Berbagi kepada Sesama; Ruang Sosial Islam

Mei 22, 2012

Jika kita hitung tidak berapa lama lagi kita Muslim akan melaksanakan puasa wajib, selain puasa-puasa sunnah lainnya, bahwa di Ramadhan nanti puasa wajib dilandasi dengan iman dan ihtisab maka Ramadhan memberikan hikmah yang dalam, sedangkan bagi mereka yang berpuasa hanya untuk menggugurkan kewajiban maka yang kehadiran Ramadhan tidaklah membekas. Diantara hikmah Puasa Ramadhan sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam al-Qur’an (QS. 2: 183) adalah menjadikan mukmin pelakunya mencapai derajat Muttaqin.

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Al-Imran: 134).

Parameter ketakwaan secara umum bisa kita klasifikasikan menjadi dua: dimensi ritus-teologis (hablun min Allah) dan dimensi sosial-praksis (hablun min Annas). Dari QS. Al-Baqarah ayat 2-4 dan QS. Ali-Imran ayat 134 bisa kita dapati bahwa parameter dimensi ritus-teologis adalah jika seseorang iman kepada keghaiban, mendirikan shalat, beriman pada kitab-kitab Allah dan adanya hari kiamat. Dalam keimanan kepada keghaiban terkandung keimanan kepada Allah, Malaikat, dan hal ghaib lain semacam takdir.
Dalam studi agama, keimanan pada keghaiban ini menjadi elemen utama setiap agama karena tanpa ketundukan terhadap kemisteriusan yang mempesona (mysterium tremendum) maka seseorang akan menjadi penganut agama yang tidak taat. Parameter lain dalam dimensi ini adalah seseorang cepat ingat kepada Allah jika ia berbuat salah.

Pada dimensi sosial-praksis, parameter ketakwaan adalah kemauan berbagi rizki, pengendalian amarah, dan pemberian maaf. Sepintas parameter ketakwaan ini seperti terlalu sederhana, namun nyatanya memang cukup sentral dalam membentuk kehidupan sosial yang baik. Pelbagai masalah sosial bisa dirujuk pada dua persoalan inti yang saling berkait: kemiskinan dan kriminalitas.

Kemiskinan terjadi karena ketimpangan dalam distribusi kesejahteraan. Sebagian kecil orang menikmati sebagian besar sumber daya, sementara sebagian besar manusia berebut sisanya. Sebagaimana diutarakan Amien Rais dalam bukunya “Selamatkan Indonesia”, pada akhir 90-an, 20% penduduk dunia yang hidup di negara maju menikmati 86% penghasilan dunia, sedangkan 20% paling bawah hanya menikmati 1% penghasilan dunia. Kebutuhan pendidikan di semua negara berkembang sebesar 6 milyar dollar AS setahun, kalah besar dibandingkan 8 milyar dollar belanja kosmetik warga Amerika, 11 milyar dollar konsumsi Es krim di Eropa dan 17 milyar dollar kebutuhan makanan hewan piaraan di Eropa dan AS. Ini adalah contoh kecil tentang kesenjangan ekonomi.

Jadi kemauan menafkahkan sebagian rizkinya untuk berbagi dengan sesama adalah kunci pemerataan kekayaan. Tentu perlu dibarengi dengan sistem ekonomi yang berimbang dan tidak hanya menguntungkan negara maju sebagaimana disampaikan Galbraith bahwa kesenjangan sosial-ekonomi di era globalisasi adalah kejahatan yang sempurna (perfect crime).

Kemiskinan ini pada akhirnya mempengaruhi tingginya kriminalitas—dalam bahasa agama, kemiskinan lebih dekat dengan kekufuran. Orang yang terhimpit kebutuhan ekonomi lebih sulit menahan amarah, menyebabkannya terjebak pada dua kemungkinan: berbuat kriminal atau sakit jiwa. Fakta memperkuat pernyataan ini, penjara dan rumah sakit jiwa adalah dua tempat dengan penghuni melebihi kapasitas.

Jika ketidakmampuan menahan amarah adalah penyebab kriminalitas, maka ketidakmampuan memberi maaf adalah penyebab buntunya solusi kriminalitas. Memberi maaf bisa memutus rantai konflik dan perselisihan, sebaliknya membalas dendam tidak memadamkan konflik namun malah memperpanjangnya.

