa tahu
Apa pun maksudmu…

Lalau kanapa, se biking Dia bagitu
Ale tanam benih, lalu se tar tunggu
Tega saja ale buang dia bagitu
Di mana se pung rasa sayang itu

Dulu Ale su bilang mangaku
Mau jaga dia deng sepenuh kalbu
Skarang baru katong tahu
Ale Laeng di hati, laeng di mulu
Reff..
Ale macam orang di tanjong itu
Di bilang seng di bilang, sama saja bagitu
Kanapa ale pung kalakuang seng bagus itu
Robah akang jua kanapa musti malu..

Jaga dia ini, se pung jantong hati, kanapa mesti malu,
Inga sumpah janjimu, par moyang-moyang dulu
Dengan harapan satu,..
Se rawat slalu, se Kalesang slalu, agar makmur, salalu..

Dia satu negerimu, Dia tumpah darahmu,
Dia tempat matimu…, Dia tanah leluhurmu…
Dia Nusa Ina mu..
—butuh aransemen baru, ditunggu ya-


Antara Pinggang dan Remuknya Pikiranku

Desember 30, 2011

catatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pinggangku dan pikiranku yang memang terkadang sakit secara jasmani…tetapi tentang masalah perjalanan melaksanakan tugas pokok di berbagai tempat, yang boleh anda ambil hikmahnya.

Catatan dari perjalanan seorang pengajar seperti saya, setelah beberapa waktu belakangn ini disibukkan untuk mengajar sana sini, di dalam negeri dan di luar negeri (kata orang ambon negeri itu kampung). Namlea (P. Buru), Tehoru (Maluku Tengah), Gale-gale (Maluku Tengah) dan kota Masohi (Maluku Tengah).
ternyata ada hal yang lebih penting dari semuanya yaitu tentang pentingnya me-manage (baca: mengatur) waktu agar tetap konsen dan lurus mengatasi berbagai masalah yang silih berganti datang.

Dari bagaimana mengatur waktu dengan keluarga, hingga mengatur waktu dengan relasi (teman sejawat) juga mahasiswa bimbingan yang wajib tidak boleh ditinggal lebih-lebih mengatur waktu dan qalbu (hati). Kesempatan demi kesempatan yang datang terkadang harus berjumpalitan (melompat sana-sini) untuk menyiasati waktu yang lowong, sebab jika telat sedikit saja, sudah ada orang yang berteriak-teriak di HP, ciut-ciut di Tweet (itu….alat komunikasi), dari Rumah dan dari Kampus. Terkadang dalam perjalanan lompat sana, lompat sini itu, saya sering senyum sendiri…untuk apa saya lakukan semua ini? jawabnya bukan karena DUIT…(koq bisa..!!)

Tentu bukan sekedar cari penghasilan tambahan, sebab Alhamdulillah, meski gaji bukan ratusan juta, tiap bulan kami dan keluarga tetap bisa makan sederhana dari hasil mengajar dan menjadi konsuler penulisan (jasa rental pengetikan) di luar jam kantor. bahkan terkadang berlebih…Alhamdulillah.

Tapi kenapa masih mau mengajar di atas 32 Jam per minggu siang dan malam?…InsyaAllagh hanya semangat berbagi tentunya…meski semua orang juga tahu bahwa kerja paruh waktu degan mengajar bukan penghasilan yang menjanjikan. jika alasan duit, saya masih bisa mendagangkan FOREX, Bisnis Online, jual barang lokal di internet, dan penghasilan tambahan online lainnya di internet dan tambahan lainya di rumah, jelas bukan duit yang saya cari….