Idul Fitri adalah kemenangan bagi mereka yang menemukan fitrahnya melalui ibadah puasa Ramadhan. Sehingga memaknakan Idul Fitri berarti menjadikan hikmah Ramadhan terwujud dalam keseharian kita. Tanpa perwujudan ini, Idul Fitri kehilangan makna hakikinya dan berubah menjadi sekedar ruang sosial yang tidak bernuansa ibadah. Idul Fitri menjadi tidak lebih dari fenomena sosial: kita bertemu keluarga dan saling mengucapkan selamat. Padahal seharusnya Idul Fitri lebih bernuansa teologis: manusia menemukan jatidirinya melalui ibadah Puasa, dan mewujudkannya dalam keseharian. Dimulai dari 1 Syawal. Taqabbalallahu Minna wa Minkum.

Lihatlah Bagaimana kita memaknai sebuah relasi sosial ini dalam kondisi yang tidak sebenarnya?
Silahkan kemukakan pendapat Anda….

Penggalan Artikel dari Tulisan di Majalah LAZISMU Gresik edisi September 2011.dalam http://afkareem.smam1gresik.sch.id


Mantan Kyai NU Menggugat Sholawat Dan Dzikir Syirik.

Mei 12, 2012


Buku ini menceritakan pengalaman spiritual mantan kyai NU bernama H. Mahrus Ali lulusan Ponpes Langitan, Tuban dan melanjutkan pendidikannya selama 7 tahun di Arab Saudi. Sebelumnya beliau hidup bergelimang dalam kesyirikan tapi akhirnya mendapat Hidayah dan menyadari kesalahannya selama ini. Lewat buku ini beliau membahas dan menguraikan secara terperinci beberapa bacaan shalawat, dzikir, doa-doa dan ritual keagamaan yang dianggap menyimpang karena tidak ada dalam Al Quran dan hadis (tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW).

Sebagian besar bacaan Sholawat, Dzikir dan doa-doa tersebut malah termasuk “populer” dalam arti kata banyak masyarakat Indonesia yang mengamalkannya bahkan sudah turun temurun. Diantaranya adalah Shalawat Nariyah, Sholawat AL Fatih, Sholawat Munjiyat, Sholawat Tibil Qulub dan Sholawat Badar. Bahkan Shalawat Badar yang sangat terkenal dan sering kita dengar alunannya di radio, televisi dan ada yang menjual dalam bentuk CD nasyid, ternyata hasil karya seorang kyai Indonesia yang bernama Kyai Ali Mansur, Banyuwangi. (*Dulu saya mengira shalawat Badar ini adalah sholawat yang senantiasa diucapkan oleh nabi Muhammad dan para sahabatnya pada saat perang Badar untuk membangkitkan semangat pasukan Muslimin melawan pasukan Kafir)

Sholawat Badar ini asli gubahan Kyai Ali Mansyur, Banyuwangi. Begini kisah pembuatannya: Konon, pada suatu malam (tahun 1960) beliau tidak bisa tidur karena memikirkan situasi politik yang tidak menguntungkan NU bahkan PKI saat itu sudah berani membunuh kyai-kyai di pedesaan. Beliau lalu menulis syair-syair dalam bahasa Arab, karena memang beliau pandai membuat syair. Konon shalawat Badar ini dikumandangkan untuk membangkitkan semangat warga NU untuk melawan dan memerangi “Genjer-Genjer PKI” Sejak saat itulah Sholawat Badar dikumandangkan secara luas terutama oleh kaum muslimin di pulau Jawa dan terkenal hingga saat ini.

Selain membahas berbagai Sholawat, buku ini juga membahas berbagai doa, syair, qasidah dan ritual keagamaan yang sering dilakukan kaum Muslimin tapi sebenarnya hal itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnyapun tidak pernah melakukannya. Misalnya bacaan doa Hizib Bahr, Dzikir Yahu, Astagfirullah Rabbal Baraya, Acara Haul di India, menanam kepala Kerbau, menyembelih Ayam putih/hitam, Khadam Asmaul Husna, Ajian penglaris, pengasihan dan lain-lain semua dibahas dan diuraikan satu persatu.