Untuk hidup mewah dan serba ada jika sukses nanti, adalah impian semua orang tentunya, tapi tidak untuk saya dan keluarga, lihatlah rumah keluarga besar kami di kota Masohi sederhana, kadang atapnya bocor jika hujan… tapi orang tua dikenal warga punya banyak tanah di kota Masohi. Tapi bukan itu ukuran kebanggaan keluarga tentunya…

Yang saya warisi adalah hidup serba cukup saja, sudah merupakan kebanggaan dan suksesi tersendiri.
Apalagi bisa melihat orang lain tersenyum dan berbangga dengan usaha kita atas mereka.
Sebuah sekolah menengah atas (MAN SERAM)yang pernah kami rintis bersama beberapa tokoh di kota Masohi (Maluku Tengah) sejak masih swasta (thn 2004) sampai kini melejit dinegerikan, dan berkembang pesat, telah bermanfaat banyak bagi masyarakat kota masohi, ini kebanggaan tersendiri, meski dengan berat hati meninggalkan sekolah itu untuk mengajar pada perguruan tinggi, spirit perjuangannya tetap terjaga. Ada yang pernah berfikir bahwa keluarga kami terlibat korupsi dan sekolah, untuk apa? sob..Seandainya saja Kalau keluarga kami dengan Yayasan sekolah mau korupsi, akan gampang terlihat dari rumahnya yang akan megah. Buktinya dari sekolah masih swasta sampai kini dinegerikan, tidak ada yang berubah di rumah kami. Bahkan makanpun masih (kasuami/suami) sejenis parutan ubi yang dikukus, khas sulawesi tenggara. Tiga Kendaraan yang terparkir di depan Rumah itu pun sudah ada sejak 15 tahun lalu, dengan usaha mandiri.

Terbayang tentang Ilmu Komputer (TIK) yang diajarkan di sekolah (SMA) dulu (di Masohi) tidak banyak yang mau mengajarkan di sekolah dengan alasan bayaran murah, setelah saya ajarkan di beberapa sekolah SMA banyak repon positif dan banyak yang mengira bahwa saya lulusan sekolah komputer, padahal lulusan sekolah ngaji (IAIN) tetapi ditengah keterbatasan dan hanya berbekal semangat mengajar kini mereka paham sendiri ternyata komputer (juga penting) selain main game dan Facebook.

Demi Allah, semua ini semata-mata untuk mengetuk pintu Do’a hingga menembus Arasy-nya Allah, dan alhamdulillah…terbukti do’a apa saja, selalu diqabulkan, jika belum saat ini ..mungkin Allah juga tahu, belum terlalu dibutuhkan saat ini.
Do’a syafaat kepada Rasulullah dan Sahabat, para Ulama dan Ustad serta guru-guru kami, Do’a dari keluarga yang sehat, cukup rejeki, orang di sekitar tenteram, teman-teman senang, orang kantor aman, keluarga besar nyaman, inilah do’aku selama ini.
Do’a lain, dikaruniani keturunan, keluarga yang selalu mau mengerti, dan do’a miliki rumah sendiri yang nyaman. Meski sederhana, orang Ambon kata ‘busu-busu rumah sendiri’ dah berdiri agak kokoh untuk konstruksi yang InsyaAllah tahan gempa.

Dengan dibangunnya rumah yang kini saya tempati, Saya ingin beri pelajaran saja kepada banyak orang bahwa
tidak perlu korupsi sana-sini, mengintimidasi relasi, apalagi memanfaatkan teman, satu lagi…memperdayaia mahasiswa bimbingan….(nauzubillah)
Mencapai sukses kecil tidak perlu bersembunyi di balik topeng, beralih status ‘pura-pura baik’ (munafik) atau jadi perampok dan koruptor serta penipu (dulu) atau jadi bosnya dosen (DEKAN) atau bapaknya dosen (REKTOR) untuk dapatkan sesuatu, toh di antara mereka sangat berpotensi melegalkan jalan tak bagus untuk meraih kepentingan sesat dan sesaat.

Dengan jalan disiplin dan sabar masih banyak jalan halal, cuman banyak yang tidak mau dan tidak sabar.
pelajari intisari surat Al-Ashr : 1-3 (QS.103) Sholat dan bersabar….anda akan temukan maknanya. Di antaranya bagaimana mengatur waktu dengan tetap bersabar. Semuanya akan ada hasilnya. ditambah dengan Usaha halal dan DO”A..sob, dengan keduanya semuanya bakal tercpai. pengalaman saya moga menjadi pelajaran bagi anda, pokoknya Anda tinggal minta saja tak tahu dari mana saja pertolongan dan rejeki itu datang. pokoknya tinggal mengeluh pada Allah Swt (Tuhan yang saya sangat percaya) apa saja diberi. Bahkan mungkin kalau ingin jadi presiden pun insyaAllah dikabulkan…hehehe…