Untuk yang ingin memahami dan memperdalam agama Islam ada baiknya membaca buku ini karena buku ini bisa menambah wawasan kita dan mengusik hati nurani kita untuk mencari kebenaran sejati tentang apa yang kita yakini selama ini. Ada baiknya buku ini kita kaji dan renungkan tidak secara emosional, karena sebagai muslim kita harus senantiasa menjaga kemurnian ajaran Islam itu sendiri dan dengan bertambahnya wawasan dan ilmu yang kita miliki, maka kita akan semakin mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan akal dan hati nurani kita.
sumber:http://anniesabri.blogdetik.com/index.php/2010/07/15/mantan-kyai-nu-menggugat-sholawat-dan-dzikir-syirik/
=====================================================
AWAL MULA SHALAWAT BADAR

Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.

Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”.maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain.

Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima para tamu istimewanya tersebut. Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu saja Kiyai ‘Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorangpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu.

Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut. Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah mengundan para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yand diundang diantaranya ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan.

Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya. untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini teman2 milis MR dan teman temanku seiman dapat membaca buku yang berjudul “ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU” yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan. semoga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib yang berperan serta mempopulerkan Shalawat tersebut kepada kita kaum muslimin. Al-Fatihah..
sumber: http://agus-mustofa.blogspot.com/2009/04/awal-mula-shalawat-badar.html
=========================================================
tanggapan :
Terbukti jika Sholawat Badar tidak merupakan Ibadah Mahdhah (wajib) ataupun ghairu Mahdah (bukan wajib) yang memiliki kekuatan hukum syara’ untuk berIbadah ketika membaca atau melantunkannya namun sebagai sebuah karya sastra yang agung untuk dipelihara sepanjang masa…


Kemampuan Membaca Al Qur’an Mahasiswa Muslim

Mei 3, 2012

Di tengah gencarnya persiapan perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional ke 24 pada 8 juni 2012 nanti, kami sebagai pengajar mata kuliah agama Islam, terus berupaya memotivasi minat baca qur’an pada setiap pelajar terutama mahasiswa dalam mengenal lebih dalam tentang Al-Qur’an dan diskusi diseputar Studi Al-Qur’an agar mereka lebih paham dan lebih bisa menerima al-Qur’an tidak sekedar mengenal al-Qur’an sebagai simbol kitab suci terpercaya dari ummat Islam semata.
muncul sebuah keluhan bahwa ternyata tidak sedikit lulusan sekolah menengah bercirikan agama belum bisa membaca al Qur’an yang masuk diperguruan tinggi Negeri dan Swasta di kota Ambon. Persoalan ini menjadi sesuatu yang amat disesalkan. Semestinya lulusan sekolah menengah tingkat atas (SMA) sudah harus lulus baca al-qur’an atau dapat membaca dengan baik saja sudah cukup sebelum jauh memahami maksud kandungannya.
Entah bagaimana yang sebenarnya terjadi, tetapi mestinya ummat Islam, apapun tingkat pendidikannya harus selalu belajar membaca dan berusaha memahami al qur’an sepanjang waktu. Mempelajari al qur’an adalah fardhu ain. Artinya adalah wajib dijalankan oleh setiap muslim. Mempelajari al qur’an tidak boleh diwakilkan kepada orang lain.
Mempelajari al qur’an dan hadits dinyatakan sebagai fardhu ain, maka mestinya setiap muslim tanpa henti, ——hingga kapan saja, harus selalu mempelajari al qur’an dan hadits nabi. Kewajiban itu tidak mengenal batas waktu, artinya boleh berhenti pada saat berumur tertentu. Mempelajari al qur’an adalah harus dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Itulah sebabnya, maka al qur’an dipandang sebagai bacaan wajib bagi setiap muslim. Dan menjadi aneh misalnya, sebatas membaca saja, maka tidak dikuasainya.
Melihat kenyataan-kenyataan tersebut, rupanya pendidikan Islam perlu dikaji kembali. Selama ini, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pelajaran agama Islam diformat menjadi pelajaran tauhid, fiqih, akhlak, tasawwuf, tarekh dan Bahasa Arab. Memang ada pelajaran al qur’an dan hadits nabi, tetapi pelaksanaannya tidak sampai mendalam. Di sekolah dan bahkan di perguruan tinggi, Al Qur’an dan juga hadits nabi, hanya diperkenalkan beberapa ayat dan atau beberapa riwayat. Manakala siswa atau mahasiswa telah mampu membaca dan atau menghafal beberapa ayat yang ditentukan, maka diangap telah lulus.
Pelajaran yang diberikan sesuai kurikulum yang ditetapkan belum sampai berhasil mengantarkan para siswa mencintai al qur’an dan hadits nabi, dan bahkan sebatas mampu membacanya sekalipun. Oleh sebab itu banyak ditemukan lulusan sekolah menengah bercirikan agama dan bahkan lulusan perguruan tinggi agama belum mampu membaca al qur’an , dan apalagi mencintai sehingga menjadi bacaan wajib bagi mereka sehari-hari.
Sebagai pengajar saya selalu melakukan survey kecil agar tidak menjadi dongeng dan rumor di setiap kelas tentang penilaian membaca al qur’an, dengan beberapa kriteria yakni membaca dengan baik, kurang bisa membaca, cukup, dan kurang sekali bisa membaca (B, C, K, KS). Dan survey membuktikan di salah satu program studi di sebuah fakultas di kampus Islam swasta Ambon, tingkat kemampuan membaca al-qur’an dengan baik hanya 46%-66,66%, saja. Rupanya kewajiban membaca al-qur’an tidak lagi menjadi perhatian mahasiswa muslim saat ini, harus ada upaya untuk membina dan melakukan perbaikan kurikulum, dan sistem pembinaan terhadap pembelajaran terutama perkuliahan di tingkat akademik kampus. Dan hal ini juga merupakan tanggung jawab kita semua terutam keluarga dan para sahabat muslim, tentang tingkat pengawasan dan saling memotivasi untuk tidak menjauhi al qur’an.
Agar tidak dikenal dengan negeri yang menghadirkan al-qur’an sebagai formalisasi di tengah persiapa MTQ tingkat Nasional di Ambon.


Intisari Al-Ikhlas; (Q.S. 112 ; 1-4)

April 30, 2012

Ikhlasku Menerimamu wahai Zat yang tak terbatas..!

 

Katakan Muhammad dan Mu’minin bahwa Allah itu satu

Satu dalam Bentuk,  Zat dan kuasaNya yang tak terbatas

Katakan juga bahwa Diallah Allah yang maha menguasaimu

Meliputi seluruh alam semesta dan semua makhluk yang tak terbatas

 

Dialah Allah tempat kita bermohon dan Berlindung

Tempat berkeluh Kesah dikala sedih tak terbendung

Dikala bersuka dan bahagia sedang menjelang

Tempat memohon  ampunan di kala dosa dan khilaf datang

 

Allah-lah zat yang maha tinggi dan perkasa

Tidak memiliki putra dan anak dari sesiapa

Bukan pula mirip materi  atau benda abstrak apapun di dunia

Bersemayam di arasyi namun dengan urat leher kita

 

Jika  Berfikir laksana matahari yang  Abadi itulah Allah,

atau rembulan yang menerangi  malam itulah Allah,

kita telah keliru dan menilai kebesaran dan kekuasaan Allah.

Sebab tak ada sesuatupun yang setara dengan Allah…

Ambon, 1 Mei 2012…


Berapa Banyak Buku yang Bapak Tulis?

April 29, 2012

“Berapa Banyak Buku yang Bapak Tulis hingga saya bisa membacanya?”

Pertanyaan ini terngiang terus di telingaku, hingga kini, pertanyaan seorang Mahasiswa yang agak vokal di kelas membuat saya tersentak dan lagi-lagi akal-akalan saya muncul untuk mengalihkan pembicaraan, terus terang saya tidak siap dengan pertanyaan ini. Saya juga tidak tau jawaban apa jika hal ini ditanyakan kepada teman-teman dosen yang lain pasti muncul berbagai alasan, mungkin sibuk lah, gak ada waktu lah, dan lain sebagainya yang jelas pasti akal-akalan. baTukel-suda-mo  (istilah orang sini)