Waktu Ku (intisari Q.S. Al-Ashr : 108 : 1-3)

Desember 9, 2011

Waktu Ku

oleh : Aku

Detik, menit, hari yang terus berlalu
Begitu saja kesempatan itu berlalu
WaktuKu terus saja berlalu
Kesempatan ku pun terus saja berlalu

Sungguh benar-benar merugi aku
Jika terus menyia-nyiakan hidup yang singkat itu
Padahal waktuku terus saja berlalu
Menggeser tiap kesempatan yang tampak lalu

Orang berimanlah yang paham arti waktu
Mengerjakan amal sholeh dan tahu waktu
nasehat menasehati ke arah kebenaran yang satu
Dan tetap bersabar jika terhimpit waktu


Bilangan Biner di Hari Jadiku

Oktober 9, 2011

Hari ini 10 Oktober 2011, menurut perhitungan kalender Masehi, Haul alias ultah saya jatuh pada hari ini, hari dimana ‘orang ramai, mengsakralkan tanggal keramat 101011 atau pada satu hari sebelumnya 91011, dimana banyak orang melaksanakan hajatan….tapi jika kita hidup dalam nuansa tauhid seperti yang saya anut, nasib, keberuntungan dan rezeki bukan diatur oleh tanggal Masehi, atau hal-hal lain yg dikait-kaitkan dengan angka ini…namun marilah kita berbagi pengetahuan, seperti apa tanggal 10 okt 2011 ini ditinjau dari salah satu ilmu yang jarang dibahas orang awam….
inilah salah satu kutipan tulisan yang pernah saya publikasi di tahun lalu ketika angka ini pada posisi 101010 itu…

jika dituliskan dalam angka menjadi 10/10/2010. untuk tahun biasanya dituliskan dua digit angka belakang. Jadilah 10/10/10. Angka yang cantik menurut kebanyakan orang.

hari ini Jika dituliskan dengan 101010, maka terlihat seperti deretan bilangan biner 6 bit. Bilangan biner atau binary digit (bit) ialah bilangan yang terdiri dari 1 dan 0. Seperti kita ketahui, dunia komputer dikenal 4 jenis bilangan : bilang biner, oktal, desimal dan hexadesimal. Bilangan Oktal terdiri dari angka 0 – 7. Desimal angka 0 – 9, Sedangkan hexadesimal terdiri dari angka 0 – 9 dam A – F.

Bilangan Biner 101010 = 42 desimal?
Konversi bilangan biner ke desimal ada beberapa metode yang digunakan. Saya dulu jika ketemu masalah seperti ini ( disuruh mengkonversikan biner ke desimal ) sring menggunakan cara yang menurut saya paling mudah
contohnya angka biner 101010 =(1×2^5) + (0×2^4) + (1×2^3) + (0×2^2) + (1×2^1) + (0×2^0) = 32 + 8 + 2 = 42
^ = pangkat

Atau jika kita jabarkan akan seperti berikut :

1. karena 101010 mempunyai enam angka, maka kita buat 6 baris kosong
(baris 1): …
(baris 2): …
(baris 3): …
(baris 4): …
(baris 5): …
(baris 6): …

Kemudian, baris 1 diisi angka 1, selanjutnya penjumlahannya saja.
(baris 1): 1
(baris 2): 1 + 1 = 2
(baris 3): 2 + 2 = 4
(baris 4): 4 + 4 = 8
(baris 5): 8 + 8 = 16
(baris 6): 16 + 16 = 32

2. Kemudian susun dengan hasil penjumlahan tadi, dimulai dari yang terbesar, seperti berikut ini :
32 =
16 =
8 =
4 =
2 =
1 =

3. Masukkan bilangan biner 101010 ke 6 baris diatas

32 = 1
16 = 0
8 = 1
4 = 0
2 = 1
1 = 0

4. Apabila angka 1, maka dihitung, dah angka 0 dihilangkan.
32 = 1
8 = 1
2 = 1

5. Jumlahkan, 32 + 8 + 2
6. Kesimpulannya Biner 101010 = 42 Desimal

Untuk konversi sebaliknya atau ke bilangan lain, insya Allah dijelaskan kapan-kapan

————-

Selain  hari ini, besok juga masih seperti deretan biner, yaitu 111010, 101011 seperti pada hari ini, di Tahun ini ada 3 lagi 011110, 101111, dan 111111 saat perhelatan Seagames Asia tenggara.