Untuk urusan Buku, kata teman-teman online di Jogja, Sby dan Malang, paling diterima, atau langsung ke penerbit,  ada ratusan penerbit yang bisa ditemui ketika pameran buku, ada yang bisa online bahkan tinggal kirim via mail, rasanya infonya masih tetap sama ketika sekolah dulu di Surabaya dan Malang banyak penerbit yang mau publikasi, namun kesulitan pasar, atau harus nombok berapa duit dulu baru bisa, padahal kalau saat ini saja ketika banyak memberi usul dan saran lewat microblog tweet, bisa langsung diterbitkan bukunya, karena banyak jaringan, banyak komunitas jadilah dia buku yang ber-ISBN.

Buku yang dimaksud bukan buku asal buku yang ber-ISBN, tapi buku yang dipakai oleh mahasiswa, dan sebagai curahan ide atas kompetensi keilmuan yang kita kuasai. Saya teringat ketika ponakan saya di pencinta alam unpati menerbitkan buku bersama komunitas pencinta alam, desember tahun lalu. Yang isinya merupakan isi catatan perjalanan dan kumpulan puisi serta cerpen yang diterbitkan penerbit lokal. Buku ber-ISBN juga Tapi bukan jenis Buku itu yang saya maksud. Sebab kalo jenis buku yang kayak gini gampangan terbit.

Memang benar ada wadah forum untuk penulis buku, mengirim buku teks untuk ikut dalam sayembara dikti (Hibah Penulisan Buku Teks dan Bahan Ajar), tapi karena kepangkatan dan urusan NIDN berlarut-larut, terlambat…lah sudah. Di Ambon ada beberapa penerbit yang sudah saya dekati, tetapi sekali lagi karena pendanaan dan bagi-bagi profit itu yang saya tidak kuat menanggungnya.

Untuk sekelas Jurnal dan terbitan Berkala ilmiah sebagai  tupoksi  penulisan seorang Dosen seperti nya sudah kemana-mana tulisanya, bahkan lebih mudah menulis di prosiding dan jurnal lokal dan nasional, (internasional belum nih) tinggal kirim ke ‘pengelola jurnal dan seminar yang mengundang call papaer “di mana-mana’ dan terbitlah jurnal ilmiahnya. Alhamdulillah juga saat ini  bisa mengelola jurnal sendiri (jurnal Pedagogika) yang ber-ISSN. Tapi sekali lagi, saya pengen Buku, buku dan Buku edisi lengkap.

Dulu sudah memulainya, dari memulung fakta, TTS (Tulisan-tulisan Sedikit), dari merancang Blog, Jurnal Online, bergabung dalam Komunitas penulis, sampai pada memutuskan untuk membuat Bahan Ajar ke Mahasiswa, sampai saat ini bahan ajarnya saya sebarkan gratis via blog dan tidak perlu mahasiswa Bayar seperti kebanyakan pengajar yang lain. Tapi sekali lagi bukan buku terbitannya…Ya Allah-ku berikan jalan untuk Terbitkan Buku tulisanku….

Tinggal sekarang mencari editor, hmmm anda termasuk editor?, kotak saya yah…Saya Pengen Buku yang disebarkan Gratis seperti orang-orang yang kebanyakan di dunia maya, urusan resmi dan tidak resmi (ISBN) kan gampang, yang penting tulisannya berkualitas dan bisa layak diuji (tak perlu dipuji) tinggal cari penerbit (ber-ISBN) dan bayar ongkos cetaknya dan terbit bukunya deh…. ini mah gampang…Kapan anda mengontak saya?


Mind Map dalam Perkuliahan Agama Islam

April 26, 2012

Apa itu Mind Map?

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.

Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.

Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan.

Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin.

Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik. Selanjutnya telusuri artikel berikut


Robohnya Masjid di Kota Kita?

April 26, 2012

Masjid sebagai institusi keagamaan telah hadir dan eksis sejak Islam itu berdiri, bahkan menjadi institusi yang paling lama bertahan di tengah bergantinya zaman ke zaman semenjak Islam diproklamirkan sebagai Agama dan peradaban. Meskipun dari segi bentuk fisik, ornamen serta tampilannya Masjid memiliki ciri khas yang disesuaikan dengan budaya tempatnya berada, namun dari segi fungsinya sebagai tempat ibadah terus bertahan hingga kini. Bahkan di era belakangan masjid tidak saja menjadi pusat peribadatan semata namun dikembangkan sebagai pusat kebudayaan masyarakat muslim, pusat-pusat pendidikan, pusat kajian ekonomi, balai kesehatan atau rumah sakit, kajian sosial kemasyarakatan bahkan bahkan menjadi sentra kajian politik Islam.
Sebagaimana fungsi dan kegunaannya, Masjid ketika pertama kali dikukuhkan tidak saja sebagai lembaga multifungsi di masa Rasulullah Saw, lebih dari itu Masjid menjadi satu-satunya epicentrum kebudayaan sekaligus ‘urat nadi’ perkembangan dan syiar Islam dari masa ke masa. Berkembangnya dan diterimanya atau tidaknya Islam di suatu tempat bisa diketahui dari masjid yang berada di tempat itu.


Sistematika ajaraan (Aqidah, Syariah dan Akhlak) dalam Islam

April 19, 2012

Aqidah adalah bentuk jamak dari kata Aqaid, adalah beberapa perkara yang
wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati, dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Aqidah dalam Al-Qur’an dapat di jabarkan dalam surat (Al-Maidah, 5:15-16) yg
berbunyi “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” “Dan agar orang-orang yg telah diberi ilmu meyakini bahwasannya Al-Qur’an itulah yg hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yg beriman kepada jalan yang lurus.” (Al-Haj 22:54)

Aqidah, syariah dan akhlak pada dasarnya merupakan satu kesatuan dalam ajaran Islam. Ketiga unsur tersebut dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Aqidah sebagai system kepercayaan yg bermuatan elemen-elemen dasar keyakinan, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Sementara syariah sebagai system nilai berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlak sebagai sistematika menggambarkan arah dan tujuan yg hendak dicapai agama.

Muslim yg baik adalah orang yg memiliki aqidah yg lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syariah yg hanya ditujukan pada Allah sehingga tergambar akhlak yg terpuji pada dirinya.

Atas dasar hubungan itu, maka seseorang yg melakukan suatu perbuatan baik,
tetapi tidak dilandasi oleh aqidah atau keimanan, maka orang itu termasuk ke
dalam kategori kafir. Seseorang yg mengaku beraqidah atau beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syariah, maka orang itu disebut fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syariah tetapi dengan landasan aqidah yg tidak lurus disebut munafik.

Aqidah, syariah dan akhlak dalam Al-Qur’an disebut iman dan amal saleh. Iman
menunjukkan makna aqidah, sedangkan amal saleh menunjukkan pengertian syariah dan akhlak.

Seseorang yg melakukan perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi aqidah, maka perbuatannya hanya dikategorikan sebagai perbuatan baik. Perbuatan baik adalah perbuatan yg sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, tetapi belum tentu dipandang benar menurut Allah. Sedangkan perbuatan baik yg didorong oleh keimanan terhadap Allah sebagai wujud pelaksanaan syariah disebut amal saleh.
Kerena itu didalam Al-Qur’an kata amal saleh selalu diawali dengan kata iman. antara lain firman Allah dalam (An-Nur, 24:55) “Allah menjanjikan bagi orang-orang yg beriman diantara kamu dan mengerjakan amal saleh menjadi pemimpin di bumi sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang dari sebelum mereka (kaum muslimin dahulu) sebagai pemimpin; dan mengokohkan bagi mereka agama mereka yg Ia Ridhai bagi mereka; dan menggantikan mereka dari rasa takut mereka (dengan rasa) tenang. Mereka menyembah (hanya) kepada-Ku, mereka tidak menserikatkan Aku dengan sesuatupun. Dan barang siapa ingkar setelah itu, maka mereka itu adalah orang-orang yg fasik”.

Sumber: http://muslimcianjur.blogspot.com/2007/04/aqidah-syariah-dan-akhlak-dalam-islam.html

Bagaimana Tanggapan Anda….?


Jaga dia salalu !