Demikian postingan iseng ini, semoga bermanfaat


Ulama Serabutan

September 5, 2011

Ulama Serabutan; Ulama Multiprofesi dalam Sistem Pendidikan Islam di Abad Pertengahan

Oleh : Ode Abdurrachman,SH.I.,M.Pd.I [1]

Abstrak

Ulama tidak saja dituntut untuk menguasai ilmu keagamaan juga ilmu-ilmu terapan secara mendalam atau profesional sehingga mampu memberikan solusi cerdas terhadap permasalahan yang dihadapi ummat, sehingga peran ulama tidak saja menguasai kompetensi keulamaannya namun secara spesifik, harus menguasai ilmu dan kemampuan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni sebagai kreativitas lain agar mampu menjawab tantangan zaman, bahkan harus mampu mempraktekan keilmuwannya di tengah masyarakat. Dari seorang tokoh spiritual keagamaan, kemudian nyambi (baca: sambil) menjadi cendikiawan, politisi, ekonom, dan birokrat bahkan praktisi. Atau peran lebih praktsi mejadi ilmuwan, pengacara, pedagang, atau tokoh pemerintah dan berbagai aktivitas lainnya. Aktivitas multiprofesi ini dikenal dalam istilah Jawa Serabutan. Aktivitas Serabutan ini tentunya harus didukung juga dengan sisi keilmuan yang berbanding lurus dengan aktivitas kesehariannya. Meski demikian, faktor-faktor inilah yang kemudian terkadang menjadi bumerang terhadap peran aktif ulama itu sendiri karena dianggap tidak seimbang dan bergeser dari keulamaannya sehingga terkesan memihak pada satu peran tertentu di tengah masyarakat dan menjadi bertentangan dengan tujuan ulama sebagai tokoh spiritual yang mampu mencerahkan ummat.

Keyword : Ulama Serabutan, mutliprofesi, sistem pendidikan Islam, abad pertengahan


[1] Dosen Pendidikan Agama Islam di FKIP Universitas Pattimura, Alumni PascaSarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, e-mail: odeabdurrachman@yahoo.com, blogsite : www.pakode.wordpress.com


Cipratan ‘Learning by blogger’ dari event Telkomsel Kompasiana

Mei 28, 2011

Ambon, 28 Mei 2011..

Labbaik, Kompasiana, labbaik…!! akhirnya kupenuhi juga panggilanmu…!! Alhamdulillah, akhirnya kupenuhi juga panggilan undanganmu kompasiana, setelah beberapa waktu lalu mendaftar secara online di kompas.com untuk mengikuti even learning by blogging, yang diadakan di hotel Amans Ambon hari ini dari jam 10.00 s/d 17.00 BTWI. Lebih bersyukur lagi ternyata bisa bertemu ‘bareng’ komunitas blog Maluku dan para ‘Newbe’ (penulis pemula Blog) blogger mania yang pengen belajar Nge-Blog yang difasilitasi oleh even Learning By Blogging yang dihelat oleh kompas yang berkerjasama Telkomsel.

Dari pemaparan materi awal tentang Citizen Journalisme, yang disampaikan oleh bang. Iskandar Zulkarnaen, (editor kompas.com) mengungkapkan bahwa Citizen Journalisme tidak lain adalah sebuah istilah yang baru dikenal dalam bidang jurnalis sebuah kegiatan yang melibatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan jurnalisme, termasuk kegiatan mengumpulkan, mengolah, bahkan menganalisis kemudian menyebarluaskan berita melalui sosial media atau bahkan lewat jurnal media online lainnya. Salahsatunya kompas dengan fasilitas kompasiana.com.

Yang sangat menarik dari pemaparan materi awal ini dikatakan bahwa, di era teknologi dengan banyaknya sosial media dan media online yang saat ini menjamur, hak menulis bisa dilakukan siapa saja, bukan hanya penulis kawakan atau jurnalis profesional atau wartawan. Namun bisa dilakukan oleh orang biasa, rakyat biasa dari kalangan manapun, dengan memperhatikan segela kejadian yang ada di skitarnya.

Kompas sebagai penyedia konten jurnalis online dengan menyediakan fasilitas yang mengijinkan para penulis online denga tajuk telkomsel kompasiana.com, sehingga siapa saja meski dari kelas newbe (pengguna baru), orang biasa atau sampai kelas advance termasuk wartawan dengan bebas memberitakan apa saja yang ditemui di sekitarnya atau apapun yang ingin disampaikan dengan berbagai kategori room yang disediakan, dari mulai Pendidikan, Sosial, Budaya dan politik bisa dishare di kolom kompasiana.com.

Suatu hal yang ingin disajikan kompas, ternyata adalah untuk memecah kebuntuan para penulis yang kesulitan memulai penulisannya dikarenakan berbagai kendala. Sehingga banyak tips yang diberikan oleh para pembicara dari Kompasmedia. Di antaranya sebuah topik yang menarik dengan topik bagaimana Menulis Cepat, Menarik, dan Bermanfaat yang disampaikan oleh Pepi Nugraha, salah satu editor Kompas.com

Semoga menjadikan sesuatu yang bermanfaat…!!

Selain dihibur oleh Band school dari jebolan pentas SMA se-Ambon, ada program bagi-bagi doorprize berupa HandPhone dan Kaos Cantik juga Speaker Active, dan salah satunya Penulis ‘kecipratan’ salah satu doorprize karena berhasil menjawab salah satu pertanyaan tentang tema even ini yakni Learning by Blogging. Teirma kasih Kompas dan Kompasiana.com juga telkomsel sebagai sponsor utama acara ini. Terlebih lagi kepada Nara Sumber tim editor Kompas.com yang telah berbagi ilmu dan strategi menulis yang baik. Semoga bermanfaat bagi semuanya.

Email : odeabdurrachman@yahoo.com


Fenomena ‘Citizen Journalism’

Mei 26, 2011

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Steve Outing dalam tulisannya “The 11 Layers of Citizen Journalism”, istilah citizen journalism saat ini menjadi one of the hottest buzzword dalam dunia jurnalistik.

Rasanya ketinggalan jaman kalau sampai ketinggalan kata-kata ini. Citizen journalism diucapkan oleh siapapun yang mengamati perkembangan media, baik mereka yang berada di lingkaran dalam media seperti para praktisi, kru dan pemilik media, maupun mereka yang berada di luar media, seperti para pengamat media. Kurang gaul, rasanya, kalau sampai ketinggalan isu ini.

Bagi yang sudah lama mencermati dinamika dunia jurnalistik dari esensinya yang paling dalam, citizen journalism sebenarnya cuma masalah beda-beda istilah.

Spiritnya tetap sama dengan public journalism atau civic journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, perkara bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis.

Dikuasai dalam arti diproduksi, dikelola, dan disebarluaskan oleh institusi media, atas nama bisnis ataupun kepentingan politis.

Lantas, apa bedanya fenomena public journalism dengan rame-rame soal citizen journalism sekarang ini? Ada. Perbedaannya, menurut saya, terletak pada kemajuan teknologi media sehingga semangat partisipatoris yang melibatkan publik dalam mendefinisikan isu semakin terakomodasi.

Selain itu, kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Semangatnya, sekali lagi, tetap sama. Yaitu, mendekatkan jurnalisme pada publiknya. Bedanya, open source di masa sekarang semakin niscaya saja, ketika teknologi media kian berkembang. Baca entri selengkapnya »


Mengapa Masih Keliru Mendidik Bangsa Ini?