Januari 19, 2012

Liric song…

By : pakode
Selama ini dia, tak pernah ragu
Terima beban mu tanpa malu
Memikul tubuh mu tanpa tahu
Apa pun maksudmu…

Lalau kanapa, se biking Dia bagitu
Ale tanam benih, lalu se tar tunggu
Tega saja ale buang dia bagitu
Di mana se pung rasa sayang itu

Dulu Ale su bilang mangaku
Mau jaga dia deng sepenuh kalbu
Skarang baru katong tahu
Ale Laeng di hati, laeng di mulu
Reff..
Ale macam orang di tanjong itu
Di bilang seng di bilang, sama saja bagitu
Kanapa ale pung kalakuang seng bagus itu
Robah akang jua kanapa musti malu..

Jaga dia ini, se pung jantong hati, kanapa mesti malu,
Inga sumpah janjimu, par moyang-moyang dulu
Dengan harapan satu,..
Se rawat slalu, se Kalesang slalu, agar makmur, salalu..

Dia satu negerimu, Dia tumpah darahmu,
Dia tempat matimu…, Dia tanah leluhurmu…
Dia Nusa Ina mu..
—butuh aransemen baru, ditunggu ya-


Antara Pinggang dan Remuknya Pikiranku

Desember 30, 2011

catatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pinggangku dan pikiranku yang memang terkadang sakit secara jasmani…tetapi tentang masalah perjalanan melaksanakan tugas pokok di berbagai tempat, yang boleh anda ambil hikmahnya.

Catatan dari perjalanan seorang pengajar seperti saya, setelah beberapa waktu belakangn ini disibukkan untuk mengajar sana sini, di dalam negeri dan di luar negeri (kata orang ambon negeri itu kampung). Namlea (P. Buru), Tehoru (Maluku Tengah), Gale-gale (Maluku Tengah) dan kota Masohi (Maluku Tengah).
ternyata ada hal yang lebih penting dari semuanya yaitu tentang pentingnya me-manage (baca: mengatur) waktu agar tetap konsen dan lurus mengatasi berbagai masalah yang silih berganti datang.

Dari bagaimana mengatur waktu dengan keluarga, hingga mengatur waktu dengan relasi (teman sejawat) juga mahasiswa bimbingan yang wajib tidak boleh ditinggal lebih-lebih mengatur waktu dan qalbu (hati). Kesempatan demi kesempatan yang datang terkadang harus berjumpalitan (melompat sana-sini) untuk menyiasati waktu yang lowong, sebab jika telat sedikit saja, sudah ada orang yang berteriak-teriak di HP, ciut-ciut di Tweet (itu….alat komunikasi), dari Rumah dan dari Kampus. Terkadang dalam perjalanan lompat sana, lompat sini itu, saya sering senyum sendiri…untuk apa saya lakukan semua ini? jawabnya bukan karena DUIT…(koq bisa..!!)

Tentu bukan sekedar cari penghasilan tambahan, sebab Alhamdulillah, meski gaji bukan ratusan juta, tiap bulan kami dan keluarga tetap bisa makan sederhana dari hasil mengajar dan menjadi konsuler penulisan (jasa rental pengetikan) di luar jam kantor. bahkan terkadang berlebih…Alhamdulillah.

Tapi kenapa masih mau mengajar di atas 32 Jam per minggu siang dan malam?…InsyaAllagh hanya semangat berbagi tentunya…meski semua orang juga tahu bahwa kerja paruh waktu degan mengajar bukan penghasilan yang menjanjikan. jika alasan duit, saya masih bisa mendagangkan FOREX, Bisnis Online, jual barang lokal di internet, dan penghasilan tambahan online lainnya di internet dan tambahan lainya di rumah, jelas bukan duit yang saya cari….

Untuk hidup mewah dan serba ada jika sukses nanti, adalah impian semua orang tentunya, tapi tidak untuk saya dan keluarga, lihatlah rumah keluarga besar kami di kota Masohi sederhana, kadang atapnya bocor jika hujan… tapi orang tua dikenal warga punya banyak tanah di kota Masohi. Tapi bukan itu ukuran kebanggaan keluarga tentunya…

Yang saya warisi adalah hidup serba cukup saja, sudah merupakan kebanggaan dan suksesi tersendiri.
Apalagi bisa melihat orang lain tersenyum dan berbangga dengan usaha kita atas mereka.
Sebuah sekolah menengah atas (MAN SERAM)yang pernah kami rintis bersama beberapa tokoh di kota Masohi (Maluku Tengah) sejak masih swasta (thn 2004) sampai kini melejit dinegerikan, dan berkembang pesat, telah bermanfaat banyak bagi masyarakat kota masohi, ini kebanggaan tersendiri, meski dengan berat hati meninggalkan sekolah itu untuk mengajar pada perguruan tinggi, spirit perjuangannya tetap terjaga. Ada yang pernah berfikir bahwa keluarga kami terlibat korupsi dan sekolah, untuk apa? sob..Seandainya saja Kalau keluarga kami dengan Yayasan sekolah mau korupsi, akan gampang terlihat dari rumahnya yang akan megah. Buktinya dari sekolah masih swasta sampai kini dinegerikan, tidak ada yang berubah di rumah kami. Bahkan makanpun masih (kasuami/suami) sejenis parutan ubi yang dikukus, khas sulawesi tenggara. Tiga Kendaraan yang terparkir di depan Rumah itu pun sudah ada sejak 15 tahun lalu, dengan usaha mandiri.

Terbayang tentang Ilmu Komputer (TIK) yang diajarkan di sekolah (SMA) dulu (di Masohi) tidak banyak yang mau mengajarkan di sekolah dengan alasan bayaran murah, setelah saya ajarkan di beberapa sekolah SMA banyak repon positif dan banyak yang mengira bahwa saya lulusan sekolah komputer, padahal lulusan sekolah ngaji (IAIN) tetapi ditengah keterbatasan dan hanya berbekal semangat mengajar kini mereka paham sendiri ternyata komputer (juga penting) selain main game dan Facebook.

Demi Allah, semua ini semata-mata untuk mengetuk pintu Do’a hingga menembus Arasy-nya Allah, dan alhamdulillah…terbukti do’a apa saja, selalu diqabulkan, jika belum saat ini ..mungkin Allah juga tahu, belum terlalu dibutuhkan saat ini.
Do’a syafaat kepada Rasulullah dan Sahabat, para Ulama dan Ustad serta guru-guru kami, Do’a dari keluarga yang sehat, cukup rejeki, orang di sekitar tenteram, teman-teman senang, orang kantor aman, keluarga besar nyaman, inilah do’aku selama ini.
Do’a lain, dikaruniani keturunan, keluarga yang selalu mau mengerti, dan do’a miliki rumah sendiri yang nyaman. Meski sederhana, orang Ambon kata ‘busu-busu rumah sendiri’ dah berdiri agak kokoh untuk konstruksi yang InsyaAllah tahan gempa.

Dengan dibangunnya rumah yang kini saya tempati, Saya ingin beri pelajaran saja kepada banyak orang bahwa
tidak perlu korupsi sana-sini, mengintimidasi relasi, apalagi memanfaatkan teman, satu lagi…memperdayaia mahasiswa bimbingan….(nauzubillah)
Mencapai sukses kecil tidak perlu bersembunyi di balik topeng, beralih status ‘pura-pura baik’ (munafik) atau jadi perampok dan koruptor serta penipu (dulu) atau jadi bosnya dosen (DEKAN) atau bapaknya dosen (REKTOR) untuk dapatkan sesuatu, toh di antara mereka sangat berpotensi melegalkan jalan tak bagus untuk meraih kepentingan sesat dan sesaat.

Dengan jalan disiplin dan sabar masih banyak jalan halal, cuman banyak yang tidak mau dan tidak sabar.
pelajari intisari surat Al-Ashr : 1-3 (QS.103) Sholat dan bersabar….anda akan temukan maknanya. Di antaranya bagaimana mengatur waktu dengan tetap bersabar. Semuanya akan ada hasilnya. ditambah dengan Usaha halal dan DO”A..sob, dengan keduanya semuanya bakal tercpai. pengalaman saya moga menjadi pelajaran bagi anda, pokoknya Anda tinggal minta saja tak tahu dari mana saja pertolongan dan rejeki itu datang. pokoknya tinggal mengeluh pada Allah Swt (Tuhan yang saya sangat percaya) apa saja diberi. Bahkan mungkin kalau ingin jadi presiden pun insyaAllah dikabulkan…hehehe…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.