Mei 1, 2011

Semangat Mendidik Bangsa, harus berbanding lurus dengan semangat mensejahterakan bangsa..!!, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang tidak lapar, bangsa yang tidak membiarkan kebodohan dipelihara, bangsa yang tidak merawat kemiskinan, dan menyuburkan terorisme.

Tugas negara membersihkan ‘kutu-kutu loncat’, dan ‘rayap’ koruptor yang membenamkan diri dalam pasir kegelisahan bangsa ini. Sesulit itukah menjadikan Kemiskinan sedikit terangkat ke atas permukaan garis ambang batas kesejahteraan? sedangkan para ‘konglomerat busuk’ menari-nari di atas penderitaan rakyat jelata.

yang terjadi adalah kualitas diri yang selalu tergadaikan di atas meja taruhan ‘kekuasaan’, berharap berkah dari langit yang menjatuhkan ‘batangan emas’ makanan cerdas.

Bukankah Rakyat kita (dan kita di dalamnya) sudah banyak belajar semangat Nasionalisme garuda pancasila.? dengan hymene ayo maju-maju-ayo maju-maju, tapi yang terjadi sebaliknya..!!

Makanan Empuk penguasa lokal yang (sengaja) ‘bermain api’ semakin menjadi-jadi. Karakter lokal dan jati diri anak pribumi habis terkikis tirani ‘jadi-jadian’ penguasa karbitan.

Bukankan ini demokrasi yang salah jalan itu? sehingga mereka mencari jalan menuju tahta lokal dengan menginjak ‘kepala lawan’ kemudian mengaku ‘mendidik bangsa’  teladan yang ‘syubhat’?

Malah mengaku Bertuhankan Logika dan Pikiran bingung yang tanpa ujung. Berlakon bak rohaniawan ketika sedang (pura-pura)  ibadah. Dan mewariskanya turun temurun.

Sudah begini telanjangkah bangsaku yang ‘seksi’ ini? sehingga tak ada selembar benangpun menutupi ‘aurat’ keboborokannya? apa terlalu mini kah ‘gaun karakter diri’ dan ‘watak cerdas’ yang disandangnya, sehingga ‘kemaluannya’ dibiarkan saja orang lain menikmatinya? sedang kita tidak berdaya dan pura-pura berkata, impoten. padahal tidak.

Warisan Mendidik dengan karakter adalah kuncinya. jika teladan kita selalu telanjang di mata siapa saja, saatnya mereka meniru dan digugu. mulailah mewariskannya pada anak kita apa yang sebaiknya. Karakter diri dan Membiarkan diri ditata regulasi bangsa ini. bahwa bangsa ini sudah  diatur dengan rapi, jangan kau kaburkan dengan semangat abu abu.

jelaskan niatmu, wariskan karaktermu. jika itu terjadi, jangan heran, jika disaat mati nanti, nilai kita dihargai dengan banyaknya orang yang mengumpat dan menghujat, di saat itulah nilai kita terpelihara atau dirusak.

tanam kecerdasan, rawat dengan kesabaran, petik hasil dengan kegemilangan….semangat (seharusnya) bangsa ini.,..

selamat hari pendidikan nasional 2011

Ambon 2 Mei 2011


Hasil Survey 49% Pelajar Setuju Aksi Radikal(6)

April 30, 2011
Ini Dia Hasil Survei LaKIP Yang Menghebohkan Itu
Sejumlah kalangan sulit menerima hasil penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tentang radikalisme. Survei itu menunjukkan hampir 50 persen pelajar setuju dengan aksi radikal demi agama.
Seperti apa detail survei tersebut?

Direktur Pelaksana LaKIP Ahmad Baedowi menyatakan ada dua tujuan digelarnya penelitian tersebut. Pertama, mengidentifikasi kecenderungan radikalisme keagamaan di sekolah. Kedua menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi kecenderungan radikalisme tersebut.
Baca entri selengkapnya »


Film Tanda Tanya “?”: Apa Maunya?

April 12, 2011

“Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”

(Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar)

 

 

 

PERLU digarisbawahi, saat menonton film “?” (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film “?”. Sebagai Muslim, saya telah berikrar: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu.

Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu.

Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam, tetapi berlaku untuk semua manusia.  Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia.

Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (cultural religion).
Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.